
๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ป๐ด๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฝ๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐ณ๐ผ๐ฟ๐ถ๐ ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฅ . ๐๐ผ๐ฎ๐น๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐น๐ฎ๐ป๐ท๐๐๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฟ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐น๐ถ๐น๐ ๐ป๐ถ๐ต ๐ .
#๐ต๐ฎ๐ฝ๐ฝ๐ reading.
.
.
.
"aku benar benar belum siap... jangan sekarang ya. " bujuk lily.
betapa terkejutnya dia saat Hendra mengatakan akan mengenalkannya pada orang tuanya. benar benar mendadak.
"ly... tapi kamu udah janji... "
"iya tapi gak sehari setelah lulus juga... tunggu beberapa bulan lah. "
"ck... " hendra kesal.
****
"ayo..!!! " bentak lily. sambil menarik paksa Hendra yang berbaring di tempat tidur.
"kemana? " tanya Hendra dengan malas.
"ya makan malam lah... kalo gak, kamu mau mati?! "
"kok kamu jadi kasar sih. "
"aku lagi badmood, makanya jangan bikin emosi! "
"males aku... kamu marah marah mulu dari tadi. " kembali berbaring.
"huuff.... oke.... ayo makan... nanti kamu sakit. " mencoba melembutkan nada bicaranya.
"aku gak mau makan kalo kamu gak mau kita menemui orang tua ku. "
"jangan bikin aku makin emosi ya. " sambil memukul bahu Hendra kuat.
"kamu gak di didik dari kecil untuk lemah lembut ya... kasar banget sih. "
"iya.aku emang gak di didik, yang urus aku tetangga, aku di paksa keras dari dulu, jadi gak bisa lembut.... kenapa? masalah buat kamu... buang aja aku kalo gitu... lain kali omongan itu di jaga ya. " lily merasa tersinggung.
brakk!!!
pintu di tutup dengan keras. lily keluar menenangkan diri.
Hendra sadar, dia salah bicara.... entah kenapa jika sedang emosi tidak bisa mengendalikan diri.
dia buru buru menyusul lily.
mencari ke dapur, ruang makan, teras... tapi tidak ada.
dia berlari ke taman belakang... belum sampai taman belakang... dia melihat lily, ternyata sedang duduk di pinggir kolam renang.
dia memeluk bahu lily dari samping.
"sayang... maaf ya... aku gak bermaksud. "
lily masih menunduk sambil mengayun ayunkan kaki nya di air kolam.
"sayang.... jangan marah dong... maaf. " Hendra merengek.
lily menoleh ke arah Hendra dengan tatapan sedih... tatapan mereka bertemu.
"jangan sedih... aku minta maaf ya... janji gak akan nyinggung kamu lagi. "
tanpa di duga lily memeluk leher Hendra tiba tiba sambil menangis.
"huwaaaa!!!.... ma-maaf.... huhuuuu!!.... aku yang minta maaf... huuuuu... hiks.. "
"sssss.... kenapa... aku yang salah kok... jangan nangis ya.. "
lily menggeleng.mencoba meredakan tangisnya. "hiks... aku yang minta maaf... aku marah marah sama kamu... kamu baik... harus nya.. hiks... harusnya aku yang tau diri.... kamu mau nampung aku yang rendahan ini.... aku memang gak tau diri... aku minta maaf... hiks... "
"gak.... aku gak papa kok kalo kamu marah marah.... aku yang salah... harusnya aku gak balik marah sama kamu.... jangan bilang gak tau diri lagi.... aku gak nampung kamu... karena ini memang rumah kamu... rumah kita.... kamu pantas mendapatkan semua ini. "
"tuh kan... kamu sabar banget... aku jadi makin rendah....kalo aku jadi kamu punya pacar kayak aku, pasti udah aku usir... tapi kamu malah sabar... hwuaa"
__ADS_1
Hendra terkekeh... "hehe... beruntung banget kan kamu dapetin aku... "
"apaan... kamu yang beruntung dapetin aku. "
"ihh gengsian. "
lily cemberut, memeluk Hendra makin erat.
"kita makan ya... "
lily menggeleng.
"hah... tadi katanya mau makan. "
"mau makan di rumah mertua aja hehe"
"ha... maksudnya. "
"iiss.. gak peka banget sih. "
"beneran?... ini udah jam berapa loh... pasti mereka udah makan malam. "
"belum lewat jam tujuh kok... masih sempat. "
"oke.bentar aku telfon dulu. " meraba kantongnya. "eh... hp ku di kamar... lepas dulu. "
"gamau."
"hadeh... manja banget sih. " akhirnya memeluk lily menggendong nya di depan sambil berjalan ke kamar mereka.
"mah.... kalian udah makan malam belum? " tanya Hendra pada mama nya.
"baru mau.. "
"hen ke sana sekarang mau makan malam bareng calon mantu mamah... tunggu kami... jangan makan dulu. "
"ha... kok mendadak hen... mama belum persiapan. " terdengar kesal.
