TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
NGIDAM SATE


__ADS_3

Ke empat gadis remaja itu saling bertukar cerita dengan penuh canda tawa di dalam kamar. Kehadiran ketiga sahabatnya mampu membuat Quinsy jauh merasa lebih baik. Tingkah konyol Emy dan Sonya, serta sikap dewasa Jessy yang sudah seperti Kakak baginya walaupun sebenarnya mereka seumuran, adalah hal yang paling Quinsy rindukan selama di Indonesia. Dan kini semua terbayarkan sudah, dengan kehadiran ketiga sahabatnya itu di rumahnya.


Tok..tok..tok...


Suara pintu diketuk, dan muncullah Nyonya Karren dari balik pintu dengan senyum ramahnya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengajak Quinsy beserta teman-temannya untuk makan malam bersama.


"Quinsy, ayo ajak temen-temennya makan malam. Mereka pasti laper setelah perjalanan jauh di pesawat." Ujar Nyonya Karren pada putrinya, dan berlalu pergi.


"Cepat bersiap, kita akan makan malam bersama." Ajak Quinsy pada ketiga sahabatnya.


Meja makan keluarga Karren saat ini di penuhi oleh tamu-tamu asing yang akan menjadi sebuah keluarga di masa depan. Di sisi meja sebelah kiri, telah berada Nyonya Karren, Nyonya Hemsworth dan ketiga anggota keluarga Karren yang lain, yaitu Miguel yang hadir bersama istri juga putri kecilnya. Sedangkan di sisi meja sebelah kanan, ada Tuan Hemsworth beserta putra dan calon menantu dan juga ketiga gadis muda lain, yang tak lain adalah sahabat Quinsy sendiri. Sedangkan Tuan Karren selaku Tuan rumah duduk di kursi tengah.


"Berapa lama kalian akan berada di Indonesia?" Tanya Tuan Karren pada Emy, Sonya, dan juga Jessy.


"Mungkin sampai acara pernikahan Quinsy dan Glen telah dilaksanakan. Kebetulan masa kami juga masih sangat panjang, jadi masih dapat menghadiri acara mereka." Jawab Emy dan diangguki oleh kedua sahabatnya.


"Baguslah, setidaknya kehadiran kalian di sini dapat mengurangi nerfus yang Quinsy rasakan." Jawab Nyonya Karren.


"Ya kau benar Lia, pasti Quinsy akan merasa sangat tegang nanti saat acara pernikahan mereka telah tiba." Timpal Nyonya Hemsworth lagi. Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan sensasi mendebarkan di saat pesta pernikahan berlangsung, Nyonya Hemsworth dan juga Nyonya Karren pasti tau itu juga akan terjadi pada Quinsy.


Sedangkan Miguel yang memasang raut wajah tak bersahabat hanya diam dan menikmati makan malamnya. Kedua orang tuanya tau ketidaksetujuan putra sulung mereka itu pada pernikahan Adik bungsunya. Namun, mereka tidak dapat menghentikan semua ini, terlebih lagi Quinsy yang telah mengandung benih penerus keluarga Hemsworth dan tidak tanggung-tanggung, Quinsy bahkan telah mengandung dua sekaligus. Ya, walau harus diakui bila kehadiran bayi-bayi itu adalah sebuah kecelakaan, tapi tetap saja mereka adalah keturunan dari kedua belah pihak keluarga besar.


Makan malam berakhir, semua kembali ke kamar masing-masing. Berbeda dengan Quinsy yang merasa sedikit gerah setelah makan malam tadi, ia memutuskan untuk mencari angin segar di taman belakang. Hembusan angin lembut yang menerpa wajah cantiknya membuat rambut Quinsy melambai-lambai.


Suasana malam yang berhiaskan jutaan bintang di langit, mampu menambah kenyamanan Quinsy di tempat itu. Ia bahkan hampir tertidur andai saja Glen tidak datang dan memberikan sebuah selimut padanya.


"Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, kau bisa sakit bila terlalu lama berada di luar."

