Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Posesif


__ADS_3

Julia memeluk Ben semakin erat.


Tanpa disadari oleh Julia, Theo datang dan melihat Julia berpelukan dengan Ben.


"Julia?!" teriak Theo tertahan.


Julia reflek melepaskan pelukannya pada Ben.


"Theo ... Ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa menjelaskannya," kata Julia yang masih terkejut melihat kedatangan Theo yang tiba-tiba.


Theo tidak mau mendengarkan Julia dan malah berpaling lalu berjalan cepat masuk mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan rumah Julia.


"Theo! Tunggu! Aku bisa menjelaskannya!" teriak Ben lalu menyusul Theo yang terlihat sangat marah.


Ben melihat Julia yang masih mematung di depan pintu.


"Jul! Ayo kejar Theo!" perintah Ben dengan tidak sabar.


Saat itu Theo telah menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak gas kuat-kuat. Seketika itu juga mobil Theo terlihat melaju cepat meninggalkan suara berdecit keras.


Julia dan Ben hanya menatap kepergian Theo tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Julia, kenapa kamu tidak mengejar Theo dan menjelaskannya?" kata Ben yang mengguncang-guncang tubuh Julia yang masih berdiri di depan pintu.


"Ayolah kita duduk dulu!" Ben menuntun Julia agar duduk di sofa.


"Julia, kenapa tadi kamu tidak menahan Theo dan menjelaskan semua yang terjadi?" tanya Ben bingung melihat Julia yang hanya diam terpaku.


"Sudahlah Ben. Biarkan saja," kata Julia tenang.


"Hah! Kamu ini bagaimana? Kita tadi tidak berbuat apa-apa. Aku tidak mau antara kamu dan Theo terjadi kesalahpahaman. Julia, bicaralah padanya!" Ben tidak habis pikir melihat Julia yang tidak berbuat apapun untuk membela dirinya.


"Ah biarkan saja. Theo sendiri yang tidak mau mendengarkan aku. Nanti aku juga bisa kirim pesan lewat ponselnya," Julia berbicara santai dan malah tersenyum pada Ben.


"Ya ampun Julia ... Aku merasa tidak enak karena akulah penyebab kesalahpahaman antara kamu dan Theo. Atau biar aku saja yang menjelaskan pada Theo sekarang," Ben tampak tidak sabar dan beranjak berdiri hendak pergi ke rumah Theo.


"Ben! Sudahlah! Aku bilang biarkan saja. Kamu tidak usah ikut campur antara aku dan Theo. Sekarang yang penting kita selesaikan masalahmu dengan Nadine dulu."


Ben kembali menghempaskan tubuhnya duduk di sofa. Kedua tangannya meraup wajahnya dan menghela nafas panjang.


"Ya ampun Julia ... Kamu memang tidak pernah berubah. Kamu selalu memikirkan kepentinganku dulu daripada diri kamu sendiri. Terima kasih Jul," Theo masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak habis pikir karena setelah sekian lama tidak bertemu namun sikap Julia ternyata tidak pernah berubah terhadapnya.


"Ben, apakah aku perlu berbicara dengan Nadine? Siapa tahu kamu dan Nadine sama-sama salah paham," kata Julia akhirnya setelah melihat Ben sudah kembali tenang dan menguasai diri.

__ADS_1


"Apa kamu mau?" tanya Ben tidak percaya.


"Tentu saja Ben. Aku selalu mendukungmu dan aku akan senang jika melihat kamu bahagia," ungkap Julia tulus.


Ben meraih tangan Julia, "Terima kasih Julia, kamu memang benar-benar sahabatku."


Julia saling bertatapan mata dengan Ben. Hatinya kembali gundah. Rasa cinta yang sudah terpendam lama kini seakan kembali menyeruak dan memenuhi hatinya.


Ya ampun Ben ... Kenapa melihatmu seperti ini hatiku menjadi kacau lagi?


Julia menarik dan melepaskan tangannya dari genggaman Ben. Tiba-tiba merasa salah tingkah. Julia menundukkan kepalanya menyembunyikan matanya yang pasti terlihat jika ia mendambakan Ben yang masih dicintainya.


"Ben, tenanglah. Besok aku akan berbicara pada Nadine. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa karena semua keputusan ada di tangan Nadine," kata Julia menarik napas dalam mengatur emosinya yang kacau.


"Sekali lagi terima kasih Jul," tulus Ben berkata.


**


Julia memandangi langit-langit kamarnya. Otaknya masih berputar hingga dirinya tidak dapat tidur malam ini.


Julia sudah membuat janji untuk bertemu Nadine besok malam. Namun dalam hati Julia merasa bimbang. Akan senangkah ia jika Ben dan Nadine benar-benar putus? Tapi jika demikian berarti dia merasa menjadi seorang pengkhianat pada sahabatnya sendiri.


