
"Theo, tolong buatlah aku hamil," kata Nadine mantap menatap mata Theo.
Theo menyipitkan matanya tidak habis pikir dengan apa yang Nadine katakan baru saja.
"Theo! Please jawab aku," pinta Nadine yang kini meraih tangan Theo.
Karena terkejut, Theo pun mengibaskan tangannya dan genggaman Nadine pun terlepas.
"Nad, apa kamu sudah gila?!"
"Aku memang harus gila menghadapi situasiku sekarang," saut Nadine sambil meminum kopinya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Kamu minta aku menghamilimu? Lalu bagaimana dengan Ben?" Theo kini merasa penasaran akan alasan Nadine.
"Kau tahu? Aku diberi waktu satu tahun agar bisa hamil, namun sekarang situasinya berbeda. Ben sangat jarang menyentuhku," ucap Nadine yang terdengar getir di telinga Theo.
"Kenapa?"
"Kurasa saat ini Ben mulai memberikan hatinya untuk Julia," kata Nadine yang kini merasa marah.
"Haha ... Kamu seorang Nadine, apa Julia telah mengalahkanmu?"
"Tentu saja aku bisa mengalahkan Julia, tapi sekarang situasiku sedang sulit. Aku tidak punya banyak pilihan jika harus tetap bertahan disamping Ben. Theo ... Tolong aku!"
"Lalu apa untungnya bagiku?" tanya Theo yang masih berusaha memahami tujuan Nadine.
"Tentu saja kamu akan memiliki anak! Aku tahu kamu telah lama menikah tapi istrimu belum hamil kan?"
"Aku baru menikah setahunan, belum terlalu lama dan aku tidak terburu-buru," saut Theo.
"Tapi kamu bisa membalas Ben yang dulu telah merebut Julia dari kamu. Dengan punya anak dari aku, Ben tidak akan tahu jika anak yang aku kandung adalah anakmu. Ini perjanjian kita," jelas Nadine.
"Haha ... Kamu itu tidak bisa dipercaya! Kamu ingat dulu perjanjian kita? Kamulah yang mengingkarinya," kata Theo menatap lurus mata Nadine.
"Maaf Theo, aku akui aku salah. Tapi dulu aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada. Dulu kita sudah sepakat agar kau menjaga Ben tetap disampingmu dan aku bisa dengan tenang memiliki Julia. Namun kamu ingkar." Karel mengungkit kenangan lamanya bersama Julia.
Sepenggal kisah indah dalam hidupnya saat Julia masih menjadi kekasihnya. Namun semua itu buyar saat Ben putus dengan Nadine waktu itu.
"Maafkan aku Theo. Situasiku saat itu benar-benar gawat. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk melanjutkan hidup dan dengan terpaksa aku menerima lamaran seorang pria kaya walaupun hanya menjadi istri kedua."
"Sudah, aku tahu semua kisah hidupmu."
"Theo, sekarang waktunya kita balas Ben dan Julia. Bagaimana?" tanya Nadine sangat berharap.
"Haha ... " Theo tertawa dengan ide gila Nadine.
__ADS_1
"Theo, aku beri waktu untukmu berpikir. Aku tidak mendesakmu karena aku pernah ingkar janji padamu dan seharusnya kamu tidak mempercayaiku lagi," kata Nadine yang kini memandangi langit-langit kafe yang dihiasi lampu temaram. Membuat suasana romantis bagi pasangan yang dimabuk cinta.
"Kenapa kamu memilih aku?" tanya Theo penasaran.
"Jangan salah sangka, aku tidak jatuh cinta padamu. Kita hanya kawan baik," kata Nadine tersenyum.
"Lalu?"
"Aku memilihmu karena aku yakin kamu masih menyimpan sakit hati terhadap Ben dan Julia. Theo ... Pikirkanlah baik-baik tawaranku."
Terjadi jeda yang lama, Nadine dan Theo sama-sama terdiam memikirkan apa yang hendak mereka putuskan.
"Theo, Minggu depan pas sekali waktu suburku. Aku akan memberitahumu hari, tempat dan jamnya. Aku tunggu kamu disana. Jika kamu tidak datang, aku akan menerimanya dengan lapang dada," jelas Nadine dengan hati-hati.
Sejujurnya Nadine ingin memaksa Theo, namun ia tidak punya apapun yang dapat ia gunakan untuk menekan Theo agar mengabulkan keinginannya.
"Oke Nad, aku akan memikirkannya," kata Theo akhirnya.