__ADS_1


"Di sini sangat nyaman, aku sudah lama tidak menikmati malam yang cerah seperti ini sejak,-" Perkataan Quinsy menggantung, ia teringat kembali akan almarhum kekasihnya. Namun Glen masih menunggu kelanjutan cerita Quinsy dengan tatapan sendu.


"Lupakanlah!" Ucap Quinsy dan kembali memejamkan mata. Hal itu tentu saja membuat Glen merasa bingung akan perubahan sikap Quinsy begitu cepat.


"Bisakah kau menemaniku mencari sate?"


"Sate? Apa itu?" Tanya Glen, ia tidak pernah mendengar nama yang aneh semacam itu sejak lahir.


'Apakah itu nama binatang? Atau sebuah benda?' Tanya Glen dalam hati.


"Itu adalah nama makanan khas Indonesia, rasanya sangat enak. Em, aku jadi tidak sabar untuk mencicipinya." Jelas Quinsy yang hampir saja meneteskan air liur saat membayangkan rasa lezat pada bumbu kacang.


Glen jadi penasaran dengan makanan yang bernama sate itu, ia pun setuju ikut bersama Quinsy untuk mencari sate dengan menggunakan mobil. Hingga tibalah mereka di sebuah pinggir jalan dengan banyak pedagang yang menggunakan gerobak dorong berjualan beraneka ragam makanan.


Quinsy turun dari mobil dan menghampiri salah satunya.


"Siap Neng!" Jawab penjual sate itu dan langsung membakar dua puluh tusuk sate di atas bara api.


Glen turun dari mobil dan menyusul Quinsy yang telah duduk manis di atas kursi plastik dekat penjual sate. Aroma bumbu sate yang menguar diudara membuat perut Quinsy makin meronta-ronta untuk segera menikmati kelezatan makanan tersebut.


"Apa yang kita lakukan di sini?" Tanya Glen yang masih belum paham mengapa mereka duduk di tempat yang terlihat kurang bersih baginya.


"Makan." Jawab Quinsy singkat sambil menatap lekat ke arah paman sate yang tengah mengipas dan membolak-balikan sate pesanannya.


"Apa! Makan? Tidak, tidak! Tempat ini sangat jorok!" Tutur Glen dan ingin menarik lengan Quinsy.


"Sssst!!! Diamlah! Sebentar lagi satenya akan matang, kau jangan menggangguku lagi." Tegas Quinsy dan menepis tangan Glen saat melihat paman sate mengantarkan pesanannya.

__ADS_1


"Tapi-"


Hap!


Quinsy memasukkan potongan sate ke mulut Glen dan menutup mulut pria itu menggunakan kedua tangannya.


"Kunyah!" Titah Quinsy dengan mata melotot dan mau tidak mau di turuti oleh Glen. Kini Glen tau mengapa Quinsy sampai begitu antusiasnya untuk menunggu makanan yang bernama sate itu. Rupanya sara daging bakar yang di bubuhi dengan bumbu kacang ini terasa begitu enak.


"Bagaimana? Enak?"


Glen mengangguk dan mengambil beberapa tusuk lagi, pria itu nampak sangat menikmati makanan yang bernama sate itu. Quinsy pun tersenyum puas kala melihat bule di sisinya begitu lahap memakan sate pesanannya. Bahkan Glen memesan lagi sate itu menggunakan bahasa Inggris yang sudah pasti tidak di pahami oleh si paman penjual sate. Tapi untungnya ada Quinsy yang hadir sebagai penerjemah di antara keduanya.


"Sate buatanmu ini sangat enak! Aku rasa kau cocok menjadi chef di sebuah restoran mewah." Puji Glen yang membuat si paman penjual sate ternganga. Quinsy tertawa terbahak-bahak sebelum mulai menjelaskan maksud Glen pada paman sate itu.


"Dia bilang, sate yang amang buat enak. Amang bisa jadi koki di restoran bintang lima, katanya" Tutur Quinsy menjelaskan, dan kini giliran si paman penjual satelah yang tertawa.


BERSAMBUNG....


...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...


...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN AUTHOR....


^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^


^^^votenya ya...^^^


^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^

__ADS_1


Iā™”U READER'S...šŸ˜™šŸ˜™.


__ADS_2