TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
NGIDAM PERTAMA


__ADS_3

Quinsy hari ini melakukan pemeriksaan kandungan bersama sang Ibu, Quinsy awalnya enggan untuk pergi namun, Nyonya Karren bersikeras untuk membawa outrinya itu ke Dokter kandungan. Ia berharap, setelah Quinsy melihat janin yang ada di dalam perutnya saat ini akan dapat menggerakkan sisi ke Ibunya dan membatasi gadis itu mau menerima buah hatinya dengan iklas.


Dari kejauhan Glen diam-diam mengikuti mereka, ia juga ingin menyaksikan tumbuh kembang buah hatinya walau dari kejauhan saja.


Baginya saat ini kesehatan Quinsylah yang harus di utamakan lebih dulu, ia yakin suatu saat nanti Quinsy dan dirinya akan bersatu dan membesarkan anak mereka bersama-sama.


Seorang Dokter wanita tiba di ruang USG dan mengoleskan gelar ke atas perut Quinsy yang masih terlihat datar.


"Wah, bayi Anda kelihatannya kembar Nona, bisa kita lihat di sini ada dua buah bulatan kecil."


Mata Quinsy tak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan dua buah kehidupan di dalam rahimnya saat ini. Dan benar saja, harapan Nyonya Karren membawa Quinsy ke tempat ini terwujud. Sisi ke Ibuan Quinsy pun muncul, ia merasa ingin melindungi dua nyawa yang tumbuh di dalam rahimnya saat ini.


"Apakah mereka bayi-bayiku Mah?"


"Ya sayang, mereka adalah bayimu, sekaligus juga Cucu-cucu Mamah. Mereka akan menghiasi harimu dengan langkah kecil dan tawa manis."


"Mah, apa Quinsy boleh membiarkan mereka tumbuh?" Pertanyaan dari Quinsy membuat Nyonya Karren senang bukan main. Bahkan mata tua wanita itu sampai mengeluarkan butiran bening yang mengalir di pipinya.


"Tentu sayang! Tentu! Mamah akan selalu mendukungmu."


Quinsy kembali menatap layar monitor dan memandang takjub ke sana. Ia tak menyangka, di dalam rahimnya kini tengah tumbuh dua buah kehidupan yang akan memanggilnya Mamah kelak.


Percakapan antara Quinsy dan Nyonya Karren terdengar langsung di telinga Glen yang sedang berdiri di sudut ruangan dengan menggunakan pakaian ala Dokter. Ia telah bekerja sama dengan orang tua Quinsy dan para Dokter untuk menjaga mental Quinsy namun masih tetap bisa melihat langsung perkembangan bayinya.


'Terimakasih sayang, kamu sudah mau menerima buah hati kita. Maafkan aku yang membuatmu menderita dan menghadirkan mereka dengan cara yang salah.' Batin Glen yang ingin sekali berlari memeluk tubuh Quinsy dan mengecup seluruh wajah gadis yang telah mengandung anak-anaknya saat ini. Namun ia sadar, itu hanya akan memperburuk suasana dan membuat wanita yang uang cintai kembali ketakutan.


Pemeriksaan pun berakhir, Nyonya Karren membawa Quinsy pulang dan diikuti oleh Glen dari jauh.


Di tengah jalan, Quinsy melihat pedagang buah yang menjual mangga muda, tiba-tiba saja ia sangat ingin memakan itu.


"Mah, mangga muda di rujak kayanya enak deh, kita beli ya?"

__ADS_1


"Kamu ngidam sayang?" Nyonya Karren yang sudah berpengalaman dalam hal hamil dan melahirkan tentu saja tau bila putrinya saat ini tengah mengidam.


"Enggak tau Mah, tiba-tiba pengen makan itu aja."


"Ya udah, kita beli dan nanti bikin di rumah ya? Pak tolong berhenti di depan!"


"Ia Nya," Jawab supir pribadi keluarga Karren dan mencari tempat parkir yang nyaman.


Begitu banyak ga dengan mobil yang di tumpangi oleh Glen, ia ikut berhenti walau tidak tau mengapa.


