Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Aku Sedang Sibuk


__ADS_3

Irfan memarkir mobilnya di jalan depan rumah Julia. Hatinya bimbang.


Dalam hati ia sangat merindukan Julia, namun pada saat bersamaan ia merasa tidak enak hati untuk sekedar menemui Julia.


Irfan tahu posisinya saat ini hanyalah teman bagi Julia. Ia tahu Julia belum siap membuka hatinya untuk siapapun, karena Karel belum lama pergi.


Ia sadar saat ini Julia hamil dan alasan itulah yang membuat Irfan bimbang untuk semakin dekat dengan Julia.


Bukan karena kehamilan Julia, ia malah senang jika bisa memiliki anak walaupun bukan darah dagingnya. Tapi rasanya tidak etis untuk dekat dengan Julia sekarang ini.


Irfan memandangi rumah Julia dari dalam mobilnya. Malam telah larut, Julia pasti sudah tidur. Namun Irfan tetap saja tidak beranjak dari tempatnya.


Irfan memejamkan matanya. Bayangan Julia selalu berada di pelupuk matanya setiap kali ia memejamkan mata.


Menghela nafas berat, Irfan pun tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Ia merasa telah terobsesi untuk memiliki Julia sejak Karel meninggal dunia.


Namun Irfan teringat pada Ben. Walaupun kelihatannya Julia menganggap Ben teman, tapi Irfan kuatir jika ia menjauh dari Julia, maka Ben akan semakin dekat dengan Julia.


Ia juga kuatir, bagaimana pun Julia pernah sangat mencintai Ben. Siapa tahu rasa yang terpendam akan kembali menyeruak.


Irfan membuang nafasnya panjang. Ia tidak boleh menyerah. Sekali lagi Irfan memandangi rumah Julia. Lalu perlahan ia pun menjalankan mobilnya menjauhi rumah Julia dan kembali pulang ke rumah.


***


Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Kehamilan Julia sudah menginjak bulan ke-6. Perutnya sudah mulai membesar layaknya ibu hamil.


Julia sangat senang dengan perkembangan bayinya setiap kali ia periksa ke dokter.


Namun ia sengaja periksa kandungan sendirian. Ia tidak ingin ditemani Irfan maupun Ben. Takut jika orang akan salah sangka dan bertanya-tanya mengapa ada 2 orang pria berbeda yang mengantarnya periksa kandungan.


Akhir Minggu seperti ini, biasanya Julia hanya duduk-duduk dan bermalas-malasan. Ia sengaja menyiapkan berbagai makanan kesukaannya agar tidak perlu pergi keluar rumah jika ingin makan.


Seperti sore ini, Julia menikmati segelas coklat hangat ditemani keripik singkong kesukaannya.


Buku novel misteri menemani sorenya kali ini. Julia memang tidak terlalu suka ber-medsos, sehingga ia lebih banyak membaca novel.


Baru setengah jam Julia larut dalam bacaannya saat bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan malas Julia pun membukakan pintu.


"Halo, Julia," sapa Ben dengan senyum cerianya.


"Hai, Ben. Ada apa datang kesini?" tanya Julia langsung. Ia merasa sorenya terganggu dengan kedatangan Ben.


"Hanya ingin mampir saja, sekalian mau melihat keadaanmu. Aku nggak disuruh masuk nih?" tanya Ben yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ya sudah, masuklah. Tapi jangan lama-lama ya, aku sedang sibuk," kata Julia menampilkan wajah jengkel.


"Ya ampun, galak amat sih ibu hamil," saut Ben yang sudah masuk ke dalam rumah.


Julia memandangi Ben dengan kesal. Sejujurnya ia tidak ingin bertemu Ben. Julia malas jika Ben mulai berbicara tentang perasaannya, ingin merajut kasih lagi. Julia menghindari dekat dengan pria manapun saat ini.


"Ben, mau kemana?" tanya Julia yang melihat Ben berjalan ke belakang rumah.


"Ah ... Ternyata kamu sedang asyik membaca novel. Sudah aku duga. Aku ikut temani kamu ya," pinta Ben dengan senyum manisnya.


"Ben, kamu mau apa sih datang kesini. Sudah pulang saja sana!"


"Aku ingin disini ah. Jul, aku mau juga dong kopi buatanmu yang mantap itu." Ben meminta dengan wajah memelasnya.


Julia menghela nafas panjang. Tapi ia tidak tega dan akhirnya menuruti keinginan Ben.


Duduk berdua dengan Ben di sore hari seperti ini, Julia malah jadi teringat akan pernikahannya dulu dengan Ben. Namun Julia langsung membuang pikirannya itu.


