
Ben memacu mobilnya menuju rumah Julia. Ia menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya. Saat pulang ke rumah tadi, ia berharap masih bisa bertemu Julia, namun ternyata Julia sudah pulang.
Dipicu rasa kangen yang sudah meluap di dadanya, Ben memacu mobilnya ke rumah Julia. Hatinya kini merasa merana, sedih jika mengingat apa yang telah dilakukannya pada Julia.
Ia baru menyadari cintanya pada Julia setelah kehilangan wanita itu. Bertahun-tahun Julia telah mencintainya, namun dirinya sama sekali tidak peka dan tidak berusaha untuk membalas cinta Julia.
Malahan ia lebih memilih Nadine yang ternyata membohonginya. Kata bodoh saja tidak cukup untuk dirinya.
Ia melepaskan wanita yang tulus mencintainya dan kini ia sangat menyesal telah melepaskannya. Ben berharap ia belum terlambat untuk mendapatkan kembali hati Julia.
Ben menambah kecepatan mobilnya, ia menyalip mobil yang ada di depannya. Tak sabar dengan padatnya lalu lintas hari Minggu malam ini.
Saat sudah sampai di rumah Julia, Ben segera turun dari mobil. Ia yakin Julia ada di rumah karena lampu rumah tampak sudah menyala.
Pikirannya kembali pada kenangannya saat masih tinggal di rumah ini. Hatinya berdesir pedih, ia hanya memiliki kenangan sebuah rumah tangga yang terasa kosong.
Semua itu memang salahnya sendiri.
Dengan langkah pasti, Ben membunyikan lonceng dan tak lama kemudian Julia membuka pintu. Seperti biasa, Julia menyambutnya dengan sebuah senyuman.
Senyuman yang kini selalu menghantui malam-malamnya yang dingin.
"Ben? Ada apa malam begini datang?" tanya Julia menyambut Ben.
"Halo Jul, boleh aku masuk?" Tanpa menunggu jawaban Julia, Ben langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.
Julia membiarkan pintu rumah terbuka, ia merasa tidak nyaman jika nantinya menjadi bahan gunjingan tetangga karena jam telah menunjukkan 9 malam.
"Ben, ini sudah malam ada apa kesini?" tanya Julia sabar.
"Jul, aku kangen sekali padamu. Kenapa tadi kamu datang ke rumah tapi tidak menungguku pulang?"
"Kan aku ada perlu hanya dengan Mama Tyas. Sekarang pulanglah Ben, Nadine pasti menunggumu," bujuk Julia dengan hati-hati.
"Pasti Nadine yang menyuruhmu untuk membujukku pulang kan?" Ben merasa tidak terima.
"Ben, mulailah dari awal hubunganmu dengan Nadine. Jika kamu berbesar hati dan memaafkannya pasti pernikahan kalian akan bahagia," kata Julia.
"Tapi aku mencintaimu Jul."
"Aku tidak bisa menerima cintamu Ben. Sekarang hatiku hanya milik Karel. Pulanglah dan perbaikilah pernikahanmu."
"Aku sangat sedih mendengar kamu menolak aku Jul. Tapi kau benar, aku akan pulang dan berusaha memaafkan Nadine," kata Ben akhirnya.
"Ya sudah, sana kamu pulang."
__ADS_1
Julia bangkit berdiri namun seketika ia terkejut melihat Karel ada di ambang pintu.
"Karel ... "
Karel menatap Julia dan Ben bergantian. Tatapannya menyiratkan amarah yang meluap.
Julia takut melihat mata Karel, padahal kedatangan Ben saat ini tidaklah seperti yang disangka Karel.
"Karel, duduklah. Ini tidak seperti yang kau bayangkan," kata Julia memberanikan diri.
"Aku tidak sudi duduk diantara kalian berdua," kata Karel sengit lalu berjalan menuju mobil yang diparkir di belakang mobil Ben.
Karel tadi hanya sedang belajar melatih kakinya untuk menyetir. Ia merasa rindu dengan Julia dan secara tak sadar mengemudikan mobilnya ke rumah Julia.
