
"Apa lagi yang kau inginkan dari Adikku?! Tidak puaskan kau telah nengahncurkan masa depannya? Merusak kehirmatannya, merenggut semua senyumnya?! Apakah kau memang ingin membuat Adikku mati tersiksa?!" Tanya Miguel dengan suara membahana yang menggema di ruangan itu.
"Tidak, aku sangat mencintai Quinsy."
Miguel tersenyum sinis, ia kemudian ingin kembali mendekat pada Glen namun di tahan oleh Papahnya.
"Cinta? Itu yang kau sebut dengan cinta? Menculiknya, mengurungnya di pulau pribadi milikmu, dan kemudian memperkosanya. Itu kah yang kau sebut dengan cinta? Bahkan kalimat itu tidak pantas keluar dari mulutmu yang busuk itu!"
Tuan Karren menarik putranya agar duduk di sisinya, Miguel pun menurut dan mencoba mengurangi emosi dalam dadanya dengan membuang wajah ke arah lain.
"Kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah bila hanya mengikuti amarah."
"Tapi Pah, laki-laki baj*ngan kaya dia ini emang pantas mendapatkan pelajaran agar otaknya dapat berfungsi dengan normal."
"Miguel! Kalau kamu datang cuman buat suasana makna kacau, mending kamu pulang ke rumahmu dulu!"
"Sekarang Miguel tanya, mau apa baj*ngan ini datang ke sini?"
Tuan Karren pun menjelaskan maksud dan tujuan Glen beserta kedua orang tuanya datang jauh-jauh ke Indonesia. Mereka berniat untuk bertanggung jawab akan bayi yang ada di dalam kandungan Quinsy saat ini.
"Enggak Pah! Miguel ga setuju! Dan Miguel yakin, Morgan juga gak akan setuju. Quinsy ga membutuhkan pria brengs*k kaya dia untuk jadi Ayah dari bayinya. Miguel masih sanggup menghidupi anak itu, bahkan 100 bayi lagi yang di lahirkan oleh Quinsy, Miguel masih akan mampu menjaganya."
"Dan membiarkan anak itu lahir tanpa setatus? Miguel, hidup bukan hanya tentang seberapa kamu bisa membiayai kebutuhan jasmani seorang anak, tapi kamu juga harus memenuhi kebutuhan rohaninya. Dan kamu ga akan mungkin bisa memberikan itu, sebab kamu bukanlah Ayah kandungnya."
Miguel terduam, bila Tuan Karren telah berucap tidak ada satu orang anaknyapun yang dapat mematahkan ucapannya.
Walau Tuan Karren tidak terlalu banyak bicara saat bersama kamu ngan para putra dan putrinya, tapi dia adalah Ayah yang baik dan sangat berwibawa di mata mereka.
Itulah mengapa ia dapatmendidik dua putranya menjadi pengusaha yang sukses hingga kini dapat mengembangkan perusahaan mereka di berbagai negara maju lain.
"Saya mohon maaf atas perlakuan putra saya yang kurang sopan pada kalian. Mohon kalian dapat memaklumi emosi yang tidak dapat dia kendalikan. Sebab bagi kami Quinsy adalah harta yang sangat berharga." Ucap Tuan Karren pada Ayah dan Ibu Glen.
"Anda tidak perlu terlalu merendah Tuan Karren, menurut saya apa yang di lakukan oleh putra Anda masih belum setimpal akan apa yang putra saya lakukan pada putri Anda. Saya pun akan melakukan hal yang sama bahkan mungkin lebih bila ada yang merampas harta berharga yang susah saya lindungi bertahun-tahun."
__ADS_1
Tuan Karren tersenyum akan ucapnya Tuan Hemsworth, ia makin kagum akan wibawanya dimiliki oleh lelaki paruh baya yang ada di hadapannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali kesegaran yang jauh, tepatnya di kota New York. Morgan tengah menandatangani perjanjian kontrak bersama sebuah perusahaan yang akan berkerja sama dengan perusahaannya.
Tanpa di duga, ia bertemu dengan salah satu sahabat Quinsy sewaktu masih di kota itu.
"Tuan Morhan,bisakah kita bicara sebentar?" Pinta Jessy yang baru saja menyelesaikan pemotretan di perusahaan tersebut.
Morgan hanya mengangguk dan mengikuti gadis cantik itu menuju lift. Awalnya lift yang mereka naikin hanya ada mereka berdua, tapi tak lama lift itupun telah di penuhi oleh orang-orang yang juga ingin makan siang di lantai bawah.
Posisi Morgan yang semula berada di sisi Jessy kini sudah ada tepat di depan gadis itu. Sebab Jessy terlihat kesulitan untuk menahan tubuh laki-laki gemuk di hadapannya agar tidak terlalu menempel padanya.