"Jul, maaf menganggu soremu. Tapi ada yang ingin aku beritahukan padamu," kata Ben sambil menyeruput kopinya.


"Hem ... Ada apa lagi, Ben?" Julia sebenarnya tidak tertarik dengan apa yang akan Ben katakan.


"Jul, berkas-berkas pengajuan perceraianku dengan Nadine sudah masuk ke Pengadilan. Semoga tidak lama proses persidangannya," jelas Ben.


"Aku sudah mengambil keputusan, Jul. Aku rasa tidak ada yang harus dipertahankan dalam pernikahanku dengan Nadine," kata Ben santai.


"Nadine itu sedang terpuruk, Ben. Lagipula dia tidak bekerja, bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya?" tanya Julia bingung memikirkan nasib Nadine selanjutnya.


"Tenang, Jul. Untuk masalah finansial, aku sudah mencarikan Nadine pekerjaan. Bahkan Minggu depan, ia sudah mulai bekerja di perusahaan yang bagus," kata Ben.


"Oke, masalah finansial beres. Tapi ia sangat mencintaimu, Ben. Bukankah kalian masih bisa mengadopsi anak?"


"Tapi aku tidak cinta Nadine. Dan masalah anak, aku ingin darah dagingku sendiri. Jul, hanya kamu yang bisa memberiku seorang anak," kata Ben menatap mata Julia.


"Ben, kalau kamu bicara tentang itu lagi. Lebih baik kamu pulang saja," kata Julia jengkel.


"Iya, maaf. Aku akan menunggumu hingga siap menerima aku, Jul," kata Ben lagi.


"Ah sudahlah, Ben. Jangan bicara tentang ini lagi. Dan juga ingat, aku tidak menjanjikan apapun padamu. Mungkin jika memang takdir menyatukan kita kembali, aku akan menerimanya," ucap Julia akhirnya.


"Semoga takdir berpihak padaku kali ini, Jul," kata Ben menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Suara bel pintu kembali mengejutkan Julia.

__ADS_1


"Siapa itu, Jul? Kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Ben.


"Enggak sih, nggak tahu siapa. Sebentar aku lihat dulu," kata Julia sambil beranjak menuju pintu depan.


Saat membuka pintu, Julia agak terkejut melihat Nadine berdiri di depannya," Nadine?"


"Halo, Julia. Katanya aku boleh ke rumahmu?" Nadine menampilkan senyumnya.


"Tentu boleh, Nad. Malah kebetulan sekali, tuh ada Ben di dalam. Dia juga belum lama datang kesini," kata Julia yang mempersilahkan Nadine masuk ke dalam rumah.


Namun Nadine hanya berdiri mematung, ia tidak menyangka akan bertemu Ben di rumah Julia setelah sekian lama ia tidak berhasil menemui Ben.


"Ayolah, Nad." Julia menarik tangan Nadine dan memandunya berjalan ke taman belakang rumah.


"Ben, ini ada Nadine," kata Julia yang melihat Ben sedang asyik memainkan ponselnya.


Seketika Ben menoleh dan ia pun langsung terlihat tidak senang. Raut wajahnya seketika berubah kesal, terlihat dari matanya yang enggan menatap Nadine.


Nadine menatap wajah Ben marah. Ia merasa harga dirinya saat ini sudah tidak ada lagi di mata Ben.


"Kenapa tidak kamu usir saja dia, Jul?" Ben tidak mau menyebut nama Nadine.


Julia bingung harus bagaimana berada di tengah-tengah Ben dan Nadine. Ia tidak mau mencampuri urusan rumah tangga mereka.


"Julia, ternyata Ben disini selama ini?" tanya Nadine terlihat marah pada Julia.


"Nad, Ben sudah lama tidak ke rumahku. Bahkan dia baru saja datang," kata Julia.


"Kamu bohong, Jul! Ternyata kamulah yang ingin memiliki Ben. Aku tidak menyangka," tuduh Nadine yang wajahnya memerah marah.


"Kamu salah paham, Nad."


"Nadine, kalau bicara yang benar! Julia tidak salah sama sekali. Apa yang dikatakannya betul!" teriak Ben seperti habis kesabaran.


"Aku tidak percaya!" seru Nadine yang lalu berjalan cepat hendak keluar dari rumah Julia.


Julia yang kebingungan malah menarik tangan Nadine bermaksud menahan Nadine hendak menjelaskan kesalahpahaman.


Namun Nadine menyentakkan tangan dengan keras saat ia berjalan dengan cepat. Julia yang terkejut, kehilangan keseimbangan. Ia pun seketika terjatuh.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2