Nadine tersenyum manis di ujung bibirnya, hatinya lega karena sepertinya keinginannya akan terlaksana.
***
Julia dan Karel bergandengan tangan menyusuri pasir di pinggir pantai. Sesekali Karel tak kuasa menahan untuk mencium rambut Julia yang tampak berkilauan dibawah sinar matahari.
Yah ... inilah bulan madu terindah yang Julia rasakan. Ia menikmati hari-harinya sebagai pasangan kekasih yang penuh cinta.
Seminggu terasa sangat singkat bagi Julia dan Karel. Mereka masih ingin terus berduaan seperti ini.
"Karel, aku sedih besok kita sudah harus kembali."
"Aduh sayang, kenapa sedih? Kan bulan madu tidak harus disini. Aku bisa lho bercinta denganmu setiap hari," goda Karel.
"Ih ... Bukan itu Karel! Aku ingin liburan saja!" Seketika Julia malu jika Karel mengingatkan dirinya tentang malam-malam panas yang mereka jalani.
"Iya sayang haha ... " Karel tertawa senang jika setiap kali Julia malu, pipinya akan memerah seperti kepiting rebus.
Karel berlari karena Julia ingin mencubit pinggangnya. Tertawa bahagia di sepanjang pantai, Karel dan Julia benar-benar menikmati saat-saat indah mereka.
Pagi harinya, Karel dan Julia telah bersiap berangkat ke bandara untuk kembali pulang. Julia sedang mengecek lagi agar tidak ada barang-barang yang tertinggal.
Tiba-tiba Karel memeluk Julia dari belakang.
"Sayang, liburan akhir tahun ini kita kesini lagi ya," bisik Karel di telinga Julia.
"Iya sayang, terima kasih ya," balas Julia lalu mencium bibir Karel.
Saling berciuman dan memeluk dengan erat, tangan Karel mulai tidak bisa terkondisikan. Seketika gairah menyeruak diantara mereka.
__ADS_1
Tok tok tok ...
Julia dan Karel terkejut dengan suara ketukan di pintu. Ternyata petugas hotel memberitahu jika mobil yang akan mengantar ke bandara telah tiba.
Julia mengatur nafasnya dan memupus gairah yang menggelegak dalam dirinya.
Theo yang melihat Julia malah tersenyum geli.
"Sabar sayang, tunggu malam ini ya," kata Karel mencolek pipi Julia.
Julia mencebik dan berjalan menjauhi Karel. Malu dengan dirinya sendiri.
Sepulang dari bulan madu, Karel langsung mengajak pulang ke rumah baru yang telah Karel persiapkan.
Karel tidak mau menempati rumah Julia yang lama dan Julia pun mengikuti kemauan Karel karena memang Karel lah suaminya.
"Wow ... Rumahnya indah sekali Karel," pekik Julia saat berdiri di depan rumah baru.
"Ini semua untukmu sayang," kata Karel lalu mencium pipi Julia.
"Terima kasih sayang," balas Julia.
Rumah ini memang indah. Dengan dua lantai dan ada kolam renang kecil di belakang rumah, tak lupa taman asri yang menghiasi samping kolam renang, membuat rumah baru Julia dan Karel nyaman untuk ditinggali.
"Sengaja aku cari rumah yang agak besar agar cukup jika kita nanti punya anak-anak Jul," kata Karel tersenyum.
Julia sangat senang dengan semua kasih sayang dan perhatian yang diberikan Karel. Ia hanya bisa terus bersyukur mendapatkan seorang Karel yang sangat mencintainya.
***
Jam telah menunjukkan pukul 8 malam, Nadine duduk di kursi yang tersedia di suite room hotel yang telah dipesannya.
Beberapa kali Nadine melihat pesan yang masuk ke ponsel, namun ia harus menelan kekecewaan saat tak ada satu pun pesan dari Theo.
Kemarin ia telah mengirimkan tempat dan waktunya pada Theo, namun telah satu jam ia menunggu, Theo belum datang juga.
Nadine telah mempersiapkan dirinya malam ini. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menghabiskan malamnya bersama Theo dan berharap rencananya ini berhasil.
Menit demi menit pun berlalu, Nadine mulai kehabisan kesabaran. Saat ia hendak menghubungi Theo, terdengar suara ketukan di pintu.
Nadine cepat-cepat membuka pintu dan seketika senyum cerah menghiasi wajahnya.
"Akhirnya kamu datang juga ... "
-
-
__ADS_1
-
-