
Satu tahun kemudian ....
"Jul, kita sudah menjalani hubungan kasih kita lebih dari satu tahun, aku ingin segera melamarmu," ucap Irfan menggenggam tangan Julia saat mereka makan malam berdua di sebuah cafe.
Sore setelah pulang kantor, Irfan mengajak Julia untuk makan malam bersama. Hal ini memang sering mereka lakukan.
Julia hanya terdiam, menunduk mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Irfan. Merasa bingung akan menjawab apa. Hatinya masih bimbang, ternyata waktu setahun tidak cukup membuat Julia mantap untuk menerima Irfan menjadi pendamping hidupnya.
"Jul, kenapa kamu belum menjawab? Aku kan sudah menunggumu lama. Apa kamu hanya ingin kita berpacaran saja tanpa ada ikatan? Itukah maumu?" tanya Irfan menekan Julia.
"Bukan ... bukan seperti itu!" saut Julia cepat.
"Lalu apa kalau begitu? Kita saling mencintai kan?!"
"Ya, aku mencintaimu. Tapi Arka .... " Julia bimbang akan apa yang akan diutarakannya.
"Apa kamu mau bilang kalau Arka tidak mencintaiku?! Jul, aku sayang banget sama Arka," ucap Irfan cepat.
"Tapi Fan, kamu bisa merasakan sendiri kan kalau Arka seperti tidak nyaman jika bersamamu. Walaupun dia belum bisa mengatakannya tapi aku merasa jika Arka belum bisa menerimamu," kata Julia akhirnya mengutarakan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Jul, aku sayang sekali pada Arka."
"Aku tahu, Fan. Tapi hanya mengatakannya saja tidak cukup. Bukankah cinta tanpa perbuatan adalah suatu kesia-siaan?!" ucap Julia memberanikan diri mengatakan semuanya pada Irfan. Karena memang selama inilah yang ia rasakan.
Irfan memang sering datang ke rumah Julia, tapi yang Julia rasakan Irfan hanya ingin bertemu dengannya. Bahkan jika Irfan ingin mengajak Julia makan di luar, terkadang Julia juga ingin mengajak Arka tapi Irfan sering melarangnya dengan mengatakan berbagai alasan. Arka terlihat sudah lelah, mengantuk atau tempat resto yang akan dituju lumayan jauh.
"Julia, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku sudah sering bermain dengan Arka tapi memang Arka yang sepertinya tidak menyukaiku." Irfan berkata dengan menyipitkan matanya, ia mulai tidak menyukai topik pembicaraan ini.
"Arka itu masih kecil, ia bisa merasakan jika orang yang yang bersamanya itu tulus atau tidak. Maaf, bukannya aku bilang kamu tidak tulus. Tapi ... ah, aku nggak tau, Fan. Sudahlah, kita sudahi saja perdebatan ini. Aku mau pulang, sudah malam. Kasian Arka sedari pagi sudah aku tinggal kerja." Julia berdiri dan melangkah keluar dari cafe.
Sementara Irfan membayar tagihan terlebih dahulu baru mengejar Julia.
"Jul!" teriak Irfan.
Julia tidak memperdulikan panggilan Irfan, ia sedang memesan taksi online.
"Jul! Katakan padaku, apa semua ini karena Ben?!" Irfan menarik lengan Julia saat mengatakannya, rasa cemburu di dadanya kembali menyeruak.
"Irfan, semua ini tidak ada hubungannya dengan Ben. Kau tau kan jika Ben selalu menghindari pertemuan dengan kamu bahkan dengan aku juga. Ia hanya datang untuk menjemput Arka dan dia bawa ke rumahnya," jelas Julia.
Memang Ben menepati janjinya. Ia selalu menghindari bertemu Julia dan Irfan. Biasanya Ben datang sore hari saat akhir pekan hanya untuk membawa Arka bermain di rumahnya. Setelah beberapa jam, Ben kembali mengantarkan Arka pulang.
Saat pengasuh Arka pulang kampung, Ben lah yang menjaga Arka bergantian dengan Mama selama Arka ditinggal Julia bekerja. Karena sekarang Ben telah memiliki usaha sendiri, jadi ia lebih mudah untuk mengatur waktunya.
"Jul, apa kamu membandingkan apa yang Ben lakukan dengan Arka dibanding aku?" tanya Irfan menatap tajam mata Julia.
"Terus terang iya. Aku tidak habis pikir kenapa kamu enggan menghabiskan waktu hanya dengan Arka. Yang aku rasakan, kamu hanya ingin berdua dengan aku. Padahal aku ini satu paket dengan Arka. Jika kamu mencintaiku, kamu juga harus mencintai anakku."
