TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
MASA LALU DAN MASA DEPAN


__ADS_3

"Aku mau semuanya telah siap minggu depan. Pastikan semua tamu yang hadir adalah orang-orang penting." Ucap Nyonya Hemsworth pada seseorang di ponselnya. Wanita paruh baya yang ikut menggeluti dunia bisnis dan selalu aktif dalam kegiatan sosialita itu, ingin mengadakan acara pesta penyambutan untuk menantunya. Sekaligus juga, memamerkan Quinsy pada teman-teman sosialita yang selalu mempertanyakan tentang pernikahan Glen.


"Kali ini aku akan membuat kalian iri padaku karena telah memiliki menantu yang begitu muda dan cantik." Gumam Nyonya Hemsworth pada dirinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan di sini Mom? Bukankah kau seharusnya menemani Quinsy dan teman-temannya?" Tanya Tuan Hemsworth yang membuat istrinya terjingkat kaget.


"Daddy! Kau membuatku terkejut."


"Maafkan aku Mom. Tapi, kenapa Mommy ada di sini? Di mana Quinsy?"


"Dia dan teman-temannya ada di taman belakang. Mommy juga akan menyusul ke sana. Dah Daddy," Tuan Hemsworth hanya dapat menggeleng melihat tingkah istrinya itu.


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


"Hai Ladies..! Bagaimana? Apakah kalian menikmati spa yang ku siapkan?"

__ADS_1


"Ya, Nyonya Hemsworth. Kami benar-benar menikmatinya. Bahkan Quinsy sampai tertidur."


"Em, aku rasa menantuku ini sangat kelelahan. Mari kita biarkan dia beristirahat, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua."


Nyonya Hemsworth mengajak Emy, Sonya dan Jessy untuk meninggalkan taman belakang itu dan pergi ke tempat lain. Sementara Quinsy yang telah terlelap, tidak mengetahui suaminya telah membawa dirinya menuju kamar mereka.


"Wah, coba kau lihat! Tuan Glen terlihat begitu perhatian kepada istrinya. Aku jadi iri pada gadis muda itu," Bisik seorang pelayan pada rekannya kerjanya. Mereka adalah pelayan pelayan yang telah bekerja di kediaman Hemsworth sedari kecil. Bisa dikatakan dua orang pelayan wanita itu telah tumbuh bersama dengan Glen selama ini.


"Cih! Gadis rendahan yang statusnya tidak jelas seperti dia, hanya akan tersingkir tidak lama lagi. Tuan hanya menginginkan bayi dalam kandungannya. Kita lihat saja. Tak lama lagi, wanita rendahan itu akan pergi dari rumah ini."


"Apa yang kau bicarakan Soph? Tidakkah kau melihat tatapan cinta di mata Tuan Glen pada gadis itu? Selain pada almarhum Nona Dania, Tuan Glen tidak pernah menunjukkan tatapan mata seperti itu kepada siapapun lagi."


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Dengan hati-hati Glen membaringkan tubuh Quinsy ke atas ranjang besar miliknya. Wajah ayu yang mampu membuat tempat kosong dalam hati Glen terisi penuh itu, dipandang Glen secara menyeluruh. Diam-diam ia teringat akan pertemuan mereka pertama kali dulu. Di mana Quinsy adalah gadis pertama yang berani menampar wajahnya. Quinsy pulalah gadis pertama yang membuatnya penasaran setengah mati dengan sikap acuh dan manisnya.

__ADS_1


Sayup-sayup mata cantik Quinsy mulai terbuka, ia mendapati wajah tampan Glen di sisinya yang juga terpejam erat. Quinsy perlahan duduk, ia melihat sekeliling hingga matanya tertuju pada sebuah bingkai poto yang berisikan seorang gadis cantik dengan rambut kuning keemasan tengah tersenyum. Perlahan Quinsy turun dari ranjang dan meraih poto tersebut.


"Cantik banget. Apa ini poto almarhum pacar Glen yang pernah dia ceritain tempo hari ya?" Gumam Quinsy bertanya-tanya.


Glen yang merasakan kekosongan di sisinya membuka mata. Ia melihat Quinsy tengah berdiri sambil memegang poto almarhum Diana di tangannya.


'Astaga! Aku lupa menyimpan poto itu.' Batin Glen dan perlahan mendekati Quinsy. Ragu-ragu Glen meraih poto itu, ia takut Quinsy akan marah padanya.


"Aku akan segera meminta seseorang untuk menyimpan poto ini ke gudang."


"Tidak perlu. Dia adalah adalah pemilik hatimu yang sesungguhnya. Aku hanyalah orang ketiga yang tidak sengaja masuk diantara kalian." Cegah Quinsy. Ia tidak ingin membuat Glen memaksakan hatinya, karena Quinsy sendiri masih belum bisa melupakan almarhum Marvin. Jadi bagi Quinsy, Glen tidak perlu menyingkirkan poto almarhum Dania dari kamar mereka.


Namun pemikiran Quinsy di tepis mentah-mentah oleh Glen. Dengan penuh kelembutan Glen menatap mata Quinsy dan berkata "Kau salah."


"Kau adalah istriku, masa depanku. Kau segalanya untukku. Baik itu kini, esok atau kemudian hari. Jadi kuminta padamu, agar tidak lagi menganggap dirimu adalah orang ketiga."

__ADS_1


Dengan berlinang air mata, Quinsy memeluk erat tubuh Glen. Setelah mendengar ucapan suaminya barusan, muncul rasa egoid dalam hati Quinsy. Ia mulai merasakan perasaan ingin memiliki dan tidak ingin berbagi. Sekalipun itu dengan masa lalu Glen yang telah lama meninggal dunia.


BERSAMBUNG...


__ADS_2