Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Cinta Yang Sudah Lewat


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Julia mengambil cuti beberapa hari. Ia butuh waktu untuk sendirian. Julia ingin pergi berlibur ke daerah pegunungan.


Julia sengaja tidak memberitahu Ben dan Irfan ke mana dirinya pergi. Untung saja Ben dan Irfan tidak banyak bertanya padanya. Mungkin karena mereka tahu jika saat ini Julia butuh me-refresh dirinya.


Villa yang disewa Julia sangat nyaman dengan pemandangan yang hijau terhampar dari jendela kamarnya.


Sore ini Julia berbaring di kursi yang ada di balkon kamarnya. Menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara pegunungan dengan ditemani secangkir teh hangat dan makanan ringan.


Julia sengaja menyendiri beberapa hari, menenangkan pikiran. Sejak Karel meninggal, ia seperti kelelahan selalu menenangkan hatinya. Kini waktunya ia menjauh dari semua rutinitasnya, sejenak melepaskan beban pikirannya.


***


"Irfan ... Sini!" teriak Ben sambil melambaikan tangannya.


Irfan yang berdiri di depan pintu segera menghampiri tempat duduk Ben.


Sore tadi Irfan agak sedikit terkejut saat ponselnya berdering, telpon dari Ben. Hatinya sudah merasa kacau, takut ada berita buruk tentang Julia. Namun ketakutannya sirna saat Ben hanya memintanya datang ke Coffee Shop malam ini.


Walaupun belum tahu apa yang akan Ben bicarakan, namun Irfan menyanggupinya. Dan di sinilah ia sekarang.


"Halo, Ben," sapa Irfan sambil mengambil duduk di hadapan Ben.


"Halo, Fan. Pesan minum dulu, aku sudah barusan."


Ben memanggil waitress untuk memesankan minuman untuk Irfan.


"Ben, tumben sekali kamu mengajak bertemu begini? Ada apa sebenarnya?" tanya Irfan penasaran.


"Aku hanya kangen kamu, Fan," kata Ben tersenyum simpul.


"Hei ... Yang bener dong, Bro. Jangan bercanda." Irfan menatap Ben aneh.

__ADS_1


"Tuh minumanmu datang. Ayolah kita nikmati dulu kopi ini," kata Ben mengalihkan pembicaraan.


Seorang waitress meletakkan kopi pesanan Ben dan Irfan di atas meja. Ben dan Irfan sama-sama minum kopi mereka. Namun mata Irfan menatap lekat pada Ben, ia merasa ada sesuatu yang penting yang akan Ben sampaikan. Tapi Irfan yakin, ini pasti soal Julia.


"Ben, apa yang mau kamu bicarakan denganku?" tanya Irfan lagi.


"Ehm ... Fan, aku kira saat ini kamu sedang bersama Julia, makanya aku mengajakmu keluar seperti ini. Aku nggak percaya saat Julia bilang ia mau pergi liburan sendirian," kata Ben.


"Kamu nggak percaya sama Julia? Ck ck ck ... Ben, Julia itu memang butuh liburan. Seharusnya sudah dari kemarin-kemarin ia mengambil waktu, tapi mungkin baru sekarang kesampaian."


"Bukannya aku nggak percaya, tapi mungkin aku yang terlalu cemburu," kata Ben sambil memejamkan matanya. Ia memang sekarang jadi tidak bisa berpikir logis jika menyangkut Julia.


"Ben, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Irfan.


"Boleh, asal bukan yang aneh-aneh."


"Ben, pernah nggak kamu berpikir jika sikapmu ini terlalu kejam untuk Julia?" tanya Irfan lagi.


"Maksudmu apa?!"


"Aku juga tidak tahu, Fan. Tapi memang penyesalan selalu datang terlambat. Saat dulu Julia mencintaiku, aku malah menyia-nyiakannya. Tapi saat Julia meninggalkan aku, barulah aku sadar ternyata Julia lah orang yang seharusnya aku cintai. Julia lah yang seharusnya ada di sampingku." Mata Ben menerawang, pikirannya melayang pada sosok Julia, yang kini mengisi hatinya.