Tapi saat ini pun Julia juga memikirkan masalahnya sendiri dengan Theo karena hingga malam ini, Theo tidak mau mengangkat telpon darinya. Bahkan nomor ponsel Julia sudah diblokir sehingga Julia tidak dapat mengirim pesan pada Theo.


Julia menyadari jika setelah sekian lama berpacaran dengan Theo, sekeras apapun usahanya untuk menumbuhkan cintanya pada Theo, semua itu benar-benar gagal.


Julia hanya merasa sayangnya pada Theo seperti kepada kakak. Tidak lebih dari itu.


Julia menarik nafasnya panjang. Mengapa setelah sekian lama cintanya pada Ben masih sama dan tidak bisa hilang dari hatinya.


**


Sudah hampir 15 menit Julia menunggu Nadine di Coffe Shop yang sudah disepakati. Bolak-balik Julia memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hatinya merasa was-was jika tiba-tiba Nadine membatalkan janjinya untuk bertemu.


Julia memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya namun tidak ada satu pun pesan dari Nadine.


Saat melihat ke pintu masuk Coffe Shop, Julia merasa sangat lega melihat Nadine yang berjalan ke arah meja yang ditempatinya.


"Hai Julia, maaf terlambat habisnya tadi sedikit macet di jalan," sapa Nadine sambil duduk di kursi depan Julia.


"Nggak apa-apa kok Nadine. Aku juga belum lama sampai di sini," sapa Julia tersenyum.


Julia mempersilahkan Nadine memesan minuman karena Julia sudah memesan untuk dirinya. Setelah semua pesanan minuman dan camilan datang, Julia dan Nadine sama-sama menikmatinya bersama.

__ADS_1


"Julia, aku tahu maksud dan tujuanmu untuk mengajakku bertemu," kata Nadine membuka percakapan diantara mereka.


"Kamu yakin dengan keputusanmu untuk menyudahi hubunganmu dengan Ben?" tanya Julia hati-hati.


"Ya begitulah," Nadine tiba-tiba merasa sedih. Terlihat dari air muka dan matanya yang sendu.


"Tapi kan kalian masih saling mencintai?" Julia bertanya lagi berusaha memahami.


"Kalau aku masih cinta dengan Ben. Tidak tahu bagaimana perasaan Ben padaku."


"Nadine, Ben sangat mencintaimu. Dia tidak ingin putus denganmu. Kalian kan sudah lama berpacaran dan akan segera bertunangan," bujuk Julia.


"Tapi Ben menuduhku telah menduakan dia Jul," kata Nadine mulai agak emosi.


"Mungkin Ben cemburu. Setelah kamu jelaskan kesalahpahaman ini, pasti Ben bisa mengerti."


"Ben sudah menuduhku dan bilang jika dia punya buktinya. Padahal aku setia padanya. Jika seperti itu berarti Ben tidak percaya kepadaku. Untuk apa melanjutkan hubungan yang tidak didasari kepercayaan?" Nadine menumpahkan perasaannya pada Julia.


"Jadi kamu sama sekali tidak berselingkuh?" tanya Julia.


"Tentu saja tidak! Biarlah kita putus. Aku tidak bisa punya hubungan yang tidak ada kepercayaan di dalamnya. Aku juga tidak suka selalu di cemburui," jelas Nadine lagi.


"Apakah Ben cemburuan? Setahuku Ben yang aku kenal tidak begitu," tanya Julia tidak percaya.


"Iya Jul ... Awal hubungan kami memang Ben biasa saja. Tapi lama kelamaan dia berubah menjadi posesif dan aku mulai merasa tidak nyaman. Biarlah kita putus saja," kata Nadine akhirnya dengan mata berkaca-kaca.


Walaupun merasa sangat sedih, tapi Nadine sudah mantap mengambil keputusan.


"Nadine, aku tidak bisa memaksamu untuk terus berpacaran dengan Ben. Jika memang itu keputusanmu, aku berharap adalah yang terbaik bagi kalian berdua," Julia berkata dengan lirih. Walaupun dia mencintai Ben, namun Julia tidak ingin menjadi egois.


Dia hanya ingin melihat Ben bahagia walaupun wanita pilihan Ben bukanlah dirinya.


"Terima kasih Julia. Tolong sampaikan pada Ben agar melupakan aku. Tolong jaga Ben," Nadine mengusap air matanya dengan tissue.


"Aku tidak tahu harus berkata apa karena aku tidak bisa berbuat apapun untuk kalian," kata Julia merasa menyesal.


Nadine meraih tangan Julia dan menggenggamnya," Terima kasih Julia."


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2