
Glen yang telah kembali ke kamarnya tidak dapat menemukan keberadaan Quinsy. Ia mencoba melihat-lihat setiap ruangan dalam kamar mereka namun tetap saja kosong. Barang-barang Quinsy masih tetap utuh, hanya ponselnya saja yang tidak ada. Jadi, Glen berpikir bila Quinsy hanya sedang berjalan-jalan di sekitar pantai.
Glen ingin menyusul keberadaan istri cantiknya, tapi hingga hari sudah mulai gelap, ia tak kunjung juga menemukan keberadaan Quinsy. Nomor Quinsy pun telah ia coba hubungi berkali-kali dan hasilnya tetap sama. Nomor itu sama sekali tidak aktif, hati Glen menjadi kian kalut dibuatnya. Hingga dengan panik Glen berlari kembali menuju kamar mereka berharap Quinsy telah kembali.
Beruntung saat Glen tiba di sana, Quinsy telah duduk manis di atas ranjang mereka. Wanita itu terlihat baru saja menyelesaikan mandinya. Glen pun berjalan mendekat dan Quinsy tersenyum ke arahnya.
"Kau dari mana saja sayang? Aku mencarimu kesana kemari sejak siang tadi tapi kau tidak dapat aku temukan."
"Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku hanya berjalan-jalan di sekitaran pantai hingga lupa waktu." Suara Quinsy yang terdengar sendu dan agak parau membuat Glen curiga. Glen pun kembali bertanya sembari memegangi wajah mulus Quinsy.
"Apa yang terjadi? Apakah kau habis menangis?"
"Ya, aku baru saja menonton drama Korea kesukaanku. Dan dalam satu part, ada adegan yang mengharukan hingga membuatku menangis." Bohong Quinsy. Glen yang tau akan kegemaran istrinya dalam menonton drama Asia itu pun percaya begitu saja akan ucapan Quinsy tanpa ada curiga sedikitpun.
"Baiklah, lain kali tinggalkan pesan sebelum kau pergi. Aku ingin mandi dulu. Cup." Tak lupa Glen memberikan kecupan singkat di pipi Quinsy dan berjalan menuju kamar mandi.
Lagi-lagi air mata Quinsy meluncur bebas di pipinya. Rasa sakit itu kembali menusuk jantung dan hati Quinsy. Di mana dia mengingat kejadian saat Glen mengatakan ingin membawa Dania kembali bersamanya. Dan juga saat Glen mengatakan bila Dania itu adalah kekasihnya dengan pria asing tadi. Itu cukup membuat hati Quinsy bagai tersayat-sayat ribuan pisau tajam.
Saat Glen usai mandi, ia mendapati istri cantiknya yang telah tertidur pulas. Perlahan ia duduk di tepian ranjang sembari membuka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
"Apakah kau akan dijemput?" Tanya Billy pada Sonya. Ia agak hawatir melihat kondisi gadis itu yang terlihat amat tertekan.
"Tidak. Aku membawa mobilku sendiri."
"Kau yakin bisa mengendarainya? Bagaimana bila aku saja yang mengantarkanmu kembali? Aku takut kau akan menabrak seseorang dan mencelakai dirimu sendiri."
Sonya menyetujui tawaran dari Billy, merekapun pulang bersama. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi. Tidak ada pembicaraan atau hanya sekedar basa basi dari keduanya. Hingga tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi telah tiba di depan halaman rumah milik Sonya.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang, Billy. Kau bisa menggunakan mobilku dulu, sangat sulit untuk menemukan taksi di sekitar sini."
"Kalau begitu bagaimana jika kau menunggu temanmu di dalam. Aku akan membuatkan mu segelas minuman."
Billy tak dapat menolak lagi, dia pun ikut masuk ke dalam rumah Sonya. Rumah itu nampak rapi dan berbau gadis remaja. Sayangnya, tidak ada seorangpun yang terlihat sejak mereka tiba di sana.
"Apakah kau tinggal di sini sendirian?"
"Tidak. Biasanya aku bersama kedua orang tuaku. Tapi mereka sedang berada di luar negri."
__ADS_1
"Lalu saudaramu?"
"Aku adalah putri tunggal di keluarga ini."
Billy mengangguk paham, kini dia tau mengapa nuansa dalam rumah ini terkesan feminim. Rupanya Sonya adalah alasan di balik semua itu. Lama Billy menunggu temannya yang sudah berjanji akan menjemputnya, tetapi tak kunjung juga tiba. Perasaan gusar mulai menghinggapi hati Billy, belum lagi dia masih harus menghadiri pemotretan di sebuah gedung olah raga.
Sonya yang menyadari tingkah gusar Billy kembali angkat bicara dan menawarkan agar Billy mau membawa mobilnya. Kini Billy tidak bisa menolak, ia terpaksa meminjam mobil Sonya dan bergegas menuju lokasi pemotretan.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Sementara itu, Tuan dan Nyonya Hemsworth tengah asik berdebat mengenai nama calon Cucu mereka. Menurut Tuan Hemsworth, Cucu-cucunya nanti harus memiliki nama yang berasalkan dari gugusan bintang. Sebab Tuan Hemsworth berharap, dengan nama itu cucunya akan menjadi seorang pewaris nama keluarga yang unggul seperti dirinya.
Sedangkan menurut Nyonya Hemsworth, nama cucu mereka haruslah berasal dari dunia permodelan. Nyonya Hemsworth ingin agar Cucu-cucunya kelak dapat menjadi bintang besar layaknya sang pemilik nama.
"No Papa! Cucuku akan aku beri nama seperti mereka ini." Tunjuk Nyonya Hemsworth pada beberapa album lama yang menampilkan deretan artis terkenal jaman dulu.
"Kalau begitu, bagaimana bila kita tanyakan langsung saja pada Quinsy. Biar dialah yang menentukan nama siapa yang lebih baik untuk anaknya."
"Ok," Nyonya Hemsworth lalu menghubungi Quinsy. Sempat tidak ada jawaban dari menantunya, namun setelah menghubungi ya sekali lagi, akhirnya Quinsy pun menjawab panggilan telepon itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....