Namun ia terkejut saat melihat mobil Ben terparkir di halaman rumah Julia.
Hatinya seketika mendidih menahan amarah. Bagaimana tidak jika hari telah malam dan Ben berani datang ke rumah Julia.
"Karel! Karel! Dengarkan penjelasanku! Ini tidak seperti yang kamu duga," teriak Julia di luar mobil.
Karel tidak peduli dan tetap menstater mobilnya. Diinjaknya gas kuat-kuat dan meninggalkan Julia yang masih meneriakkan namanya.
Julia berdiri memandangi kepergian Karel. Sedih karena Karel tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
"Tidak biasanya Karel marah seperti itu."
"Tenangkan dirimu Jul, mungkin besok Karel sudah mau mendengarkanmu bahwa tidak ada hal yang terjadi diantara kita," kata Ben lirih.
Hatinya pun merasa bersalah karena kini Julia malah bertengkar dengan Karel karena kehadirannya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa senang dan berharap Julia kembali padanya.
"Semoga saja Ben."
Setelah Ben pulang, ia langsung bergegas masuk ke kamar dan mencari ponselnya. Julia berusaha menghubungi Karel, namun nomor ponsel Karel tidak dapat dihubungi.
Julia sadar jika Karel telah salah paham. Ia bertekad besok akan menjelaskannya di kantor.
***
Sementara itu, Ben mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Bagaimana pun ia tidak bisa terus menghindar dan harus menghadapi Nadine.
Setelah melihat Julia sedih kembali karena dirinya, Ben bertekad tidak akan mengganggu Julia lagi.
Biarlah cinta untuk Julia akan ia pendam dalam hati. Sekarang ia harus memulai kembali hubungannya dengan Nadine.
Saat sampai rumah, Nadine membuka pintu rumah dan terlihat sangat terkejut. Tak menyangka Ben akan pulang kembali.
__ADS_1
Nadine memeluk Ben dengan erat.
"Terima kasih Ben, kamu sudah pulang," ucap Nadine serak menahan tangis harunya.
"Harusnya kamu berterima kasih pada Julia yang sudah membujuk aku pulang," kata Ben santai tidak peduli.
"Nad, ingat ya waktumu hanya setahun. Jika kamu belum bisa hamil, kau tahu kan akibatnya?" Ben berkata sinis.
"Ben, bagaimana aku bisa hamil jika kamu menjauhiku seperti ini?"
"Lalu?"
"Ya ampun, apa aku harus mengatakannya dengan jelas? Kita harus melakukan hubungan suami istri agar aku bisa hamil," kata Nadine yang merasa harga dirinya rendah di mata Ben.
"Oh itu maumu, baiklah. Aku mau mandi dulu."
Nadine menatap Ben yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia sangat senang akhirnya Ben pulang, namun hatinya merasa sedih karena Ben seperti fisiknya saja yang pulang, sedangkan hatinya entah ada dimana.
Nadine hanya duduk di tepi ranjang menunggu Ben.
Saat Ben telah selesai mandi, tak menunggu waktu lama, ia langsung menyambar Nadine dan memulai percintaan mereka.
Nadine merasa Ben sangat berbeda, ia jadi lebih kasar. Namun Nadine tetap melayaninya dan bersabar agar Ben kembali mencintainya.
Namun saat Ben berada di puncak kenikmatannya, ia menyebut nama 'Julia' dengan lirih.
Ben terlihat tidak sadar saat menyebut nama Julia, namun telinga Nadine tidak mungkin salah dengar.
"Ben! Kamu menyebut Julia?!" kata Nadine tidak terima.
"Oh benarkah?" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Ben. Tidak merasa bersalah sama sekali.
Ben lalu berdiri meninggalkan ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Nadine memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Perih hatinya menerima ini, kebencian yang dipendamnya sekian lama pada Julia seketika menyeruak.
Julia, tunggu saja apa yang akan aku perbuat padamu!!!
-
-
-
-
__ADS_1