Semakin lama orang yang berada di dalam lift itu makin berdesakkan, hingga membuat tubuh Morgan dan Jessy makin menempel.
Degh,degh..!
Jantung Morgan berdetak cepat saat dadanya menempel pada gunung kembar milik Jessy. Dapat ia rasakan benda kenyal itu yang hanya terhalang oleh kain tipis di tubuh mereka.
Wajah Jessy kini sudah seperti udang rebus, begitu juga dengan detak jantungnya yang sudah seperti genderang perang yang bertubuh begitu cepat.
'Asataga, ada apa denganmu Jessy? Tidak bisakah kau mengendalikan degup jantungku ini? Akan sangat memalukan bila laki-laki di hadapanmu ini dapat mendengarnya.' Gumam Jessy dalam hati.
"Tidakkah kau lihat aku pun tidak dapat bergerak?" Tanya si laki-laki berbadan lebar dengan nada sedikit meninggi. Ia merasa tersinggung akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Jessy. Ia mengira Jessy sedang menghina bentuk tubuhnya yang begitu lebar.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pintu lift terbuka dan orang-orang mulai keluar satu per satu.
Morgan berdehem dan membenarkan jasnya, tanpa menatap wajah Jessy ia melangkah keluar kebijakan dulu. Sedangkan Jessy masih mencoba menerapkan degup jantungnya di dalam lift.
'Ini benar-benar memalukan! Eh, tunggu dulu! Ini hukanlah saatnya untuk memikirkan kejadian tapi, aku harus menanyakan keadaan Quinsy pada Tuan Morgan.'
Jessy pun berlari menyusul laki-laki itu ke tempat parkir, untungnya Morgan masih menunggu kedatangannya. Jessy pun masuk dan mereka menuju sebuah restoran kelas atas. Morgan telah memesan satu meja untuk mereka berdua di sana.
__ADS_1
"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Aku hanya ingin menanyakan kabar Quinsy, apakah dia baik-baik saja? Maaf aku baru tau hal yang menimpanya." Ucap Jessy lemah. Nada suaranya terdengar bergetar, jelas gadis itu tengah menahan air mata.
"Dari mana kau tau masalah yang menimpa Adikku?"
"Tempo hari aku dan teman-teman mendengar pembicaraan Glen bersama kedua orang tuanya di sebuah lapangan golf Xx" Jawab Jessy seraya membuang nafasnya berat. "Di sana, kami mendengar bila Tuan Glen telah membawa Quinsy je pulau pribadi miliknya dan ia juga telah melakukan hal yang sangat menjijikkan terhadap Quinsy."
Kini air mata Jessy tik dapat ia bendung lagi, bahunya sampai berguncang hebat. Dapat ia rasakan betapa ketakutannya Quinsy saat itu, dan sebagai seorang sahabat ia merasa gagal dalam melindungi sahabatnya.
"Quinsy kini telah kami bawa kembali ke Indonesia. Ia mengalami depresi berat, bahkan membuatnya kehilangan semangat dan selalu mencoba untuk mengakhiri hidupnya."
"Ya tuhan, Quinsy..." lirih Jessy yang makin terisak. "Apakah aku dapat bertemu dengannya? Kumohon....! Mungkin dengan kehadiran kami, akan dapat mengembalikan sedikit kebahagiaan Quinsy."
Morgan nampak memikirkan ucapan Jessy, ia menatap lekat mata gadis cantik itu. Di sana terukir jelas rasa cemas dan khawatir pada Adiknya.
Akhirnya Morhan pun mengangguk setuju, ia berharap apa yang di ucapkan Jessy benar. Mungkin dengan kehadiran para sahabatnya, Quinsy dapatkembali ceria.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA, BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, KARAKTER DAN SEBAGAINYA ITU HANYALAH KEBETULAN....
MOHON DUKUNGAN KALIAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE, KOMEN, DAN VOTE
Sekilas info, mungkin kalian ada yang bingung ya, kenapa Glen bisa gak ngerti Quinsy ngomong apa kalo udah bicara sama orang tuanya?
Itu karena Quinsy kan orang Indonesia, jadi dia kalo ngomong sama Papah, Mamah Morgan dan Miguel pake bahasa indonesia.
Sedangkan kalo ngomong sama orang lain yang ada di luar negri termasuk sama Glen, dia pake bahasa inggris. Kan ga mungkin aku nulisnya pake bahasa inggris langsung....
bukannya apa-apa, aku malas ngegoolingnya😄😄 ribet sis...😆
tolong jadikan favoritnya dan juga berikan bintang lima untuk ceritakan ini ya....
__ADS_1
I LOVE YOU READER'S 😙😙