Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Bulan Madu Part 2


__ADS_3

"Aku akan berusaha memberikan hati dan cintaku untukmu Jul," kata Ben lirih lalu mencium kening Julia lembut, takut Julia akan terbangun.


Julia sedikitpun tidak bergerak karena ia tertidur lelap.


Matahari pagi menyeruak, sinarnya masuk melalui celah tirai jendela yang tidak tertutup sepenuhnya.


Julia masih meringkuk di dalam balutan selimutnya yang hangat. Enggan rasanya untuk bangun karena ia tahu jika ini adalah liburannya.


Julia masih setengah terbangun saat merasakan tubuhnya diguncang-guncang sepasang tangan yang tak lain adalah milik Ben.


"Julia, ayolah bangun ... Katanya mau jalan-jalan hari ini," kata Ben sabar menunggu Julia bangun sepenuhnya.


"Aku nggak jadi jalan-jalan. Seharian aku mau tiduran di kamar saja," gumam Julia tidak jelas dengan matanya yang masih terpejam.


"Jul! Kamu ini mengigau apa sudah bangun sih?!" Ben sedikit kehilangan kesabaran.


"Aku masih tidur. Bye bye," kata Julia yang masih ingin tidur.


"Terserahlah ... Aku mau jalan-jalan hari ini."


Ben turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


Sementara Julia membuka matanya dengan malas. Sebenarnya ia ingin jalan-jalan dengan Ben seperti gambarannya tentang bulan madu. Tapi mengingat bulan madunya ini membuat Julia malas jalan berdua dengan Ben.


Saat Ben keluar dari kamar mandi, Julia berpura-pura tidur.


"Julia, aku pergi sarapan dulu lalu langsung mau jalan-jalan. Jika kamu tidak mau ikut ya sudah. Nanti akan aku belikan oleh-oleh untukmu," kata Ben yang berdiri di samping Julia.


"Aku pergi dulu ya," pamit Ben lalu keluar dari kamar.


Julia membuka matanya dan melihat Ben menutup pintu kamar mereka pelan.


Biarlah Ben pergi. Hari ini aku mau menenangkan pikiranku dulu.


Pagi itu Julia hanya duduk di balkon dan memandangi hamparan tanaman hijau yang tertangkap di depan matanya.


Hatinya lambat laun menjadi tenang. Memikirkan perjanjian pernikahan permintaan Ben membuat emosinya naik ke ubun-ubun. Tapi pagi ini hatinya merasa tenang.


Aku sudah melangkah sejauh ini. Terlambat untuk bisa kembali. Aku harus sabar menanti selama dua tahun ini. Jika memang Ben tidak bisa mencintaiku maka aku akan pergi.


Julia membatin dalam hati dan memejamkan matanya untuk memantapkan hatinya yang terus goyah jika Ben sudah membujuknya.


Pagi itu Julia sarapan di kamarnya sendirian. Lebih tepatnya menikmati kesendiriannya.

__ADS_1


Selesai sarapan, Julia keluar villa berjalan kaki.


Sisi kanan dan kiri villa terlihat pepohonan rindang. Julia mengayunkan langkahnya ringan menyusuri jalan sembari menghirup udara segar yang pasti sangat mewah untuk bisa iadapatkan di ibukota tempat tinggalnya.


Saat sudah lumayan menjauhi villa, Julia melihat hamparan sawah yang luas. Menghentikan langkahnya, Julia memandangi keindahan pemandangan di depannya.


Tak jauh dari situ, ada sebuah gubug kecil tempat istirahat. Julia pun bergegas menuju gubug itu.


Duduk di sana sendirian, Julia merasa rileks.


Namun lamunannya buyar saat ponsel Julia berdering nyaring.


Julia melihat Karel lah yang menelpon.


Mengapa Karel telpon sih?


Merasa bimbang akankah Julia menerima telpon dari Karel atau tidak. Dan akhirnya Julia memilih menerimanya karena penasaran akan tujuan Karel menelponnya.


