Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Ada Syaratnya


__ADS_3

Julia menutup pintu rumah dan menguncinya. Kepalanya berdenyut tiba-tiba pusing memikirkan Ben yang hingga kini terus mencari celah untuk mengganggunya.


Ia sendiri juga bingung bagaimana bisa sekarang Ben jadi mencintainya? Apakah itu mungkin?


Bahkan kini Nadine hamil tapi Ben bilang mencintainya? Namun terkadang jika sedang berbicara dengan Ben dan Ben nampak sedih dan tidak bahagia, hati Julia merasa iba. Ia juga ingin melihat Ben bahagia.


Bahkan suatu saat ketika Ben menatap matanya dengan hangat, Julia pun masih merasakan desiran jauh di lubuk hatinya. Namun rasa itu ia tekan kuat dan ia hanya ingin mengingat Karel, suaminya.


Dan seketika Julia pun sadar, jika ia tadi akan menelpon Karel sebelum kedatangan Ben.


Julia meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang, memeriksa pesan yang sangat diharapkannya dari Karel.


Julia menyentuh layar ponselnya, mencari nama suaminya dan sekarang nada tunggu terdengar di telinganya. Lama sekali rasanya Julia menunggu hingga akhirnya suara Karel menyahut dari ujung sana.


- "Halo sayang."


- "Halo Karel. Kenapa sedari siang tidak menghubungiku. Aku kuatir."


- "Maaf sayang, disini aku memang sibuk jadi tidak sempat menghubungimu."


- "Ih ... Kamu bikin aku kuatir saja."


- "Maaf Julia sayang, jangan cemberut lagi dong. Kamu dimana sekarang?"


- "Di rumah dong, memangnya mau dimana lagi?"


- "Aku kira kamu menginap di rumah Mama."


- "Enggaklah Karel, aku di rumah saja supaya lebih dekat berangkat ke kantor."


- "Semua baik kan di rumah?"


- Iya, baik kok. Ya sudah, kamu hati-hati disana ya."


- "Iya Julia sayang, kamu juga ya. I love you."


- "I love you too."


Julia menutup telponnya. Hatinya merasa lega karena ternyata Karel baik-baik saja.


***


Esoknya Julia saat di kantor, Julia sangat disibukkan dengan segudang pekerjaan yang menantinya. Ia harus menyelesaikan proposal acara yang digelar departemennya. Acara yang meliputi bazar dan kegiatan sosial.


Kepala bagian menyuruh Julia pergi untuk menyerahkan proposal ke perusahaan properti yang bersedia menjadi donatur.


Selesai makan siang, Julia pun pergi ke perusahaan yang ditunjuk namun sebelumnya ia telah membuat janji agar bisa bertemu langsung dengan pimpinannya untuk bisa menjelaskan proposal yang diajukan.


Julia menyetir hampir satu setengah jam hingga akhirnya ia pun sampai. Julia terpaksa berangkat sendirian karena teman-temannya pun sibuk mengurus acara ini sehingga tidak ada yang menemaninya.


Dengan percaya diri, Julia pun masuk ke kantor yang terlihat megah dan mewah. Ia bertanya pada seorang karyawan yang berjaga di lobi bagaimana ia bisa bertemu Ibu Lusia, Sekretaris Pimpinan.


Julia pun diantarkan langsung untuk bertemu Ibu Lusia. Dan ternyata Ibu Lusia ini masih muda, mungkin usianya sekitar awal 30 tahun.


"Halo Ibu Julia," sapa Lusia ramah.

__ADS_1


"Halo Ibu Lusia, panggil saja saya Julia." Julia mengulurkan tangannya bersalaman dan tersenyum membalas keramahan Lusia.


"Baiklah kita panggil nama saja ya. Yuk saya antar ke Pak Theo, Pimpinan Perusahaan ini," ajak Lusia.


Deg ... Jantung Julia terasa berdesir mendengar nama Theo. Apakah benar Theo mantannya dulu? Tapi segera dienyahkannya pikiran yang tidak-tidak. Bukankah banyak orang di dunia ini yang bernama Theo?!


"Silahkan Julia," kata Lusia yang telah membukakan pintu ruangan pimpinan.


Dengan ragu Julia pun masuk ke dalam ruangan. Dan ternyata apa yang dipikirkannya benar. Di kursi depannya duduklah Theo, mantan kekasihnya dulu.


Theo menyunggingkan senyum ramah dan dari matanya terlihat jika ia telah tahu jika Julia akan datang menemuinya.


"Pak Theo, ini Julia yang akan mengajukan proposal donatur," jelas Lusia.


"Baiklah, kamu boleh keluar dulu Lusia. Aku ingin mendengar sendiri dari Julia," kata Theo menatap mata Julia dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.


Lusia merasa agak aneh dengan situasi di hadapannya, namun ia segera keluar dari ruangan Pimpinan.


"Silahkan duduk Julia," kata Theo dengan senyum di bibirnya.


Theo mengajak Julia duduk di sofa yang ada disana.


