Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Beri aku waktu


__ADS_3

"Julia, maafkan aku," kata Ben meraih tangan Julia dan menggenggamnya.


Dengan agak tergesa, Julia melepaskan tangannya dari genggaman Ben.


Ben masih berusaha meraih tangan Julia, namun Julia memundurkan langkahnya menjauhi Ben.


"Aku tidak butuh rasa kasihanmu Ben. Tolong jangan memandangku seperti itu," kata Julia memalingkan wajah dan menahan air mata yang hampir menetes di pipinya.


"Jul, aku benar-benar minta maaf. Selama ini aku tidak menyangka kamu bisa memiliki perasaan itu," Ben berkata tulus berusaha mengerti apa yang Julia rasakan.


"Stop Ben! Please, aku tidak mau kamu mengungkit soal ini oke?! Aku sudah berusaha melupakannya," kata Julia dengan suara tercekik menahan tangisan yang hampir keluar dari mulutnya.


"Julia, kita tetap bersahabat? Seperti dulu?" tanya Ben memandang mata Julia yang hampir memerah.


"Pasti Ben. Kamu adalah sahabatku satu-satunya. Sekarang kita lupakan masalah ini," Julia berkata lirih.


"Oke Jul," Ben menganggukkan kepalanya sambil terus memandangi Julia.


Saat itulah Nadine muncul dan diikuti Bella dan Papa Mama Julia. Dengan cepat Julia berusaha menampilkan wajah cerianya dan tersenyum.


"Julia, kita pulang sekarang?" ajak Mama.


"Oke Ma. Tapi sedih deh nggak sempat berpamitan pada Sovia," kata Julia cemberut.


"Iya nih Sovia kalau tidur siang bisa lama banget," saut Bella.


"Nanti kirim foto Sovia ya Kak," pinta Julia.


"Siap!" Bella tersenyum memandangi Julia.


Papa, Mama dan Julia berpamitan pada Bella. Ben dan Nadine masih tinggal di rumah Bella hingga sore menunggu suami Bella pulang bekerja.


Dalam perjalanan pulang, Julia sengaja memejamkan matanya padahal dia tidak tidur. Julia sibuk menata hatinya dan menahan air mata yang siap tumpah dari matanya.


Julia bingung akan menjawab apa jika Papa ataupun Mama nanti malah banyak bertanya dan saat ini Julia masih enggan untuk menceritakan masalahnya.


Saat sudah kembali ke rumah, Julia sudah berhasil menampilkan senyum cerianya.


##


Hari ini hari minggu, tapi Julia sibuk belajar mempersiapkan diri mengahadapi ujian tengah semester minggu depan. Julia sudah bertekad akan menyingkirkan rasa cintanya pada Ben.


Terkadang Julia masih bertukar pesan pada Ben dan masih bertemu di kampus. Julia berusaha bersikap seperti dulu tapi melihat Nadine yang selalu ada bersama Ben, Julia pun akhirnya agak menjaga jarak. Julia tidak ingin dianggap seperti pengganggu hubungan antara Ben dan Nadine.


Hari hari berlalu dan hari ini tes tengah semester sudah selesai. Julia asyik bercanda dengan teman-temannya di bawah pohon yang rindang di taman kampus.


Dari kejauhan, Theo melihat Julia dan tanpa pikir panjang Theo menghampiri Julia.


"Julia, kamu sudah makan?" tanya Theo saat sudah berdiri di samping Julia.


"Belum nih. Kok tahu sih?"


"Kelihatan dari wajahmu yang pucat pasi kurang makan. Makan di kantin yuk," ajak Theo.


"Oke," saut Julia.


"Kita nggak diajak nih," saut Vania, salah satu teman Julia.


"Ayolah kalau mau pada makan," kata Theo.

__ADS_1


"Enggak lah nanti kita mengganggu," kata Reva menggoda Julia.


"Haiss ... Kalian ini ada-ada saja. Yuk Theo, aku sudah lapar," ajak Julia agar menghentikan candaan teman-temannya.


Theo lalu mengangguk dan berpamitan pada Vania dan Reva yang tidak ikut mereka ke kantin.


Di kantin kampus, Julia dan Theo sama-sama menikmati makan mereka hingga habis tak bersisa.


"Julia, kita kan sudah selesai tes nih. Nanti sore nonton yuk biar nggak stres," ajak Theo sambil meminum es tehnya.


Julia tampak berpikir dan akhirnya memutuskan.


"Oke," saut Julia.


"Sip! Nanti sore aku jemput yah," kata Theo terlihat sangat senang.


Julia pun mengangguk mengiyakan.


Sore itu Julia sudah siap sebelum Theo datang menjemputnya. Julia duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Julia, mau pergi ke mana?" tanya Mama menghampiri dan duduk di depan Julia.


"Mau pergi nonton sama Theo. Boleh kan Ma?"


"Boleh dong. Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya," pesan Mama.


"Siap," Julia tersenyum manis.


Saat itu terdengar suara mobil berhenti di halaman depan rumah Julia.


Terlihat Theo memasuki teras rumah dan Julia pun langsung membukakan pintu sebelum Theo mengetuknya. Mama ikut keluar bersama Julia.


Sesampainya di gedung bioskop, Julia lah yang memilih film apa yang akan mereka tonton. Dan Julia memilih film romantis favoritnya.


"Julia, kita langsung masuk saja yuk lagipula filmnya juga sudah mau diputar," ajak Theo setelah membeli minuman bersoda dan popcorn.


