
Jessy dan Manajernya tiba di kapal pesiar mewah malan itu, bersama para kru dan juga dengan model lain. Mereka di bawa oleh pelayan menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat sebelum melakukan pemotretan esok hari. Saat Jessy membuka pintu kamarnya, suasana kamar yang temaram membuatnya merasa rikeks. Begitu juga dengan dekorasi kamar yang terkesan mewah. Tak heran harga sewa untuk satu malam di kapal pesiar ini bisa mencapai ratusan dolar Amerika.
Jessy memutuskan untuk membersihkan diri dan bergegas mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah karena seharian berkendara. Tak butuh waktu lama untuk gadis cantik itu menuju alam mimpi, karena matanya yang memang sudah sangat terasa berat. Jessy bahkan melewatkan makan malam pertama dengan teman-temannya di kapal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di sebuah rumah mewah milik keluarga Bryan Strom, Emy beserta kedua orang tuanya tiba di perayaan ulang tahun Tuan Bryan Strom yang ke 56 tahun yang diadakan secara sederhana dan di hadiri oleh beberapa kerabat saja. Termasuk juga keluarga Emy yang akan menjadi menantu di keluarga itu kelak.
"Selamat ulang tahun Tuan Bryan, semoga Anda sehat selalu."
"Terimakasih Emy, kau sangat cantik malam ini."
Emy tersipu atas pujian yang diucapkan oleh Tuan Bryan, ia melirik ke arah Edward yang tersenyum ke arahnya.
"Ayo kita berbincang di dalam." Ucap Nyonya Bryan yang merangkul pundak Emy dan membawa gadis itu ke meja makan.
Di sana sudah ada beberapa orang yang lebih dulu hadir, kemungkinan mereka adalah saudara dari Tuan Bryan. Emy beserta kedua orang tuanya menikmati makan malam itu dengan sesekali berbincang hangat.
"Bagaimana dengan sahabatmu yang menghilang itu? Apakah sudah ada kabar?" Pertanyaan dilontarkan oleh Tuan Bryan dan membuat Emy bingung, bagaimana bisa orang ini mengetahui mengenai kabar Quinsy yang sudah menghilang.
" Edward sering menceritakan kedekatan kalian sewaktu di kampus. Dia mengatakan semenjak salah satu sahabatmu itu menghilang, kau pun terlihat murung."
Emy tersenyum canggung, ada rasa bahagia yang begitu besar dalam diri Emy. Rupanya calon suaminya itu selalu menceritakan dirinya kepada kedua orang tuanya. Hal itu membuat pipi Emy bersemu merah.
"Kami sudah menemukan keberadaannya. Dia di bawa pulang oleh kedua orang tuanya kembali ke negara asalnya."
__ADS_1
"Benarkah? Lalu bagaimana keadaannya kini?" Tanya Edward antusias. Bahkan pria itu sampai membuat kedua orang tuanya menatap tajam ke arahnya.
"Ehkem..!" Dehem Tuan Bryan yang merasa canggung akan pertanyaan putranya.
"Aku belum tau pasti bagaimana kabar Quinsy saat ini, tapi aku, Sonya dan Jessy akan mengunjunginya tiga hari lagi."
Tak ada lagi pembicaraan setelah itu, hanya ada dentingan sendok dan garpu yang mengisi meja makan hingga mereka telah selesai. Usai makan malam, Edward membawa Emy ke taman belakang rumahnya untuk membicarakan masalah Quinsy lebih jauh lagi. Sebab akan sangat sulit mengorek informasi bila masih bersama dengan orang tuanya di dalam.
Emy mengikuti langkah Edward di belakang sembari tersenyum-senyum sendiri. Mereka berhenti di bangku panjang yang berhiaskan lampu terang di sisi kiri dan kanannya pada taman tersebut.
"Duduklah!"
Emy mengangguk dan duduk di sisi Edward, taman itu di penuhi dengan bunga-bunga yang cantik, menambah kesan romantis pada tempat itu.