- "Halo Karel."


- "Halo Julia. Bagaimana kabarmu?"


- "Baik. Ada apa menelponku?"


- "Tidak ada apa-apa sih. Aku hanya ingin tahu keadaanmu saja. Ehm ... Julia, apakah sekarang kamu bahagia?"


- "Maaf jika aku ikut campur Jul, tapi aku sangat perduli denganmu."


- "Karel, kamu kan tahu bagaimana pernikahanku. Jangan tanya-tanya lagi ah!"


- "Iya iya ... Aku tutup telponnya ya. Eh ada satu lagi. Jangan lupa bawakan oleh-oleh untukku ya."


- 'Idih ... Nggak janji ya. Bye Karel."


- "Bye Julia."


Julia menutup layar ponselnya dan matanya kvali menjelajahi hamparan padi yang menghijau seperti karpet yang terbentang luas.


Hampir dua jam lamanya Julia hanya duduk termenung dan memutar kembali ingatannya sehingga akhirnya berada di tempat ini.


Setelah puas menenangkan hatinya, Julia pun kembali pulang ke villa. Saat itu sudah waktunya makan siang. Julia membuka pintu kamarnya dan dikejutkan dengan adanya Ben yang sedang duduk menunggunya.


"Ben, kamu sudah pulang?" tanya Julia yang ikut duduk di samping Ben.

__ADS_1


"Iya, aku cepat-cepat pulang karena rasanya tidak enak jalan-jalan sendiri. Ini aku bawakan makan siang," kata Ben mengangsurkan kotak makanan pada Julia.


"Terima kasih Ben."


Siang itu Julia dan Ben makan siang bersama di balkon. Julia memperhatikan wajah Ben yang tidak ceria. Tapi Julia tidak ingin bertanya karena dia pun lelah menata hatinya sendiri.


Hingga malam hari, Julia dan Ben hanya berjalan-jalan di area villa. Duduk di taman dan bersantai di kamar.


Selesai makan malam saat Julia duduk sendirian di balkon sambil menikmati segelas coklat panas. Ben mendekati dan ikut duduk di samping Julia.


"Maafkan aku Jul ... "


"Stop Ben! Aku malas membahas tentang pernikahan kita. Aku ingin kita jalani saja apa yang ada di depan kita. Selebihnya biar takdir yang menentukan. Oke?!" kata Julia tegas.


"Baiklah jika itu maumu."


Julia dan Ben sama-sama terdiam dan hanya memandangi langit yang ditaburi bintang-bintang berkerlip.


"Besok kita berangkat ke Uluwatu jam berapa Ben?" tanya Julia mencairkan suasana.


"Sekitar jam 10an. Kenapa?"


"Kita bisa mampir ke toko oleh-oleh? Aku ingin memberikannya pada orang rumah dan beberapa temanku," kata Julia sambil menghabiskan minuman coklatnya yang tinggal sedikit.


"Tentu saja bisa," kata Ben singkat.


**


Julia tengah berdiri di balkon villa di Uluwatu yang sudah dipesan sebelumnya. Memandangi lautan yang tampak kebiruan dengan ombaknya yang memecah seperti ritme nada yang terus mengalun tiada lelah.


"Indah banget disini ya Jul," ujar Ben sembari mendekati Julia.


"Iya bagus banget. Bakalan betah aku disini," kata Julia yang tak lepas memandangi pemandangan indah di depan matanya.


"Suatu saat jika ada waktu libur, kita kembali ke sini lagi," kata Ben yang memperhatikan wajah Julia yang terlihat ceria.


Aku harus bisa terus membuatnya ceria seperti ini. Tekad Ben dalam hati.


Selama tiga hari Ben dan Julia menikmati bulan madu mereka walaupun bukan sebagai pasangan suami istri yang dimabuk cinta, tapi hanya sebagai sahabat yang berlibur bersama.


Julia tidak mau memperdulikan itu semua saat ini. Yang terpenting baginya, Julia adalah istri sah Ben.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2