
Theo berjalan ke arah Nadine yang langsung disambut dengan senyum manis yang Nadine lemparkan.
"Lama sekali kamu, Theo?" tanya Nadine dengan senyum di ujung bibirnya.
"Maaf tadi ngantri dulu di toilet. Nad, kamu kelihatan capek. Sini biar aku yang gendong Arka," ucap Theo santai dan mendekati Nadine.
"Enggak ah."
"Nad, nanti kamu kecapekan. Perjalanan nanti kan akan lama, biar aku gendong Arka dulu. Kamu bisa makan atau minum atau terserah kamu," bujuk Theo.
Tiba-tiba Nadine bergerak menjauhi Theo. "Kenapa? Supaya kamu bisa membawa Arka? Kamu pikir aku bodoh?!"
"Kamu ini bicara apa, Nad?! Sini biar Arka sama aku dulu!" Theo mulai tidak sabar dan mendekati Nadine untuk merebut Arka.
"Jangan coba-coba! Apa kamu sudah lupa aku ini siapa?!"
Wajah Nadine kini terlihat sinis dan matanya nampak jahat. Hanya kebencian yang terpancar dari matanya. Dan sepertinya ia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya.
Theo berdiri mematung, bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Semua rencana sudah buyar karena terlalu percaya diri, meremehkan Nadine. Ia juga tidak membuat rencana cadangan untuk situasi darurat seperti ini. Kini dalam benaknya, hanya keselamatan Arka lah yang harus ia utamakan.
Sementara itu Ben dan beberapa polisi mengamati dari kejauhan. Mereka tahu jika situasi sudah tidak kondusif dan mereka butuh rencana baru.
Polisi masih bersabar menunggu, memberi waktu untuk Theo bisa mengatasi keadaan dan menyelamatkan Arka terlebih dahulu. Namun Ben tidak sabar dan tidak mau mendengarkan kata polisi.
Ben setengah berlari menuju tempat Theo dan Nadine berdiri. Teriakan tertahan polisi tak ia gubris.
"Haha akhirnya kau keluar juga dari tempat persembunyianmu ya," ucap Nadine sinis melihat Ben.
Theo membelalakkan matanya melihat Ben, yang ia yakini akan membuat posisi mereka semakin sulit.
"Nadine! Serahkan Arka padaku!" perintah Ben tegas.
Arka yang mendengar keributan di sekelilingnya tampak terbangun dan mulai menangis. Nadine pun berusaha menenangkan Arka sambil berpikir jika ia harus bisa kabur dari Theo dan Ben. Tangisan Arka yang semakin kencang membuat Nadine mulai marah.
'Diam!" teriaknya pada Arka yang semakin membuat tangisan Arka bertambah kencang.
__ADS_1
"Pa pa pa," teriak Arka memanggil Ben di sela-sela tangisnya.
Ben berusaha merebut Arka, namun tak disangka, Nadine mengeluarkan sebotol air berwarna merah dari saku celananya.
"Kalian tahu ini apa? Cabe bubuk dan merica. Aku selalu membawanya untuk senjata dalam situasi darurat. Kalau kalian berani mengambil Arka, cairan ini akan aku semprotkan ke mata Arka!"
"Jangan, Nad!" teriak Theo.
"Jangan, Nad! Please, dia masih bayi, kasihan dia. Bila kamu dendam sama aku, sakiti saja aku," kata Ben berusaha membujuk.
"Haha kalian takut juga rupanya," ucap Nadine senang akan ancamannya yang terlihat berhasil.
Theo dan Ben mengamati sekeliling dan menyadari jika polisi mulai bergerak, mengepung mereka. Tugas Ben dan Theo adalah mengulur waktu agar polisi bisa melumpuhkan Nadine di saat yang tepat tanpa membahayakan keselamatan Arka.
"Haha ... kamu memang sayang sekali dengan anak ini. Ya kan, Ben?!" teriak Nadine dengan tangannya yang siap menyemprotkan cairan cabe ke wajah Arka. Sementara tangisan Arka masih kencang.
"Nad, apa maumu?" tanya Theo tenang.
"Kalian berdua, tega sekali padaku. Kalian orang jahat! Lepaskan aku dari sini dan aku akan memberikan Arka pada kalian!" ucap Nadine penuh kebencian.
"Haha ... kalian pikir aku bisa kalian bodohi lagi?!"