"Emy, apakah kau mengetahui hal apa yang menimpa Quinsy hingga ia di bawa pulang kembali oleh orang tuanya?"
"Bisakah kau menceritakannya padaku?" Pinta Edward seraya menatap mrnatapdalam mata Emy. Tatapan itu penuh dengan pengharapan dan membuat siapapun tidak mampu untuk menolaknya, untung saja Emy segera tersadar dari hipnotis yang di berikan oleh pria di hadapannya itu, jika tidak mungkin kini ia telah bercerita panjang lebar mengenai Quinsy pada Edward.
"Maaf, aku tidak bisa. Karena ini menyangkut masalah pribadi keluarga Quinsy."
Edward nampak kecewa, ia sangat ingin mengetahui hal apa yang menimpa gadis cantik pujaannya itu. Namun sepertinya, Emy adalah sahabat yang setia, ia tidak ingin membocorkan masalah yang menimpa Quinsy. Hal itu membuat Edward makin yakin, bila pasti telah terjadi hal buruk pada gadis itu saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Jessy terbangun dan bersiap untuk melakukan pemotretan. Manajer darinkapal pesiar itu menunjukkan tempatnya melakukan pemotretan siang ini. Pemotretan pertama akan di lakukan di bagian tepi kolam renang yng menghadap ke laut. Dan di susul dengan pemotretan dalam beberapa tempat lain, hingga akhirnya mereka break sejenak untuk beristirahat.
__ADS_1
Jessy duduk di bawah payung besar dan menikmati segelas soda yang di siapkan oleh kru. Hingga ada seorang pria bertubuh tambun yang terlihat lebih tua dari ayahnya.
"Selamat siang Nona Jessy, saya adalah Mr. Rodolfo yang memiliki studio foto terbesar di kota New York ini. Bisakah kita bicara sebentar?" Ucap pria itu seraya mengulurkan tangan dengan tatapan menjijikkannya.
Namun Jessy tetap tersenyum ramah pada pria tua itu dan menyambut uluran tangan tersebut.
"Selamat siang Mr. Rodolfo, senang bertemu dengan Anda. Adakah yang bisa saya bantu?"
"Begini, aku melihat bakat model dan aura bintang besar yang terpancar dari diri Nona Jessy. Jadi aku berniat untuk mengajakku untuk masuk dalam naungan perusahaanku."
Jessy tau perusahaan itu adalah perusahaan permodelan dan fotografi yang sangat besar dan sudah banyak melahirkan model terkenal di seluruh mancanegara. Tapi, ia tidak menyetujui tawaran dari Mr. Rodolfo itu, ia tau tidaklah mungkin dia yang hanya model baru bisa masuk ke dalam perusahaan sebesarvitu dengan mudah. Jadi Jessy ingin mencari tau maksud utama pria tua ini sebenarnya dengan berpura-pura antusias akan tawaran tersebut.
"Benarkah? Tentu saja aku mau, tapi apakah tidak ada persyaratan yang harus aku ikuti bila ingin bergabung dengan perusahaan Anda?"
Melihat keantusiaan Jessy, Mr. Rodolfo tersenyum miring. Ia pikir sudah bisa menjebak seorang gadis muda berparas cantik itu, hanya dengan iming-iming murahan yang keluar dari mulut busuknya.
"Tidak, kau hanya perlu menandatangani surat perjanjian. Masalah lainnya biar aku yang bereskan, asalkan kau mau menemani mengobrol malam ini."
'Kena kau pria tua cabul! Rupanya inilah tujuan utama mendekati ku? Cih, jangan pernah bermimpi bisa membodohiku dengan trik kotoran ini.' Batin Jessy bergumam.
Gadis itu menyibak helaian dress yang menutupi bagian kakinya dan menampilkan paha putih mulus miliknya. Ia mulai bertingkah layaknya gadis genit yang akan menyerahkan diri pada pria tua itu.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...
__ADS_1
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJA AUTHOR....
^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga votenya ya...^^^