"Terima kasih Pak Theo."


"Eits ... Sejak kapan kamu memanggilku Pak?" Theo tersenyum senang melihat Julia yang masih terlihat kaget melihatnya.


"Lalu harus panggil apa?" tanya Julia yang kini merasa santai. Walaupun tak bisa dipungkiri jika ia masih menata detak jantungnya yang terkejut melihat Theo.


"Panggil Theo saja seperti dulu."


"Oh ya, kamu mau minum apa Jul?" tanya Theo.


"Tidak usahlah kan aku disini hanya sebentar," Julia menolak dengan halus.


"Haha kenapa terburu-buru? Kita sudah lama sekali lho tidak bertemu. Sebentar ya."


Theo beranjak dari tempat duduknya dan menelpon Lusia, untuk minta dibuatkan minuman.


"Lalu proposal apa yang akan kamu ajukan?" tanya Theo kemudian setelah kembali duduk di hadapan Julia.


"Ini proposal permintaan untuk menjadi donatur acara ulang tahun kantor tempat aku bekerja. Acaranya meliputi bazar dan kegiatan sosial." Julia menyerahkan proposal pada Theo.


Theo terlihat serius saat membaca lembar demi lembar apa yang tertulis dalam proposal itu. Julia hanya diam menunggu.


Sebenarnya ini hanya formalitas saja karena sebelumnya perusahaan ini telah setuju untuk menjadi donatur, namun jumlah dana yang akan diberikan tergantung pada Julia untuk bisa meyakinkan para donatur.


Terdengar suara ketukan di pintu. Lusia masuk membawa nampan berisi 2 gelas jus mangga dan meletakkannya di meja depan Julia. Ada juga kue yang ikut disajikan Lusia yang terlihat sangat enak.


"Silahkan diminum," kata Lusia ramah.


"Terima kasih Lusia," balas Julia.


"Terima kasih Lusia," kata Theo.


"Ayo Jul, diminum dulu. Aku masih ingat kalau kamu sangat suka jus mangga," kata Theo.

__ADS_1


"Iya terima kasih Theo."


Julia meminum jus mangganya, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.


Theo masih ingat kesukaannya. Memang dulu saat masih berpacaran, Theo adalah seorang yang sangat perhatian.


Julia cepat-cepat mengusir pergi kenangan-kenangan lamanya yang tiba-tiba mendesak keluar dalam kepalanya.


"Julia, bagaimana pernikahanmu?" tanya Theo tiba-tiba yang membuat Julia tersedak.


"Uhuk ... " Tenggorokan Julia terasa tidak enak tersedak jus mangga.


"Haha kenapa Jul?"


"Kamu ini bikin aku kaget saja Theo. Pernikahanku baik-baik saja. Baru sekitar 3 bulan lalu aku menikah," kata Julia.


"Syukurlah jika kamu bahagia Jul. Aku tahu pernikahan pertama kamu dengan Ben dulu."


"Yah begitulah, mungkin memang Ben tidak berjodoh denganku," kata Julia santai.


"Memang cinta yang memilih kan Jul ... Bukan kita yang bisa memilih akan cinta pada siapa."


"Benar Theo. Bagaimana denganmu? Kamu sudah punya anak pastinya," tanya Julia tersenyum santai.


"Pernikahanku baru sekitar setahunan dan aku belum memiliki anak. Semoga saja segera, karena aku ingin sekali memiliki anakku sendiri," kata Theo.


"Aku juga sangat ingin punya anak. Kita saling mendoakan ya Theo."


"Iya Julia."


"Aku sangat senang melihatmu mendapat kebahagiaan dalam pernikahanmu Theo," kata Julia.


"Haha darimana kamu tahu jika aku bahagia?" Theo tersenyum geli melihat Julia.


Julia menatap Theo bingung. Memang ia tidak tahu, namun kini Theo terlihat sudah memiliki segalanya. Usahanya sukses dan pernikahannya baru berjalan satu tahun, pasti masih terasa bulan madu terus.


"Julia, kamu masih seperti dulu ya ... Naif, baik hati dan mudah percaya pada orang. Namun bedanya, kini kamu terlihat lebih cantik dan menarik," kata Theo menatap mata Julia.


Sekilas Julia melihat tatapan mendamba di mata Theo, namun buru-buru Julia menundukkan kepalanya dan mengambil jus mangganya, meminumnya hingga tak bersisa.


"Ehm ... Theo, bagaimana dengan proposalnya? Perusahaanmu maukan sebagai donatur?" tanya Julia mengalihkan pembicaraan kembali pada tujuannya semula datang ke kantor ini.


"Julia, aku bisa mendanai semua yang tertera dalam proposal ini. Dengan kata lain aku mau menjadi satu-satunya donatur," kata Theo yang kini menatap mata Julia.


"Wah terima kasih sekali Theo," saut Julia sangat senang.


"Tapi ada syaratnya Jul," kata Theo dengan senyum di sudut bibirnya.


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2