"Kamu sama sekali nggak bodoh, Nad," bujuk Ben yang berusaha agar mata Nadine hanya tertuju kepadanya dan kewaspadaannya berkurang.
Saat itulah polisi bergerak. Memukul tengkuk Nadine dari arah belakang. Arka yang akan terjatuh langsung ditangkap dengan sigap oleh Ben. Sementara Theo merebut cairan cabe dari tangan Nadine.
"Sayang ... cup cup anakku," bujuk Ben menenangkan Arka.
"Pa papa," ucap Arka mulai tenang berada di pelukan Ben.
Theo memberikan botol susu pada Arka dan Arka pun mulai diam dan tenang dalam pelukan Ben. Sementara polisi mengamankan Nadine.
Julia yang baru saja sampai, berlari kencang ke arah Arka. Irfan menyusulnya dari belakang. Saat dilihatnya Arka dalam pelukan Ben, hati Julia sangat lega.
"Arka, anakku!" teriak Julia memeluk Arka. Air matanya tak berhenti menangis, diciuminya Arka dengan sayang.
__ADS_1
Ben memberikan Arka pada Julia dan Ben tetap menggenggam tangan Arka, menenangkannya. Bertiga mereka berpelukan dengan erat.
Irfan yang baru saja sampai, melihat pemandangan di depannya dengan hati yang campur aduk. Senang karena Arka selamat, tapi entah mengapa pemandangan Ben memeluk Julia dan Arka terasa seperti sebuah keluarga, ikatan batin yang dalam. Hatinya terasa perih.
"Pak Theo, ini Nadine akan kami bawa ke kantor polisi. Dia akan ditahan dengan tuduhan penculikan anak dan pemalsuan dokumen," kata Polisi. Sementara Nadine sudah mulai sadar.
"Baik, Pak. Ini adalah Julia, ibunya Arka." Theo mengenalkan Julia pada Polisi yang ada di sana.
"Selanjutnya kami akan meminta keterangan dari anda semua, terutama Ibu Julia dan Pak Theo," ucap Polisi.
Julia dan Theo menyetujui permintaan polisi dan bersedia memberikan keterangan untuk kelancaran proses penahanan Nadine. Namun karena hari sudah mulai malam, sementara hanya Theo saja yang ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangannya.
"Theo, terima kasih banyak untuk semua bantuanmu," ucap Julia tulus sebelum Theo berlalu pergi bersama polisi.
Theo hanya menganggukkan kepalanya. Ia merasa senang bisa membantu Julia. Awalnya ia memang tidak berencana akan melakukan hal ini untuk Julia. Tapi saat Nadine terus membujuknya untuk membantu membawa Arka pergi ke luar negeri, Theo merasa tidak tega. Ia sangat tahu bagaimana sakitnya jika kehilangan anak, karena ia kini telah memiliki seorang putri yang sangat disayanginya.
Nadine yang sudah sadar, dibawa polisi dengan tangan diborgol. Sebelum pergi, Nadine sempat menatap tajam mata Julia. Sekarang barulah Julia menyadari jika Nadine hanya memiliki kebencian padanya. Selama ini ternyata Nadine hanya bersandiwara untuk mencelakakan dirinya.
Namun disaat yang bersamaan, Julia juga merasa kasihan pada Nadine. Tapi untuk saat ini, ia tidak mau untuk dekat-dekat dengan Nadine.
Irfan hanya berdiri mematung, ia tidak tahu akan bagaimana. Keadaan sudah terkendali dan tenang kembali. Rasanya ia ingin sekali memeluk Arka, tapi ia tidak dekat dengan Arka dan sudah bisa dipastikan jika Arka akan menolaknya. Irfan pun berjalan mendekati Julia.
"Jul, tidak apa-apa. Yang penting Arka sudah selamat," ucap Irfan berusaha memeluk Julia.
Tapi saat Julia akan menjawab, Arka meronta dari gendongannya dan menunjuk Ben.
"Pa Papa," ucap Arka ke arah Ben.
"Sayang, sini Papa gendong," kata Ben yang mengerti kemauan Arka. Julia pun menyerahkan Arka pada Ben. Memang Arka selalu bersikap manja pada Ben.
Arka terlihat kegirangan dan dia mulai tertawa saat Ben mencium sembari menggelitiknya. Julia tersenyum melihat wajah senang Arka, akhirnya Julia mendekati Arka dan menciumnya. Ia pun melupakan keberadaan Irfan yang berdiri tak jauh darinya.
-
-
__ADS_1
-