
Julia menatap mata Karel. Hatinya saat ini masih rapuh, tapi saat melihat di kedalaman mata Karel ... Akhirnya ia pun sadar, ia tahu jawaban sekarang.
"Julia ... "
Dengan lembut tangan Karel membelai pipi Julia, menyusuri kulit wajah yang sehalus sutra. Jemari Karel terus bergerak hingga berhenti di bibir Julia yang berwarna merah muda.
Dengan lembut dibelainya bibir itu hingga sedikit terbuka. Tak sanggup menahan desakan hati, perlahan Karel mendekatkan bibirnya. Mencium mesra bibir Julia yang terasa lembut di bibirnya.
Mereka berciuman perlahan, menikmati rasa yang baru diantara keduanya. Suara desahan tertahan pun keluar dari mulut keduanya.
Tangan Karel membelai kepala Julia, memposisikan agar sesuai dengan keinginannya.
Karel pun memperdalam ciumannya hingga tak terasa tangan Julia kuat mencengkeram pundak Karel yang kencang.
Akhirnya Julia pun menghentikan ciumannya, namun tangannya masih mencengkeram pundak Karel. Mengatur degub jantungnya yang berdetak tak beraturan.
Wajah Karel tampak tegang menahan gairah yang menyulut di dirinya. Rasanya ingin melanjutkan apa yang ingin dilakukannya untuk menunjukkan rasa cintanya pada Julia, namun ia sadar harus menahan dirinya.
Julia masih butuh waktu untuk menerima cintanya.
"Jul, maaf ... "
"Ssstt ... Jangan katakan! Please, terima aku apa adanya," pinta Julia menatap mata Karel.
Karel menarik tubuh Julia, dipeluknya wanita yang selalu mengisi hatinya selama bertahun-tahun ini.
"Aku mencintaimu Jul. Terima kasih kamu telah menerimaku. Bersama-sama kita jalani, aku berusaha akan selalu membuatmu bahagia," kata Karel mendekap erat tubuh Julia dengan mesra.
Selama beberapa saat, Julia dan Karel masih berada di pinggir pantai. Menikmati pemandangan debur ombak yang tiada lelah mencapai bibir pantai.
Tangan keduanya saling terkait, seakan hendak menyalurkan rasa yang ada di hati mereka.
Hampir tengah malam akhirnya Karel mengantar Julia pulang.
Saat telah mandi dan bersiap akan tidur, Julia membuka pesan-pesan yang masuk ke ponselnya. Tangannya menggulir pelan di layar ponsel, namun seketika tangannya terhenti saat melihat ada pesan masuk dari Ben.
Ben mengirim pesan? Malam-malam begini?
Tangan Julia terhenti, takut mengetahui apa yang hendak Ben sampaikan.
Beberapa menit berlalu, Julia masih ragu. Hingga akhirnya keberaniannya pun datang. Dengan cepat dibukanya pesan dari Ben, mantan suaminya.
- Julia, maafkan aku (Ben)
Berkali-kali Julia membaca pesan dari Ben. Bertanya dalam hati apa maksud Ben mengatakan seperti itu.
__ADS_1
Bukankah sudah terlambat mengatakan kata 'maaf'?
Julia melihat jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan hampir pukul 1 malam.
Secara tak sadar, pikirannya pun melayang kembali pada saat pernikahannya dulu dengan Ben. Malam pengantin yang membuat dadanya terasa perih saat mengingatnya kini.
Apalagi Julia mendengar jika Ben dan Nadine berbulan madu ke Bali, sama seperti dirinya dulu.
Mungkin sangat berbeda saat Ben dan Nadine melalui malam pengantinnya saat ini. Entah mengapa Julia tak kuasa menahan air mata yang jatuh ke pipinya.
Julia terus memandangi pesan di layar ponselnya. Ben mengatakan maaf di malam pengantinnya membuat Julia semakin sedih.
Julia masih terus menangis, tidak menahan isak tangisnya. Dibiarkannya kesedihan malam ini tertumpah.
Namun Julia bertekad inilah air mata untuk Ben yang terakhir kalinya. Sudah cukup kesedihan yang dirasakannya selama ini.
Ben sudah bahagia dengan Nadine ... Untuk apa aku masih terus meratapinya?
Julia menyeka air matanya dan mengatur nafas untuk meredakan kesedihannya.
Sudah cukup! Julia menghela nafas dan bertekad akan melupakan Ben selamanya.
