
Lily masih diam saat hen mengajaknya kembali.
"Li... " Kata hen lagi
Lily menunduk, lalu menarik nafas dalam. Kemudian menggeleng pelan.
Hen juga terdiam melihat reaksi lily yang menggeleng.
"Kenapa? " Tanya nya dengan lembut, mencoba memahami keadaan lily.
"Hiks... Gak mauuuu... " Kata lily sambil menangis.
Hen maju perlahan, menggapai kepala dan bahu lily, membawa kedekapannya.
Hen mengingat begitu banyak hal buruk yang di alami wanita muda di dekapannya ini dalam beberapa tahun.
Tak kuasa juga hen manahan air matanya luruh, kemudian mencium rambut wanita itu.
Mereka harus membicarakannya baik baik sebelum putri bangun.
"Mau ya sayang... Aku akan bahagiakan kalian" Kata hen dengan sangat tulus.
Lagi lagi lily menggeleng. " Gak mauuu hiks... Nanti bohong lagiiii... " Katanya masih menangis.
Hen paham perasaan lily yang merasa di bohongi berkali kali, perasaan seorang wanita yang tidak mau mengalami luka yang sama pada tempat yang sama. Sakit dan menderitanya berkali kali lipat.
"Heii... Aku sudah di sini sekarang, gak akan kemana mana lagi, yang kita alami sebelumnya akan aku jadikan pelajaran, dan tidak akan mengulanginya lagi, aku akan bawa kalian kemana pun aku pergi, gak akan meninggalkan kalian, aku janji, mau ya.. "
Lily diam, masih menangis di pelukan lelaki itu.
"Egghh... Bundaa... " Kebiasaan putri saat bangun tidur pasti akan merengek mencarinya.
Cepat cepat lily melepas pelukan mereka, menghapus air matanya, lalu menghampiri putri.
Saat putri dan lily berjalan ke belakang, hen pun ikut juga, ingin melihat apa yang mereka lakukan.
"Bunda mana? " Bertanya pada putri yang hanya menggunakan dalaman karena ingin mandi.
"Angkat air" Sambil menunjuk pintu dapur yang terbuka.
Hen berjalan ke pintu, melihat lily berjalan sambil mengangkat air di ember bekas cat ke dalam dapur, lalu membawa ke dalam kamar mandi, hen hanya melihat sedari tadi.
Lily kembali keluar, setelah menuangkan air ke dalam ember besar, pasti ingin mengambil air lagi.
"Kenapa harus mengangkat air? Kan listriknya ada" Tanya hen pada putri
__ADS_1
"Kata bunda, karena kami cuma liburan, dan tidak punya uang, ibu kontrakan cuma bolehkan hidup lampu kalau sudah gelap, trus akan di matikan lagi sebelum jam empat pagi" Jelas putri.
"Jadi setiap pagi buta bunda bangun isi air? "
Putri mengangguk.
Hen membantu lily mengangkat air ke kamar mandi lalu menuangkannya.
"Pergi mandi, jangan pakai air boros boros" Kata lily ketus pada putri.
Lily pergi lagi keluar mengambil air.
"Ayo ayah mandikan"
"Gak, putri udah bisa mandi sendiri. " Lalu masuk ke kamar mandi.
Putri di paksa mandiri sebelum waktunya, padahal dia dulu masih di mandikan sampai SD kelas dua, putri yang belum lima tahun, sudah mandi sendiri. Seperti nya lily sedikit keras mendidik putri, tapi dia tidak menyalahkan lily, mungkin melakukan itu semua karena keadaan.
Lily kembali lagi membawa seember air.
"Ly... Jangan terlalu keras pada putri, dia masih kecil." Kata hen.
"Aku bisa menanggung semua beban ini sendirian karena aku di didik keras. " Kata nya dengan ketus, juga sambil menyindir lelaki itu, lily duduk di dekat pintu menghilangkan lelahnya mengangkat air.
Hen langsung mendapat tatapan sinis dari lily.
"Apa urusanmu, aku hanya mendidiknya agar menjadi wanita kuat di masa depan, agar dia tetap kuat saat ada seseorang menyakitinya, bukan jadi wanita lembek"
Tidak heran lily tiba tiba berubah ketus, saat mengangkat air tadi, tetangga menanyakan mobil yang terparkir di depan kontrakan.
Mereka juga malah menggosipi bahwa putri anaknya adalah anak haram. Walaupun memang benar, karena putri hadir tanpa ikatan pernikahan, tapi dia tetap tidak Terima. Lelahnya mengasuh putri sendirian, malah anaknya mendapat celaan orang orang.
Hen hanya diam, mencoba memahami kondisi lily.
"Sebaiknya anda pulang, saya tidak ingin tetangga menganggap yang aneh aneh"
Lily sadar putri sudah lama di dalam kamar mandi. Dia menuju pintu kamar mandi, lalu memukulnya dengan keras sampai hen terkaget.
"Putri! Jangan boros air! Kenapa lama di dalam! " Teriak lily. Tak lama terdengar suara air berkali kali, lalu pintu terbuka.
Lily langsung meletakkan handuk kecil ke kepala putri.
"Pakai handuk, pakai baju sendiri "
Putri berlari kecil menuju tas pakaian mereka berada. Hen pun menyusul putri.
__ADS_1
"Sini ayah bantu"
Putri menggeleng"putri bisa sendiri "
Hen sadar putri berbohong karena takut di marahi bunda nya. Karena melihat putri yang kebingungan memakai pakaian.
Hen mengambil handuk yang tergeletak di lantai. Mengeringkan tubuh dan rambut anaknya dengan benar.
"Ayah... Nanti bunda marah.. " Risau putri.
"Bunda sering marah sama putri? " Tanya nya.
"Gak, bunda jarang marah"
"Biasanya kalau bunda marah karena apa ya" Tanya Hen sambil memilih baju putri.
"Pasti bunda di ejek orang lagi, makanya marah marah. "
Hen terkejut membuat aktifitas nya terhenti.
"Mereka bilang apa? "" Melanjut kan memakaikan pakaian putrinya.
Putri keliatan berfikir. " Hem... Mereka bilang gini sama bunda... 'Anakmu anak haram, makanya tidak punya ayah' , padahal kan putri punya ayah. "
Hen tertegun, mungkin karena ini lily menjadi sosok yang keras dan ketus, hanya melindungi hatinya agar tidak terlalu sakit saat mendapat ejekan orang lain.
"Putri tau apa itu anak haram? "
Putri menggeleng.
Hen bernafas lega, kalau dia tau, pasti putri akan membencinya.
"Bunda pernah pukul putri? "
"Gak pernah ayah, bunda cuma marah marah, gak pernah pukul putri"
"Bagus lah" Setelah selesai, Hen merapikan rambut putri dengan tangannya.
"Putri mau tinggal sama ayah lagi? "
"Apa kau tidak punya kerjaan?!! Jangan menghasut anakku, pergilah! " Bentak lily, dia baru selesai mandi.
...💜💜💜💜💜...
udah ada yang klik favorit untuk cerita i love you(papi) belum? 😆🙈
__ADS_1