"Ben, aku kira sikapmu ini egois. Maaf aku bicara terus terang, tapi itulah yang aku lihat. Sekarang kamu terus membayangi Julia, tidakkah kamu lihat jika Julia sekarang hanya menganggapmu tidak lebih dari seorang sahabat?"


"Irfan, justru itu, saat aku mengingat apa yang sudah aku lakukan pada Julia, aku hanya ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu. Aku hanya ingin membahagiakannya," jelas Ben.


"Tapi kamu jangan memaksa Julia. Dia itu masih berkabung dan butuh banyak waktu untuk kembali membuka hatinya. Apalagi sekarang ia sedang hamil," kata Irfan.


"Kalau aku tidak dekat terus dengannya, maka kamu yang akan mendekatinya?" tanya Ben menatap mata Irfan.


"Ben, kamu kan sudah tahu aku mencintai Julia dari dulu, tapi aku tidak mau egois. Aku hanya serahkan semua pada takdir walaupun kita juga harus berusaha. Aku hanya ingin kamu jangan terus memaksa Julia. Berikan dia waktu dan biarlah dia memilih tanpa paksaan. Kau tahu ... Sebelum meninggal, Karel telah memberikan Julia padaku. Karel ingin aku yang menjaga Julia seumur hidup hingga tua nanti. Tapi aku tidak pernah memaksa Julia, karena cinta yang dipaksakan itu malah akan menyakitkan."

__ADS_1


"Aku tahu Karel dulu memang tidak menyukaiku. Tapi baiklah, mungkin sebaiknya aku memang memberi waktu Julia untuk sendiri. Tapi aku yakin, cinta Julia yang dulu untukku masih ada di hatinya. Aku tidak akan kalah darimu," kata Ben yakin.


"Itu cinta yang sudah lewat, Ben. Tapi jika nanti Julia memilih kamu, aku akan ikhlas. Begitupun yang aku inginkan dari kamu, Ben. Jika Julia memilihku, aku ingin kamu juga merelakannya. Kamu sanggup?!" tanya Irfan memastikan.


"Aku tidak bisa janji, Fan. Maaf."


"Oke, itu keputusanmu. Lalu bagaimana dengan Nadine? Bukankah Nadine selalu mengganggu Julia, apakah kamu tidak akan bertindak?" tanya Irfan yang tidak habis pikir dengan Nadine.


"Nadine tidak akan berani melakukan apapun lagi pada Julia. Aku sudah mengancamnya. Jika ia sampai berani, maka ia tidak akan mendapat tunjangan hidup dari aku. Nadine hanya ingin hidup enak tanpa kerja keras."


"Ya sudah jika kamu sudah mengatasinya. Aku selalu kuatir jika Nadine akan berbuat sesuatu yang membahayakan Julia," ucap Irfan.


Kedua sahabat lama itu saling terdiam, meminum kopi mereka sambil memandang sekitar kafe yang mulai sepi. Malam memang sudah larut, tapi kafe ini memang buka hingga tengah malam.


"Irfan, kamu tahu tempat Julia liburan?" tanya Ben yang penasaran ada di mana Julia saat ini.


"Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Jangan seperti anak kecil, Ben. Biarkan Julia sendiri," kata Irfan yang menganggap Ben kekanak-kanakan.


Ben tidak menanggapi perkataan Irfan, ia memang tidak bisa menahan rindunya pada Julia. Lalu sesaat ia pun teringat sebuah tempat favorit Julia. Sepertinya ia tidak salah, ia tahu di mana Julia sekarang.


Ben terburu-buru berdiri dan pamit pada Irfan.


"Fan, pulang yuk, sudah larut malam."


"Ben, kenapa kamu terlihat buru-buru? Kamu benar mau pulang?" tanya Irfan yang tidak percaya.


"Ya sudah, kalau kamu masih ingin disini. Aku pergi dulu. Terima kasih sudah datang, aku yang traktir. Bye, Irfan." Ben buru-buru meninggalkan Irfan yang masih terbengong-bengong di tempat duduknya.


Ben cepat-cepat keluar dari Coffe Shop, dengan langkah pasti ia tahu ke mana ia akan pergi.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2