"Kenapa mereka berhenti di sini?" Tanya Glen penasaran. Tak lama, Nyonya Karren dan Quinsy turun kemudian menghampiri seorang pedagang buah.


Nyonya Karren terlihat membeli beberapa buah-buahan mangga yang masih mentah dan membawanya kembali ke dalam mobil.


Setelah membeli buah, mereka kini telah tiba di kediaman Karren. Nyonya Karren pun menyuruh putri bungsunya itu agar langsung ke kamar untuk beristirahat.


"Nanti Mamah akan bawakan rusaknya ke kamar kamu kalo udah siap, ok?"


Laki-laki tampan itu berjalan cepat seperti maling dan mengikuti langkah calon Ibu mertuanya menuju dapur.


"Ini adalah ngidam Quinsy yang pertama, dia inginmemakan rujak buah." Tutur Nyonya Karren menjelaskan. Ia tau saat ini Glen pasti sedang bertanya-tanya mengapa wanita paruh bayar itu membawanya ke dapur.


Mendengar penjelasan dari Nyonya Karren barusan, Glen sangat antusias dan menyodorkan diri untuk membuat makanan yang bernama rujak itu, walau tidak tau bagaimana cara dan bentuk dari makanan yang di inginkan oleh Quinsy tersebut.


Dan dengan bantuan dari Nyonya Karren, Glen dapat menyajikan rujak untuk gadis tercintanya. Nyonya Karren membawa rujak itu ke kamar Quinsy. Sedangkan Glen mengikuti hingga depan pintu kamar gadis itu untuk mendengar langsung tanggapan Quinsy mengenai makanan yang ia buat.


"Sayang! Nah, rujak yang kamu minta, coba dulu."


Wajah Quinsy berbinar menyambut rujak yang di bawakan oleh Ibunya. Dan suapan pertama benar-benar membuatnya puas. Ia bahkan dengan lahap memakan rujak itu.


"Gimana? Enak ga?"

__ADS_1


"Em...! Enak banget Mah, makasih ya buat rujaknya."


"Ya udah, kamu makan aja, Mamah mau ke bawah dulu buat siapin makanan siang."


Nyonya Karren keluar dari kamar putrinya dan menutup pintu itu kembali. Di sana ia telah di sambut oleh Glen dengan raut penasaran.


Nyonya Karren tersenyum dan memegang pundak Glen lembut seraya berkata "Dia menyukai rujak buatanmu."


Glen merasa sangat bangga pada dirinya karena sudah mampu memenuhi keinginan gadis yang ia cintai dan calon anak mereka.


Mereka pun turun dan Glen pamit untuk kembali ke apartemennya. Nyonya Karren ingin sekali mencegah dan mengajak pria muda itu untuk makan siang bersama. Tapi itu sepertinya sangat tidak mungkin sebab, putrinya masih belum bisa menerima kehadiran Glen di sisinya.


Saat makan siang siap, Quinsy turun dan ingin ikut makan bersama kedua orang tuanya. Namun baru saja ia masuk ke area dapur, perutnya kembali mual. Quinsy bergegas berlari ke dalam toilet dan memuntahkan rujak yang dia makan tadi.


Nyonya Karren mengikuti putrinya dan memijat lembut pundak gadis itu. Untungnya Quinsy kini tidak lagi menangis histeris setelah memuntahkan makanannya. Mungkin karena dia sudah mencoba untuk menerima kehamilannya.


"Udah enakkan?" Tanya Nyonya Karren seraya membantu Quinsy bangkit.


"Ia, Quinsy mau ke kamar aja."


"Ya udah, nanti mamah coba buat wedang jahe buat ngurangin mual kamu sama bawain makanan lain."


Quinsy mengangguk dan kembali ke kamarnya untuk menghindari aroma yang tidak enak dari dapur.


BERSAMBUNG....


...**CERITA INI HANYALAH FIKTIF DAN KARANGAN BELAKA!...


...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT DAN YANG LAINNYA ITU HANYALAH KEBETULAN SEMATA!...


mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen juga votenya ya**...

__ADS_1


__ADS_2