Terjebak Cinta Mu

Terjebak Cinta Mu
Tidak sanggup


__ADS_3

pagi ini rega memutuskan untuk ke mansion meminta penjelasan. dia mengumpulkan seluruh pelayan di rumah itu di ruang tamu. tidak lupa juga melisa dan ranti. seluruh pelayan menunduk, melisa dan ranti bingung.


"aku mau bertanya pada mama dan ranti. " kata rega dengan suara dingin nya.


"tanya apa... mama jadi penasaran. "


"bagaimana keadaan istriku saat di sini saat aku tidak ada. " rega langsung ke intinya.


"ya.. baik baik saja. " jawab melisa tanpa dosa.


"iya kak... baik kok.... kenapa sih. " kata ranti tidak tau dosa.


rega mulai geram. "benarkah." ranti dan melisa mengangguk. "aku kasi kesempatan untuk jujur, jika tidak aku anak membakar mansion ini bersama dengan kalian semua, tak terkecuali kalian. "


melisa dan ranti yang di tunjuk pun terkejut.


"kamu kenapa sih.... mama kan sudah bilang baik baik saja.... kenapa sampai mau ikut membakar mama dan adikmu bersama rumah ini. " melisa kesal dan marah.


"aku ingin mendengar dari mama dan ranti secara langsung. sebelum aku menyelidiki sendiri dan kehilangan kendali, kalian harus jujur pada ku. "


"apa yang kamu tau. " tantang melisa.


"aku mendengar mama tidak memperlakukan nara dengan baik di rumah ini.... mama menyiksanya, menyuruhnya membersihkan mansion, tidak boleh makan dan minum. bahkan kalian mengatur, seakan dia selingkuh. oh.....apa jangan jangan....kau juga yang menyuruh pelayan untuk memasukkan obat penggugur kandungan pada nara ha? " rega ber api api.bahakan tidak memanggil melisa ibu lagi.


melisa tersenyum.. "kalau sudah tau, kenapa tanya.... is.... wanita itu memang licik." ini bukan ibu ku. pikir rega.


rega semakin marah, apalagi wajah ibunya yang seakan tidak berdosa. kemudian rega melirik pelayan, semua menunduk.


"lihat aku.!!! " rega berteriak, semua langsung melihat ke arah nya. "apa kalian tau semua ini.? " tanya rega. semua diam.


"jawab!! "


refleks semua mengangguk, tidak ada yang bicara.

__ADS_1


brakk!!!?


rega memukul meja kaca sampai retak.


"kalau kalian semua tau, kenapa kalian tidak memberitahuku ha.? apa kalian bodoh? aku yang menggaji kalian, bukan mereka(menunjuk ibu dan adiknya.). "


plak! plak! plak! plak! plak! plak! plak! plak! plak. dst.


rega menampar semua pelayan dengan seluruh tenaganya. dia sangat emosi. ingin sekali membakar mereka semua hidup hidup. karena mereka kedua anaknya tidak ada lagi. dia bahkan hampir bercerai dengan istrinya. rega memerintahkan anak buah nya mengurus ibu dan adiknya.


"ke rumah sakit" perintah rega pada supir. masih tidak menyangka dengan perlakuan ibu nya. berulang kali mengatakan maaf, seakan mengatakan pada nara. sambil menangis. dia tampak merasa bersalah dan frustasi.


sampai di rumah sakit rega langsung menuju ruang rawat nara waktu itu. tapi saat dia masuk, bukan nara lagi yang di situ. ah... mungkin di pindahkan ke ruangan lain.


"kemana wanita yang di rawat di sini sebelumnya? " rega bertanya pada perawat yang lewat.


"atas nama ibu nara ya? . " rega mengangguk. "oh itu.... saya juga yang merawat waktu itu. pasien sudah di pindah kan ke rumah sakit jiwa "


apa?


"siapa yang memerintahkan dia di pindah kan, dia tidak gila... apa kalian bodoh? " rega marah.


"maaf tuan... kami hanya menjalankan perintah. atas nama ibu melisa. "


lagi lagi mama?


rega benar benar marah. dia pergi. dia ingin ke rumah sakit jiwa menjemput istrinya.


sampai di sana dia bertanya pada seorang perawat, kemudian perawat itu mengantar rega. dia melihat banyak sekali orang tidak waras di sini, bagaimana mungkin istrinya bergabung dengan orang gila. istrinya tidak gila. berhentilah di sebuah ruangan tidak terlalu besar. rega di tinggal kan sendiri. dia belum ingin masuk, dia ingin melihat dari luar melalui pintu kaca itu.


betapa terpukulnya rega melihat ke adaan istrinya, nara tangan dan kaki nara di ikat di sisi brankar, karena dia terus berontak, dan ingin lari. ada beberapa perawat di sekitar nara yang mencoba membujuknya untuk makan, sedangkan nara tidak peduli, dia melirik ke sisi kanan dan kiri nya yang ikat sambil merengut.


tapi tunggu... kenapa perut nara sama seperti waktu hamil, tapi ini lebih kecil.rega bertanya pada suster lain di situ. tentang perut nara. dan keadaan nara selama di sini.

__ADS_1


"ooh... itu... dia sudah gila karena anaknya meninggal dia tidak Terima anak nya meninggal, jadi agar dia tidak melawan terus, suster memasukkan sesuatu ke dalam bajunya saat di tidur. agar seakan akan dia sedang hamil. tapi walau begitu, dia tetap ingin kabur, ingin menunjukkan pada suaminya katanya kalau anaknya masih ada. dia pasien yang paling sulit di tangani, semua perawat sangat sulit mengendalikannya, obat bius saja tidak mempan. " perawat itu pamit pergi.


rega mendekat. suster dan nara mengalihkan pandangannya pada orang yang baru masuk.


"sayang?... " teriak nara senang, dia tidak peduli lagi pada ikatannya, dia senang rega melihat rega. rega diam seribu bahasa, tidak sanggup melihat istrinya seperti ini. suster itu heran nara memanggil orang ini sayang.


"sayang lihat lah....anak kita masih ada.. kau pasti senang kan? " kata nara dengan ceria. "hei... lepaskan aku.... aku mau pulang, suami ku sudah datang menjemputku. lepaskan. " nara melihat suster dengan marah. suster bingung. lalu melihat ke arah rega. rega mengintruksikan agar meninggalkan mereka berdua.


tinggallah nara dan rega.


"sayang.... tolong buka ini.... aku ingin ikut dengan mu" nara cemberut sangat lucu. tapi rega melihatnya ingin menangis saja.


rega membuka ikatan di tangan nara. langsung duduk memeluk rega dengan erat, sungguh rega ingin menangis. dia masih tidak bicara sedikitpun. nara yang terus mengoceh.


"sayang.... ayo sentuh perutku... anak kita pasti senang... " nara menarik paksa tangan rega ke perutnya. tidak.... tidak.... rega tidak sanggup dengan ini, dia menangis, tangannya bergetar saat menyentuh perut buncit nara yang hanya di buat buat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


. hwaa..... 😭😭😭😭 vote vote vote


__ADS_2