__ADS_1
"Jul, berapa kali aku bilang kalau aku juga mencintai Arka!" Irfan mulai menaikkan volume suaranya.
"Irfan, lebih baik kita tidak bertemu dulu. Kita masing-masing instropeksi diri. Apakah aku sudah yakin untuk menerima lamaranmu. Juga apakah kamu yakin mencintai aku dan anakku," kata Julia akhirnya. Ia lelah jika harus berdebat seperti ini. Ia sudah lelah bekerja seharian dan ia juga harus mencurahkan perhatian untuk anaknya dengan sisa waktu yang ia miliki.
Julia tidak punya kekuatan lagi jika harus bertengkar dengan Irfan. Ia lelah. Dengan langkah gontai, Julia masuk ke dalam taksi online yang ia pesan tadi. Sementara Irfan berdiri mematung memandangi kepergian Julia.
Sesampainya di rumah, Julia mencurahkan semua perhatiannya untuk Arka. Setelah lelah bermain, Arka pun tidur. Julia memandangi anaknya yang terlelap tidur. Wajahnya tenang namun menggemaskan. Diciumnya pipi Arka dengan sayang.
Tiba-tiba hatinya terasa berdesir perih, ia teringat Karel. Suaminya yang sudah tenang di alam sana. Namun jika memandangi Arka seperti ini, Julia merindukan sosok Karel, yang pasti akan menyayangi Arka sepenuh hati.
Julia duduk bersandar di tempat tidur, memejamkan matanya. Ia berusaha tenang memikirkan hubungannya dengan Irfan.
Cinta ... mungkin kini artinya sudah sangat berbeda di benaknya. Baginya cinta bukan hanya sekedar cinta, namun rasa nyaman. Dan kini juga harus memikirkan anaknya, ia bukanlah seorang diri, namun berdua dengan Arka.
"Karel ... aku rindu kamu," desah Julia lirih. Saat ini entah mengapa ia ingin hanya Karel yang ada di sampingnya. Ia tidak ingin orang lain. Baginya tidak ada orang yang bisa menerima dirinya selain Karel.
Aku tidak bisa menerima Irfan, aku belum yakin. Irfan belum bisa memberikan rasa cinta yang nyaman di hatiku. Batin Julia dalam hati.
***
Hampir dua Minggu telah berlalu. Tidak ada komunikasi sama sekali dengan Irfan. Walaupun begitu, Julia menikmati waktunya untuk kembali merefleksikan hubungannya dengan Irfan.
Namun semakin hari, Julia malah lebih nyaman sendiri. Ia tidak merasa terbeban akan tuntutan untuk selalu menjaga perasaan Irfan. Selama ini Julia selalu menjaga agar Irfan tidak cemburu, berusaha mendekatkan Arka dengan Irfan, juga selalu berusaha memenuhi semua permintaan Irfan. Baik itu untuk makan malam atau pergi jalan-jalan berdua dengan Irfan.
Semakin hari, Julia merasakan kenyamanan jika ia sendiri saja. Ia tidak dipusingkan dengan Irfan ataupun juga Ben. Apalagi, sekarang Ben sudah sangat jauh berubah. Ia tidak pernah menuntut Julia. Ben hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Arka. Terkadang Julia sangat berterima kasih untuk kehadiran Ben di sisi Arka, menjadi pengganti sosok ayah yang tidak dimiliki Arka.
***
"Jul, sudah lama menunggu?" Irfan datang dengan senyum khasnya menyapa, lalu duduk di sebelah Julia.
Taman kota yang nyaman untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, apalagi jika sore hari seperti saat ini. Taman ini tidak terlalu ramai, sehingga Irfan dan Julia memutuskan untuk bertemu di sini.
"Belum lama kok," saut Julia membalas senyuman Irfan.
Lama terjadi jeda, Julia dan Irfan merasa seperti orang asing. Tak bertemu beberapa lama dengan permasalahan yang belum selesai, membuat keduanya bingung akan memulai dari mana.
"Jul, aku tidak bisa berbasa-basi. Kita bicarakan saja masalah kita yang tertunda." Irfan akhirnya membuka percakapan.
"Iya, Fan."
"Hanya itu? Lalu apa jawabanmu? Apakah kamu menerima lamaranku?" tanya Irfan langsung.
