Terjebak Cinta Mu

Terjebak Cinta Mu
Curhatan sella


__ADS_3

"ibu sudah boleh pulang, kondisinya sudah stabil. " kata perawat itu.


"em... apakah saya bisa menunggu sebentar lagi, menunggu suami saya menjemput" kata sella.


"tentu boleh bu. "


sella mengangguk tersenyum.


sebenarnya dua hari juga dia sudah bisa pulang, tapi tiba tiba dia demam, dan harus di rawat hampir seminggu.


rian pun tidak datang sejak hari itu. dia sendirian di ruang rawat ini tidak seperti pasien lain yang pasti ada yang menemani setiap malam, dam membantunya ke kamar mandi.


dia tidak mau meminta bantuan perawat, karena rian pasti datang, pikirnya. alhasil, dia jadi ke kamar mandi sendiri, memegang botol infus, berjalan bertumpu pada dinding.


seketika bibir nya bergetar, air mata nya mengalir...


jangan nangis jangan nangis.... dia pasti datang menjemput ku.


batinnya selalu meyakinkan itu, rian tidak sejahat itu kan, dia bilang dia cinta.


dia mencoba mengingat hal hal yang menyenangkan, lalu teringat dengan panggilan baru mereka. berdebat memikirkan ganti panggilan yang baru mereka sadari itu, norak. hahaha


untuk sella akan memanggil rian 'ay' dan rian memanggil sella 'yank'...


ceklek.....


"ay..... eh... maaf Sus.. " di pikirnya rian yang datang.


"apa masih lama.... ruangan akan di bersihkan, akan ada pasien baru yang akan menempati ruangan ini. " kata perawat itu ramah.


"em... apakah tidak bisa menunggu setengah jam lagi, suami saya belum datang."

__ADS_1


"maaf tidak bisa... ibu boleh menunggu di kantin rumah sakit, atau di loby. "


"hehh.... baiklah suster, terima kasih, saya akan pergi."


"baik bu... sama sama... "


sambil berjalan menuju loby, berusaha menelfon rian, tapi nomornya tidak aktif,


dia sudah tidak sabar... akhirnya memakai taksi.


...******...


"bi... itu kopi untuk rian? " tanya sella pada pelayan itu.


"iya nyonya... untuk tuan. "


"rian udh pulang? " tanya nya antusias, karena sella sampai di ruamh, rian masih di kantor, dan sampai jam delapan malam juga belum pulang.


"em... saya aja yang bawa, bibi lanjut istirahat aja ya" mengambil alih kopi itu.


"Terima kasih nyonya. " sella mengangguk.


sella berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya, saat sampai di depan pintu, dia menghela nafas, semoga rian tidak marah.


ceklek...


pertama menyembulkan kepalanya, lalu masuk, menutup pintu.


"ay... " ini kopi nya.


"kenapa kamu yang antar? " kata rian masih fokus dengan laptopnya.

__ADS_1


"em... aku pengen ketemu kamu, rindu banget tau. " berjalan perlahan ke samping rian. dengan fake smile nya, tapi hati nya nyeri dengan nada dingin rian.


sella ingin minta maaf sebenarnya, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat.


"ay... aku ngantuk, nungguin kamu dateng aku belum tidur. "


"siapa yang suruh nunggu, duluan aja sana... masih banyak kerjaan. "


sella semakin mendekat ke rian.


"em... aku rinduuuuu banget sama kamu... pengen meluk kamu tau... ayolah ay... " mencoba merayu rian dengan memeluk bahu laki laki itu dari samping.


tapi rian menggerakkan bahu nya, sepertinya meminta sella menyingkir. sella kembali berdiri tegak.


hh.... mata sella memanas, siap menumpahkan air matanya, tapi di tahannya.


"emm.... a-aku nunggu di kamar ya....cepat datang ya, aku gak bisa tidur nanti. pokoknya kalau kamu belum datang, aku gak tidur, oke? " sella langsung keluar dari ruang kerja suaminya.


rian mengikuti sella dengan pandangan matanya sampai tidak terlihat lagi.


dia menghela nafas, sejak tadi manahan kantuknya. dia berjalan ke arah sofa, lalu membaringkan tubuhnya, tidak beberapa lama dia tertidur.


sella perlahan masuk ke ruangan suaminya lagi, karena berfirasat rian sepertinya tidak akan masuk ke kamar. ternyata memang benar. dia melihat rian tidur di sofa dengan pulas nya. sella tidak tega membiarkan rian tidur masih dengan pakaian kantor lengkap.


perlahan dia melepas sepatu dan kaos kaki rian. lalu jas beserta dasinya, tidak lupa juga ikat pinggang, agar rian tidur dengan nyaman.


sella menatap wajah suaminya yang terlihat begitu kelelahan, dia menghela nafas.


"kamu cape banget ya pasti, wajah kamu kusam" sambil mengelus wajah rian perlahan. " beberapa hari ini kamu cuekin aku" tangannya teralih menggenggam tangan rian. "tapi kamu gak ada niat pisah kan.. hiks... ta-tadi aku dapat kabar, ibu masuk rumah sakit, kamu tau? perasaan aku mulai gak enak, aku udah berfikir yang jauh tentang ibu yang bakal ninggalin aku hiks... tapi aku selalu berdoa jangan sampai itu terjadi. " sella mengatakan semua kejanggalan di hatinya beberapa hari ini... walaupun rasanya percuma. "ka-kamu.. hiks.... kamu jangan tinggalin aku ya.... maaf kalau udah ngecewain kamu, aku gak nurut sama kamu, aku udah keras kepala, kamu pasti pengen punya anak, untuk meneruskan usaha kamu. aku sampai lupa, kalau gak ada kamu, aku gak akan merasakan kehidupan yang sangat berkecukupan ini, bahkan ini lebih dari cukup, ibu bisa tenang di masa tuanya, tanpa harus kerja keras lagi, aku dan ibu bisa hidup di tempat yang layak. aku janji... aku janji akan nurut seemuua yang kamu bilang, aku gak akan bantah. aku janji... tapi kamu jangan ada niat ninggalin aku ya... " sella fokus dengan kesedihannya, menangis sambil memegang, sesekali mencium tangan suaminya. tidak sadar sedari tadi orang itu mendengar keluh kesah nya.


perlahan sella mengecup kening suaminya dengan lembut... aku cinta kamu ay...

__ADS_1


__ADS_2