Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Menyongsong Kebahagiaan


__ADS_3

Langit yang cerah di hari Minggu siang. Wajah-wajah ceria dengan senyum yang selalu tersemat di bibir mereka, seakan ikut merasakan kebahagiaan sepasang kekasih yang mengikat janji.


Julia dan Ben, mengikat janji kembali dalam ikatan pernikahan. Acara tertutup yang hanya dihadiri keluarga saja, terasa sangat istimewa.


Memang Julia dan Ben ingin acara pernikahan yang sederhana saja, yang terpenting adalah cinta kasih yang terikat kuat diantara keduanya.


"Julia, aku menerima engkau sebagai istriku. Aku akan selalu setia padamu, baik dalam suka dan duka, sehat dan sakit, kelebihan dan kekurangan hingga maut memisahkan kita," ucap Ben dengan sepenuh hati menatap mata Julia dengan cinta yang terpancar di sana.


"Benjamin, aku menerima engkau sebagai suamiku. Aku akan selalu setia baik dalam suka dan duka, sehat dan sakit, kelebihan dan kekurangan hingga maut memisahkan kita," ucap Julia sepenuh hati.


Kini keduanya telah resmi dinyatakan sebagai suami istri. Rona kebahagian terpancar dari wajah Julia dan Ben. Arka yang duduk di depan menyaksikan pernikahan Mamanya, tersenyum bahagia. Memang inilah keinginannya agar Papa Ben benar-benar menjadi papanya yang sesungguhnya.


Ben mencium kening Julia dengan tulus. Ada rasa dejavu yang dirasakannya, karena ia memang pernah menikah dengan Julia bertahun-tahun yang lalu.


Tapi kini sangat berbeda. Ia kini benar-benar mencintai Julia. Senyum kebahagiaan terpancar dari mata Ben karena Julia menjadi miliknya seutuhnya.


Pesta pernikahan yang digelar di sebuah hotel berlangsung meriah walaupun hanya keluarga saja yang menyaksikan. Namun Julia merasakan kebahagiaan di hatinya. Ia siap menyambut kebahagiaan bersama Ben, yang kini adalah suaminya.

__ADS_1


Selesai acara pernikahan, malamnya Julia, Ben dan Arka menginap di hotel karena esoknya mereka akan terbang ke Bali untuk berbulan madu. Namun kali ini sangat berbeda karena bulan madu ini bertema keluarga, Arka ikut serta.


Cinta kasih antara Ben dan Julia kini berbeda, tidak menggebu-gebu seperti dulu karena kini mereka jauh lebih dewasa dan telah mengarungi berbagai hal kehidupan yang tidak mudah. Yang diperlukan hanyalah cinta yang nyaman bagi hati keduanya.


Setelah Arka tidur pulas, Julia mengambil sebuah amplop putih dari Karel yang akan dibukanya saat ia menikah, begitulah pesan Karel. Ben kemudian duduk di samping Julia sambil memeluknya.


"Bukalah, Jul. Aku akan di sini menemanimu," ucap Ben lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Julia.


Dengan hati-hati, Julia membuka amplop putih itu.


Untuk sayangku, Julia.


Hari ini aku ikut berbahagia karena kamu telah kembali merajut cinta dalam ikatan pernikahan. Aku akan terus mendoakan agar kamu selalu bahagia, siapa pun pilihanmu karena aku yakin itulah yang terbaik untukmu.


Jangan pikirkan aku lagi, simpanlah kenangan indah kita di hati agar tetap menjadi satu bagian indah dalam hidupmu.


Songsonglah kehidupan pernikahanmu dengan bahagia. Ingatlah, aku akan selalu menyayangimu, Julia.

__ADS_1


With love, Karel.


Julia menitikkan air matanya, ia selalu tak bisa menahan kesedihannya jika mengingat Karel. Namun kini ada sepasang tangan yang memeluknya dengan sayang.


"Sstt ... Menangis lah, aku akan selalu di sini menemanimu," ucap Ben yang memberikan dadanya untuk tempat Julia menumpahkan rasa sedihnya. Ben menyadari jika ia kini harus bersikap dewasa, tidak akan pernah merasa cemburu pada Karel. Karena ia tahu, Karel adalah bagian dari kehidupan Julia yang akan selalu ada di hatinya.


"Terima kasih, Ben," kata Julia setelah lama ia baru bisa menguasai diri.


"Aku selalu ada di sini, Jul. Aku mencintai dan menyayangimu," ucap Ben lalu mencium kening Julia.


"Aku mencintaimu juga, Ben."


Julia dan Ben saling bertatapan, rasa cinta terpancar dari mata keduanya. Ada harapan di sana, bahwa kehidupan pernikahan yang akan mereka jalani akan selalu diliputi kebahagiaan.


**T A M A T**


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2