"Oke," saut Julia mengikuti Theo dari belakang.


"Jul - Julia!" panggil seseorang dari arah belakang Julia.


Julia pun menoleh ke arah sumber suara dan ternyata Ben lah yang memanggilnya.


"Julia, Theo?! Nggak menyangka ya kita bertemu di sini," kata Ben sambil menggandeng tangan Nadine.


"Halo Julia, Theo," sapa Nadine.


"Halo Ben, Nadine," Theo balik menyapa.


"Halo Ben, Nadine. Kalian mau nonton film romantis juga?" tanya Julia sambil berdoa dalam hati supaya Ben tidak nonton film yang sama dengannya. Karena Julia tahu jika Ben tidak menyukai film romantis.


"Iya, Nadine suka banget film romantis," Ben berkata sambil berpandangan dengan Nadine tanpa melihat Julia lah yang bertanya.


"Yuk Jul, kita masuk," ajak Theo.


Julia mengikuti Theo tanpa memperdulikan Ben dan Nadine. Dalam hati Julia berdoa agar tempat duduk mereka tidak berdekatan dengannya.


Tapi sial bagi Julia, ternyata Ben dan Nadine duduk persis di deretan depan Julia. Walaupun kursi di dalam bioskop bersandaran tinggi, tapi Julia sudah merasa tidak nyaman.


Namun apa boleh buat, Julia tetap bersikap biasa saja dan mulai berkonsentrasi menikmati film yang diputar. Julia masih menghargai Theo yang mengajaknya nonton bioskop malam ini.

__ADS_1


Selesai film diputar, Ben menghampiri Theo dan Julia.


"Theo, Julia, kita makan bareng yuk. Kalian pasti lapar kan?" ajak Ben.


Julia hendak menolak tapi Theo sudah keburu menjawab.


"Oke, mau makan di mana?"


"Kita makan di kafe depan gedung ini saja. Enak dan nyaman tempatnya," kata Nadine memberi saran.


"Oke. Yuk Jul!" ajak Theo.


"I - iya," saut Julia yang hanya pasrah mengikuti kemauan Theo.


Saat sudah di kafe, mereka memesan menu sesuai keinginan masing-masing. Sambil menunggu pesanan datang, Ben dan Theo saling mengobrol santai. Sementara Nadine dan Julia lebih banyak menjadi pendengar saja.


"Theo, kita ini seperti double dating ya haha," canda Ben tertawa.


"Iya nih padahal nggak direncanakan," saut Theo sambil melirik Julia.


Julia tidak mengira jika Theo menganggap saat ini adalah acara kencan mereka. Tapi Julia hanya diam dan tersenyum menanggapi candaan Theo dan Ben.


Sebenarnya sedari tadi Julia sibuk menata hatinya agar tidak sedih melihat kemesraan Ben dan Nadine yang akan ditampilkan di depan matanya. Hati Julia masih terasa perih setiap kali melihat Ben dan Nadine bermesraan saat di kampus.


"Jadi kalian ini sudah jadian?" tanya Ben pada Theo antusias.


"Haha ... Penasaran banget kamu Ben," Theo tidak menjawab Ben karena memang hubungannya dengan Julia saat ini hanyalah teman.


Walaupun sebenarnya Theo suka dengan Julia, tapi dia belum berani mengungkapkan isi hatinya pada Julia.


"Ayo dong beritahu kami! Aku lihat kalian ini sangat cocok," Nadine ikut menimpali.


"Aku yakin kalian ini sebenarnya sudah jadian. Ya kan? Selamat deh kalau begitu. Semoga lanjut sampai pernikahan," kata Ben yakin.


"Selamat ya Theo, Julia," kata Nadine ikut memberi selamat.


Theo dan Julia saling berpandangan namun tidak ada satu pun diantara mereka yang membantahnya karena Theo memang ingin berpacaran dengan Julia. Sementara Julia hanya ingin menunjukkan kalau dia sudah melupakan cintanya pada Ben dan memiliki seorang cowok yang dekat dengannya.


Akhirnya makanan dan minuman pun datang. Theo dan Julia terselamatkan dan tidak harus menjawab Ben maupun Nadine.


Selesai makan, Theo dan Julia berpamitan dengan Ben juga Nadine. Theo langsung ingin mengantarkan Julia pulang kembali karena sudah berjanji tidak akan pulang terlalu malam.


Saat di dalam mobil menuju rumah Julia, akhirnya Theo menyatakan isi hatinya selama ini.


"Julia, tadi saat Ben bertanya, aku ingin menjawab bahwa kita sudah berpacaran karena memang itulah keinginanku."


"Maksudmu?" tanya Julia bingung.


"Terus terang aku sayang kamu Jul. Aku ingin kamu menjadi pacarku. Aku serius ingin menjalin hubungan denganmu hingga ke pernikahan kelak," kata Theo tulus.


Julia bingung hendak menjawab apa. Jika menuruti kata hatinya, sudah jelas Julia akan menolak Theo karena hatinya saat ini masih mencintai Ben. Tapi ...


"Aku tidak menuntut kamu untuk menjawab sekarang. Besok sore aku akan datang ke rumahmu. Aku harap kamu sudah memutuskan jawabanmu untuk aku. Bagaimana?" tanya Theo berharap.


"Baiklah, beri aku waktu," kata Julia akhirnya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2