
"Kau sudah puas memandangi wajah tampan suamimu ini?" Tanya Glen dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kau,kau sudah bangun?" Tanya Quinsy gugup karena kedapatan sang suami tengah memandangi wajahnya.
"Belum, aku masih bermimpi. Dan dalam mimpi ku ini, aku melihat seorang bidadari cantik berbaring dan tersenyum padaku. Andaikan saja, mimpiku ini bisa menjadi kenyataan."
Quinsy memalingkan wajahnya sambil menahan senyum. Hanya sedikit ucapan manis Glen, telah dapat membuat hatinya begitu berbunga-bunga. Namun ia teringat ucapan suaminya di telpon kemari malam. Bila pria itu akan kembali ke Indonesia malam ini.
'Lalu bagaimana bisa ia sekarang ada di sini? Atau jangan-jangan, ini adalah mimpi?' Batin Quinsy bertanya-tanya. Gadis cantik itupun memastikan darinya saat ini bila tidak sedang bermimpi dengan bergegas ke kamar mandi dan mencuci wajah dengan air dingin. Ketika ia merasakan dinginnya air yang keluar dari mulut keran, Quinsy akhirnya yakin bila smuanya nyata. Ia kembali lagi ke kamar dan mencari keberadaan Glen di tempat tidur.
"Ada apa?" Tanya Glen yang tidak mengerti akan tatapan Quinsy padanya.
"Kapan kau tiba? Bukankah kau mengatakan bila dirimu baru akan samapi malam ini?"
"Apakah kau tidak menyukai kehadiranku di sini?"
"Bukan, kau tau itu bukan maksudku."
Glen bangkit dari ranjang dan menghampiri Quinsy. Ia membawa gadis itu ke atas pangkuannya. Perlahan, Glen menyibakkan rambut hitam Quinsy yang menutupi leher jenjangnya ke belakang. Glen menempelkan hidungnya di ceruk leher Quinsy dan menghirup aroma tubuh gadis itu yang membuatnya kecanduan.
"Aku sangat merindukanmu," Bisik Glen lirih di telinga Quinsy, membuat gadis muda itu membuka dan menutup kedua matanya karena geli.
__ADS_1
"Ah.." desis Quinsy singkat mencoba menahan suaranya. Ada gelenyar aneh yang terjadi pada tubuhnya tiap kali Glen melakukan itu. Dan sebagai pria normal, desisan Quinsy seakan membakar jiwa lelakinya yang sudah lama terpenjara.
Dengan nakalnya, Glen mulai m3ncumbu1 cuping telinga Quinsy hingga ke bagian leher gadis itu. Menikmati setiap senti kulit Quinsy yang begitu manis laksana madu. Sedangkan dirinya adalah kumbang perkasa yang telah lama mencari jalan untuk mengambil madu itu. Perlakuan Glen, membuat otak Quinsy membeku. Ia mulai terbuai akan setiap k3cup4n lembut suaminya. Bahkan tubuh Quinsy seakan menuntut hal yang lebih dari ini hingga satu ******* lolos begitu saja.
"Ah...!"
Glen berhenti dan menatap mata hitam Quinsy, mata birunya bagaikan ombak lautan yang nampak indah namun juga menghanyutkan.
"Bolehkah aku meminta hak ku?" Tanya Glen dengan suara dalam. Ia adalah pria normal yang dapat merasakan hormon libidonya tengah bergejolak saat ini. Namun, Glen tidak ingin memaksa Quinsy seperti dulu dan membuat gadis itu kembali membenci dirinya.
Quinsy tersadar dari buaian Glen dan teringat akan kejadian pertama kali pria itu menyentuhnya dulu. Masih teringat dengan jelas rasa sakit dan trauma dalam benaknya. Namun, Quinsy juga terharu pada kesabaran Glen dalam menuruti dan juga menjaga dirinya semasa hamil. Pria itu bahkan rela bersusah payah untuk bolak-balik Jakarta-New York, hanya agar dirinya dapat memenuhi keinginan Quinsy yang biasa muncul tiba-tiba di tengah malam.
Bagaikan mendapat durian runtuh, Glen amat bahagia malam ini. Setelah berpuasa selama berbulan-bulan, akhirnya ia saat kembali merasakan manis madu gadis tercintanya.
Pria itu pun mulai m3lum4t b1b1r ranum Quinsy dan membaringkan tubuh mereka ke atas ranjang. Satu per satu ia menanggalkan p4k414n dari tubuh mereka, hingga dapat ia lihat dua benda kenyal yang selalu menggoda imannya tiap kali. Glen benar-benar menikmati setiap inci 7ubuh Quinsy dengan b1b1r dan lidahnya. Ia terus mencium, m3nj1l4t, dan m3ny3s4p kulit tubuh Quinsy hingga tiba di put1ng pink gadis itu.
"Ah...!"
Lagi-lagi 3r4ng4n lolos begitu saja dari b1b1r mungil Quinsy. Ia benar-benar terlena akan perlakuan Glen padanya. Hingga ia tak dapat lagi menahan dirinya dan meminta Glen untuk segera melanjutkan ke tahap yang lebih 1nt1m.
"Plis," Ucap Quinsy setengah berbisik. Tenggorokannya seakan kering, ia benar-benar membutuhkan air yang dapat menyejukkan tubuhnya saat ini.
__ADS_1
Glen mulai meluncurkan serangan kebagian s3ns1tif Quinsy dengan torpedo besar miliknya. Jalan yang baru pertama kali dirintisnya itu masih sangat sempit dan butuh banyak usaha untuk mencapai tujuannya. Quinsy masih merasakan sakit di area b4w4hny4 ketika Glen mulai memasukkan **nya. Gadis itu bahkan meneteskan bulir bening saat Glen menelusupkan senjata tumpul itu ke l14ng padat miliknya.
Hingga setelah perjuangan panjang yang Glen lakukan, akhirnya ia berhasil menancapkan tombak kebanggaan miliknya di tanah subur Quinsy. Perlahan-lahan, ia memulai pergerakan lembut, agar gadis itu terbuai dan melupakan rasa sakitnya. Glen memang belum mahir dalam hal ini, namun insting kej4nt4n4nny4 mampu menuntun mereka menuju jurang kenikmatan.
Rasa sakit yang semula menyiksa, perlahan-lahan digantikan dengan rasa nikmat yang membuat kepala Quinsy terasa pening. Ia bagai tengah melayang di udara hingga tak ingin mengakhiri petualangan menarik ini. D3s4h4n demi d3s4h4n bersahut-sahutan dari kedua insan yang tengah mengarungi bahtera surgawi. Hingga keduanya tiba di puncak yang mengantarkan badai k3nikm4t4n pada mereka.
Glen bahkan sampai meracau, merasakan deburan ombak yang akan segera menggulung dirinya. Begitu juga Quinsy yang berpegangan erat pada 8okon9 Glen seraya membantu mempercepat pergerakan pria itu.
"Aaahk...!" Erang keduanya setelah mencapai titik k3pu4s4n bersama.
BERSAMBUNG....
Kali ini author ajak kalian traveling otak dulu ya...
mohon dimaklumi untuk penggantian huruf jadi angkanya, Soalnya kalau nggak kayak gitu Bisa nggak lulus...
**Seru gak???
Kalau kurang seru, ayo kita seru seruan di episode selanjutnya...
Jangan lupa like dan komennya ya...**
__ADS_1