***
Seminggu telah berlalu, Julia disibukkan dengan segudang pekerjaan. Namun kini hari-harinya tak lagi sepi. Ada seorang Karel yang selalu menemaninya dan membuatnya tertawa.
Sebenarnya Karel mengajak Julia untuk ikut acara keluarga Karel, namun Julia menolak dengan halus. Julia belum siap untuk melanjutkan hubungannya dengan Karel ke tahap yang lebih serius. Dirinya masih butuh waktu.
Julia memainkan ponselnya, melihat sosial media dan mencari berita-berita yang sedang viral. Namun suara bel pintu mengganggunya.
Merasa tidak ada janji dengan siapapun, rasanya Julia enggan membukakan pintu rumahnya. Namun akhirnya dengan langkah berat dibukakannya pintu.
"Halo Julia," sapa Nadine yang membuat Julia terkejut saat pintu rumah dibukanya.
"Ha - Halo Nadine," saut Julia tergagap.
Julia menatap bingung Nadine yang tiba-tiba datang ke rumahnya sendirian tanpa Ben.
"Kamu tidak mempersilahkanku masuk?" tanya Nadine dengan senyum yang dipaksakan.
"Ehm ... Aku sedang bersiap mau pergi, cepat katakan saja apa maumu, tidak usah berbasa-basi," kata Julia tegas.
Rasanya Julia sudah sangat malas berbicara dengan Nadine.
Namun Nadine dengan paksa menerobos tubuh Julia dan langsung duduk di sofa ruang tamu. Julia menghela nafas menahan emosinya dan akhirnya mengambil duduk di hadapan Nadine.
__ADS_1
"Nadine, apa maumu datang kesini?" tanya Julia langsung.
"Jul, aku hanya mau memberikan ini." Nadine meletakkan paperbag di meja.
"Apa itu?"
"Ini oleh-oleh dari kami untukmu. Kan kami baru saja pulang dari bulan madu di Bali," kata Nadine yang terdengar mengejek di telinga Julia.
"Bawa pulang saja Nad! Terima kasih perhatiannya, tapi aku tidak membutuhkannya," saut Julia sinis.
Julia ingin sekali mengusir Nadine dari rumahnya, lelah meladeni Nadine yang terasa sangat menghinanya.
"Terserah, pokoknya aku sudah menaruhnya disini. Kamu tidak bertanya kenapa aku datang sendirian tanpa Ben?"
"Aku tidak mau tahu. Sekarang tolong pulanglah, aku sudah ada janji."
Julia berdiri dan berjalan menuju pintu karena sudah tidak tahan melihat Nadine ada di rumahnya.
"Haha Julia ... Kamu tidak penasaran bagaimana bulan madu aku dan Ben?!" Nadine masih tetap duduk di tempatnya dan sama sekali tidak terganggu akan sikap Julia yang mengusirnya.
Julia tetap diam, memandang wajah Nadine dengan datar tanpa ekspresi.
Terserah kamu mau bicara apa! Batin Julia dalam hati.
"Julia, antara aku dan Ben sama sekali tidak ada rahasia. Ben sudah menceritakan semua saat pernikahan kalian dulu termasuk saat bulan madu kalian. Haha ... Tapi sudahlah untuk apa aku ceritakan, nanti yang ada malah kamu yang akan menangis."
Nadine kini berdiri dan berjalan ke depan Julia.
"Jul, aku sangat iba padamu. Sudah itu saja yang ingin kukatakan. Aku pulang dulu," kata Nadine yang tertawa lebar lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Julia.
Julia merosot terduduk di lantai. Mengapa semua tentang dia dan Ben belum berakhir?
Ingin sekali Julia memaki-maki dan memukul Ben hingga ia puas.
Ben sungguh kejam telah menceritakan semua tentang pernikahannya dulu. Air mata Julia kembali menetes dan hatinya kembali perih saat mengingat tawa Nadine yang penuh kemenangan.
Setelah kembali menguasai diri, Julia meraih paperbag yang diberikan Nadine. Tanpa melihat isinya, Julia membuangnya di tempat sampah.
Julia memejamkan matanya, menahan sisa-sisa air mata yang masih ingin berhamburan keluar.
Ben dan Nadine memang benar-benar telah menghinanya. Julia pun bertekad dalam hati, ia harus bahagia!
Akan ditunjukkannya bahwa tanpa Ben, hidupnya akan lebih bahagia.
-
__ADS_1
-
-