"Maaf, Fan. Tapi aku belum yakin. Bagaimana kalau kita lebih saling mengenal lagi? Mungkin setahun atau dua tahun, baru aku bisa meyakinkan diriku," ucap Julia tenang. Ia memang sudah siap akan apapun yang terjadi. Lebih baik sedih sekarang dari pada menyesal kemudian.
"Kamu minta waktu lagi? Lalu misalkan setelah dua tahun kamu belum yakin, lalu kamu akan minta waktu lagi? Sampai kapan aku harus menunggu?!" Irfan tak habis pikir dengan apa yang Julia utarakan.
"Kalau begitu, mungkin kamu harus lebih banyak berusaha, Fan. Tolong yakinkan aku!" kata Julia menatap mata Irfan.
__ADS_1
Namun Irfan menggelengkan kepalanya. Ia pun juga sudah memikirkan berbagai sudut pandang akan hubungannya dengan Julia. Ia merasa sudah berusaha dan sudah banyak berkorban. Tapi ia sudah tidak bisa menunggu lagi.
"Jul, aku juga sudah memikirkannya baik-baik. Aku tidak bisa menunggumu lagi. Jika kamu tidak menerima lamaranku sekarang, lebih baik kita berpisah saja," ucap Irfan menatap mata Julia. Ada tatapan sedih namun juga harapan di sana.
Julia memejamkan matanya, ia tahu inilah kemungkinan terburuknya. Namun saat mendengarnya sendiri, mengapa ia tetap merasakan perih menghujam hatinya?
"Kamu yakin, Fan?"
"Jawabanku akan seperti itu jika kamu menolak lamaranku, aku tidak bisa menunggu lagi." Irfan tegas dengan pendiriannya.
Menghela nafas dalam, Julia menatap mata Irfan. "Maaf, aku belum bisa menerima lamaranmu. Irfan, mungkin kita tidak berjodoh."
Julia menahan sekuat tenaga air mata yang hendak tumpah di pipinya.
"Baiklah, Jul. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku menyerah menunggumu, Jul." Irfan tertunduk menahan kesedihan di hatinya.
Semilir angin sejuk sore hari terasa menerpa tubuhnya, menerbangkan helai-helai rambutnya. Julia merasakan perih di hati, namun memang inilah yang harus terjadi.
Ia diam, Irfan pun diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Lama akhirnya Irfan mengambil sebuah amplop putih dan diberikannya pada Julia.
"Jul, ini adalah titipan terakhir Karel untukmu. Karel bilang surat ini harus diberikan saat kamu menikah, tapi aku rasa perkiraan Karel salah. Karel mengira kamu akan menikah denganku. Tapi ternyata kita tidak berjodoh. Aku berikan sekarang, bukalah saat kamu menikah. Mungkin aku tidak akan datang ke pernikahanmu kelak," kata Irfan sambil memberikan amplop putih ke tangan Julia.
Dengan sedih Julia menatap amplop itu, lalu dimasukkannya de dalam tas dengan hati-hati.
"Terima kasih banyak, Irfan. Aku akan selalu menyimpan kenangan saat-saat indah kita," ucap Julia menahan air matanya.
"Terima kasih juga, Jul. Aku akan selalu mengenang mu dalam hatiku sebagai orang yang sangat istimewa. Jangan ucapkan perpisahan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Siapa tahu kita akan berjodoh," ucap Irfan menahan kesedihannya yang terasa menyesakkan.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Irfan. Sahabat terbaikku," ucap Julia menatap Irfan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Tangan Irfan hendak menghapus air mata itu, namun ia mengurungkan niatnya. Irfan menguatkan hati.
"Sampai jumpa lagi, Julia."
Irfan berjalan gontai meninggalkan Julia yang masih duduk di tempatnya. Tak ingin menoleh lagi, karena ia mungkin akan membatalkan keputusannya. Irfan menghela nafasnya sebelum membuka pintu mobilnya dan perlahan, ia meninggalkan taman kota dan Julia, seorang wanita yang istimewa baginya.
Julia menatap kosong langit yang mulai gelap. Taman mulai sepi, tak banyak pengunjung yang masih bertahan karena hari beranjak malam.
Memejamkan matanya, Julia pun memantapkan hatinya. Semoga ini adalah keputusan terbaik baginya dan Irfan. Lebih baik merasa sedih sekarang dari pada harus menjalani sesuatu yang ia sendiri tidak yakin.
Julia sadar, ia kini bukan mencari cinta yang menggelora. Namun ia mencari sosok ayah bagi anaknya. Jika memang belum menemukannya, lebih baik ia menjalani hidup berdua saja dengan anak tersayangnya, Arka.
-
-
__ADS_1
-