
sella menatap keluar jendela mobil, pandangannya kosong, dua hari ini adalah hari paling menyedihkan dalam hidupnya, dia kembali menghapus air matanya yang keluar tanpa bisa di ajak kompromi.
supir dan dua wanita paruh baya yang di pekerjakan di rumahnya yang menemaninya, dia bisa merasa sebagai pengganti ibunya yang baru saya di kebumikan.
dan kabar buruk itu tadi malam di dengarnya, hari ini baru lah ibu nya di kebumikan.
tidak ada keluarga yang menemani, hanya para pekerja di rumah yang menguatkan dan mengurus segalanya, sedangkan dia larut dalam kesedihan.
suaminya juga tidak bisa di hubungi, mungkin masih bekerja atau di rumah orang tuanya.
saat mobil mendekati rumah, sella melihat suaminya berdiri di samping mobilnya, tidak bisa masuk karena memang tidak ada orang di rumah, pagar di kunci.
mobil berhenti tepat di belakang mobil rian, supir dengan terburu buru membuka gerbang.
rian langsung mengendarai mobilnya masuk ke garasi.
"bu saya minta jangan kasi tau mas rian dulu ya"
kedua pembantu di rumahnya itu sedikit bingung, tapi langsung serentak berkata.
"baik nyonya. "
bibi itu terlebih dahulu keluar dari mobil untuk membuka pintu rumah. mereka terlihat berbincang.
sebelum keluar dari mobil, dia berkaca terlebih dulu melihat mata nya sedikit bengkak, tapi tidak terlalu kelihatan.
__ADS_1
dia menghampiri rian.
"udah pulang mas? barang barang kamu mana" dia berbicara soal tidak terjadi apa apa.
"o-oh masih di bagasi, lupa. " sedikit aneh di dengar saat sella memanggil dengan sebutan mas.
"kalau gitu aku ambil dulu ya, biar di cuci"
"gak perlu, sudah di cuci di rumah mama"
"kalau gitu, aku bawa biar aku susun di lemari."
"biar saya saja yang bawa nyonya. "
rian memandang lekat sella yang sedang mengambil kopernya di bagasi, istrinya seperti berbeda hari ini.
tapi dia mengabaikannya, dia masuk lalu beristirahat di kamarnya.
****
rian bangun dari tidurnya, merasa terganggu dengan suara yang di dengarnya. setelah di dengar dengar, seperti orang menangis suaranya dari kamar mandi.
tok tok tok..
"sel... itu kamu? "
__ADS_1
langsung terdengar suara keran hidup.
"kenapa mas, aku cuma cuci muka, kalau mau makan duluan aja. "
"iya.. "
rian tidak salah dengar, sella menangis, tapi kenapa?
lalu dia turun ke dapur.
melihat "bi... apa yang terjadi para istriku, aku seperti mendengar dia menangis tadi, apa ada yang dia sembunyikan? aku rasa bibi tau."
pelayan itu sedikit ragu bercerita, tapi menurutnya ini tidak bisa di rahasiakan.
"tuan sebenarnya nyonya melarang memberitahu ini, tapi agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya harus memberitahu nya. sebenarnya ibu dari nyonya baru meninggal tadi malam, dan tadi baru di makamkan. "
rian terdiam, seketika merasa sesak di dadanya.
dia terduduk di kursi meja makan, pelayan itu pamit, karena tugasnya sudah selesai memasak makan malam.
rian merasa amat sesak di dadanya, dia merasa sangat bersalah pada istrinya, dia sungguh malu pada sella, wanita itu tetap sangat baik dan menghormatinya walaupun sudah membuat wanita itu sakit hati.
saat sella merasa terpuruk kehilangan mereka, dia tidak ada untuk mendukung istrinya, saat sella kehilangan ibunya untuk selama lamanya, dia juga tidak ada di samping wanita itu.
astaga... dia benar benar suami yang buruk, sangat buruk.
__ADS_1