"iya... ini orang nya baru mau. gak perlu persiapan apa pun...cuma perkenalan doang sama makan malam. " melirik lily.
"ooh... oke...mamah mau ganti baju dulu...setidaknya harus tampil bagus dong di depan menantu.jangan kelamaan.. nanti papa kamu marah... "
"oke." memutuskan panggilan.
"gak jadi deh... aku degdegan ini. "
"ha... kamu apaan... aku udah bilang loh... ayo cepat... kita siap siap bareng. " sambil mendorong lily.
tidak lama... mereka sudah bersiap , lily memakai gaun biru gelap yang elegan pilihan hendra...hendra pun memakai baju warna yang sama.
****
"aku degdegan... " lily mulai resah karena Hendra mengatakan akan sampai di rumah orang tua nya.
"ada aku. "
"mama kamu galak gak? "
"hehe... gak kok... tapi kadang kadang mamah gak ketebak. "
"ceritain tentang sodara laki laki kamu dong... biar aku tau bersikap gitu. "
"bang yan itu... orangnya baik kok. "
"bang yan?"
"iya... nama nya rian... sekeluarga manggilnya bang yan.. ... tapi... "
"kenapa? "
"bang agak sedikit brengsek sih.. "
"maksudnya? "
"sering pakai cewek cewek di club itu loh.... tapi sebenarnya dia itu baik kok... cuma belum dapat jodoh aja... kalo udah dapat pacar pasti berubah kok dia. "
lily agak kaget dan syok mendengarnya.
"tenang... bang yan gak bakal macem macem sama wanita baik baik kok... "
mobil memasuki gerbang rumah keluarga Hendra.
__ADS_1
"liat... mamah antusias banget... tenang aja" menunjuk mama nya yang sudah menyambut di teras.
lily menarik nafas lalu keluar dari mobil. langsung menggandeng tangan Hendra menuju mamanya.
dia memeluk anak bungsu nya itu... lalu memeluk lily.
"ya ampun... menantuku cantik sekali. "
lily mencium punggung tangan mamanya Hendra "makasih tante. " tersenyum kaku.
"ayo masuk.... papa udah laper banget katanya... sekali gus gak sabar mau liat menantunya. "
****
semua sudah di ruang makan... eh... tinggal rian abang nya Hendra.
"bang yan kok lama mah? "
"baru pulang kerja dia. "
"pulang kerja apa main.. " sindir Hendra.
"udah lah... terserah dia... asal gak ngerusak anak baik baik. "
"malam.. " rian masuk langsung duduk di samping Hendra... jadilah Hendra berada si antara lily dan rian.
"malam... " sapa mereka balik.
"yaudah kita langsung makan aja... laper mah. "
"kamu gak sopan ya... ini ada calon adik ipar kamu..... kenalan napa. "
"oh...mana.... eh... Hai... gue rian abang nya Hendra. " mengulurkan tangannya.
"lily.. " menyambut tangan rian. tersenyum kaku.
mereka makan dengan damai.
"umur nak lily berapa? " papanya Hendra membuka pembicaraan.
"em... delapan belas tahun om. " sebenarnya sih masih 17...tapi bentar lagi 18 kok... biar gak muda muda amat.
"hen... kamu pake pelet ya... kok dia mau sama kamu. " celetuk mamanya Hendra.
"gak lah mah... lily mungkin yang pake pelet... hen sampe gak bisa berpaling. noleh aja gak bisa. ajaib kan.. hahaah. "
lily langsung merona.
"alah.... kamu nya aja yang bucin parah. " ejek mamanya Hendra.
"eh.. bentar... gue baru ingat. " tiba tiba rian berbicara.
"apa yan" tanya papanya.
"tadi yan kayak pernah liat pacar nya hen ini mah... sekarang baru ingat.... lo muridnya mami Rika kan. " sambil menunjuk lily.
plentang!!
sendok lily terjatuh dari tangan nya. "ah... maaf maaf. " tersadar.
"mami Rika siapa. " tanya Hendra.
"itu... mami Rika itu yang bisa di bilang ketua perempuan bayaran di club yang sering gue datangin." kata rian dengan santai.
"bang... lo tau dari mana... jangan asal deh. "
"gue gak ngasal... memang bener kok.... lo dapet dari mana cewe beginian hen... khilaf lo? " mengejek Hendra.
"yan... jaga omongan kamu.... mungkin aja mirip. " papanya masih positif thinking
oh Tuhan... lily ingin menangis sekarang.
"gak mungkin salah pah... "
"kenapa gak mungkin... cewe yang udah lo pake kan banyak. " sergah Hendra.
"hahah... gua gak bakal lupa sama yang sesuatu yang bikin berkesan..... ya... gue parnah make dia sekali. " kata rian santai.
**next๐คฃ
vote dong๐ฃ
__ADS_1
๐**