
rega mencoba memberi pengertian pada nara bahwa dia tidak hamil lagi.
"sayang.... lepas ini ya.... aku udah ikhlas ya... anak kita sudah tidak ada.... lepas ya." bujuk rega.
"lepas apa sih.... mana bisa di lepas, tunggu 2 bulan lagi, dia keluar, baru bisa... gimana sih. " masih memeluk rega yang berdiri, dan dia duduk di brankar dan kaki masih terikat. dia cemberut lucu.
"dengar ya.... anak kita sudah tidak ada.... tanpa ini juga kita akan tetap bersama, kita tidak akan bercerai ya... " rega berbicara pelan pelan memberi pengertian pada nara. dia tau, nara suka ada benda itu yang di anggapnya anaknya, karena dia tau, karena anak mereka sudah tidak ada makanya rega mau cerai, jadi kalau anaknya masih ada rega tidak akan menceraikannya.
nara diam. memang itu alasannya.... awalnya ingin menuruti perkataan rega untuk melepas benda itu. tapi mengurungkan niat nya.
"gak mau.... kamu pasti bohong.... kalau di keluarkan aku sama siapa, kamu pasti cari orang lain kan... " tetap gak mau. "oh.... atau jangan jangan kamu udah punya anak dari orang lain? iya? " nara mulai berfikir negatif. "ya udah pergi sana.... aku punya anak, aku gak bakal sendiri lagi. pergi. " nara menyuruh rega pergi, tapi nara bahkan memeluk rega makin erat. memang yang keluar dari mulut tidak sesuai tindakan.
"ini karna ku.... karena aku dia jadi begini..... kalau aku tidak ada di hidupnya, dia pasti tidak begini..." batin rega sambil menangis.
rega tidak sanggup melihat nara seperti ini nanti jika mereka terus bersama, apa lagi nara yang masih menganggap anak nya masih ada, jika di bawa ke rumah, rega akan melihat tingkah laku nara yang aneh, dan itu akan membuat rega semakin ingin membunuh diri nya sendiri. rega memutuskan pergi tanpa membawa nara.
dia melepas pelukan nara, tapi pelukan itu sangat erat, mencoba lagi, tapi nara bahkan tidak bergeming. memang benar kata orang orang. seseorang yang mengalami depresi akan memiliki tenaga yang lebih kuat dari tenaga saat dia normal. mencoba lagi dengan sedikit kasar, akhirnya terlepas. rega langsung keluar, sambil menyeka air matanya.
nara yang melihat rega pergi, dia cemberut, tidak menangis, tidak berontak. dia kesal.
"kok malah benar benar di tinggal sih... " gerutu nara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. melihat kesana kemari seperti orang ling lung. melihat kaki nya, dia berusaha melepaskannya. setelah terlepas, dia tersenyum ceria. masih duduk di atas brankar dengan kaki menggantung.
__ADS_1
dia berfikir, mengingat perkataan rega tadi, rega tetap tidak akan pisah meski anaknya sudah tidak ada.
berfikir...
berfikir...
berfikir...
sambil menggaruk kepalanya.
dia melirik perutnya, menyentuhnya. dia juga sadar, tidak ada anak di sana. tapi kenapa dia bertahan bahwa dia masih hamil.
kalau di lepas, dia tidak punya siapa siapa, trus nanti gak ada kawan main, rega sudah pergi bersama anak barunya. itu yang ada di batin nara..
"yeee!!!... " nara bahagia. berarti rega akan menjemputnya jika benda itu tidak ada.... dia hanya menunggu.
berjam jam duduk di brankar masih di posisi yang sama, mengayun ayunkan kaki nya.
"lama banget sih jemputnya... kesel. " gerutu nara.
"itu nya udah aku lepas trus buang.... tapi tetap gak datang juga.... dasar pembohong.... kata nya mau bawa aku kalau itu lepas, tapi aku di tinggalin.... aku sendiri dong. " gerutu nara berbicara sendiri. dia pikir rega akan datang jika dia melepas benda itu. tapi mana nara tau itu sudah telat, mana nara tau kalau rega udah tau apa gak nara melepas benda itu. dengan polosnya menunggu rega membawa nya pulang.
__ADS_1
"huuuh.... lama banget sih... aku gak ada teman ini.... cari teman deh.... " nara pergi keluar ruangan itu untuk mencari teman katanya.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
__ADS_1
udah ahk... vote dong... tenang... nara gak sepenuhnya depresi ya... masih ada bagian dari dirinya yang masih normal