Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Perpisahan


__ADS_3

"Ben ... Jujurlah sekarang padaku, apakah kamu masih cinta Nadine?" tanya Julia dengan hati yang remuk. Tidak siap mendengar akan apa yang akan keluar dari mulut Ben.


Terjadi jeda yang panjang ... Seolah Ben sedang berpikir keras.


"Ben ... " Julia memberanikan diri, siap mendengar apapun itu yang akan dikatakan Ben.


"Jul ... Bukankah kamu memberiku waktu 3 tahun? Masih tersisa 2 tahun lagi dan aku akan menggunakan waktu itu semampuku," jawab Ben akhirnya dengan pandangan mata mengindari Julia.


"Ben ... Kurasa kesabaranku sudah habis. Sudahlah jangan memaksakan dan menyiksa diri kita sendiri. Jika memang begitu sulit untuk mencintaiku ... Saat ini juga aku melepasmu Ben," kata Julia dengan hati yang perih. Sulit mengatakannya namun terasa sangat lega sekarang.


Ben hanya terdiam lama. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Aku tidak bisa pergi darimu Jul ... Aku sayang kamu, aku tidak rela jika orang lain memilikimu." Ben berkata seperti kepada dirinya sendiri.


"Ben ... Sudahlah, kita cari jalan kebahagiaan kita masing-masing. Ingatlah kita tetap akan selalu menjadi sahabat, jika kamu ada kesusahan aku akan selalu ada untukmu," lirih Julia berkata.


Ben seperti tersentak dan akhirnya sekarang matanya menatap mata Julia yang memerah penuh air mata yang siap mengalir.


"Jul, tapi ... "


"Ben, aku akan selalu menyayangimu. Jika kamu tidak melepasku, berarti kamu tidak menyayangiku. Aku akan baik-baik saja, jangan kuatir." Senyum yang dipaksakan terlihat di sudut bibir Julia.


Setetes air mata akhirnya lolos jatuh di pipi Julia yang pucat.


Tangan Ben menyentuh pipi dan menghapus air mata Julia. Didekapnya Julia di dadanya.


"Julia ... maafkan aku, selama ini belum bisa membahagiakanmu," kata Ben dengan sangat sedih.


Tiba-tiba saat ini hati Ben merasa hancur, gagal dan sekaligus perih. Tak sanggup rasanya melepas Julia dari dekapannya.


Julia melepaskan diri dari pelukan Ben. Jika diteruskan maka hatinya akan kembali goyah dan dia tak akan pernah bisa melepas Ben.


"Jul ... "


Ben terus menatap Julia, air matanya pun terasa penuh menumpuk di matanya. Dia pun ingin menangis bersama Julia, menyesali semua yang telah dilakukannya. Atau mungkin menyesali apa yang tidak pernah dilakukannya untuk Julia, sahabat terbaiknya.


"Julia, aku menyayangimu," ucap Ben menahan kesedihannya. Suaranya parau menahan isak tangis yang ditahannya.


"Ben, terima kasih untuk semuanya. Aku pun akan selalu menyayangimu selamanya."


Malam ini terasa sangat panjang bagi Ben dan Julia. Seolah keduanya tersadar bahwa inilah malam terakhir kebersamaan mereka sebagai suami istri.


"Jul, bagaimana kita memberitahu orang tua kita?" tanya Ben akhirnya dengan mata yang menerawang jauh.


"Aku akan memberitahu orang tuaku dan kamu memberitahu orang tuamu. Aku akan mencari apartemen besok. Rumah ini milikmu Ben," kata Julia.


"Jul, kamu tinggallah di rumah ini. Aku memberikannya padamu. Tolong terimalah," kata Ben memohon.


"Baiklah, aku akan tetap tinggal disini. Terima kasih Ben," ucap Julia lirih menahan kesedihannya.

__ADS_1


"Terima kasih Julia." Terdengar kesedihan dalam suara Ben.


Julia dan Ben saling memeluk untuk terakhir kalinya. Keduanya tak bisa menahan air mata yang terus mengalir di pipi. Tidak menyangka akan secepat ini ikatan suami istri akan berakhir seperti ini.Menyesali apa yang belum mereka rasakan bersama.


Namun ... keputusan telah dibuat dan beginilah akhirnya.


Ben dan Julia akan berjalan sendiri-sendiri untuk mencari cinta dan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik mereka.


Malam itu Julia tidur sendirian di kamarnya untuk pertama kalinya. Walaupun Ben tidak memperlakukannya sebagai istri pada umumnya, namun tidur berdua dengan Ben seakan telah menjadi kebiasaannya setahun belakangan ini.


Sepi ... Sendiri ... Julia harus mulai membiasakan diri dengan itu. Ben telah dilepasnya dan tidak mungkin ia akan menariknya kembali.


***


Julia tidak menyangka semua berjalan dengan mudah baginya. Papa Mama walaupun terkejut dan menyesali keputusan yang Julia ambil, namun tetap mendukung apapun itu keputusan Julia.


Orang tua Ben pun demikian, walaupun sedih tapi mereka tetap menganggap Julia adalah anak mereka.


Proses perceraian Ben dan Julia berjalan lancar. Lima bulan setelah pengajuan, akhirnya telah ditetapkan keputusan bahwa Julia dan Ben telah resmi bercerai.


Tidak ada gejolak apapun selama proses pengadilan. Julia tidak pernah sekalipun berkomunikasi dengan Ben selain saat bertemu di pengadilan dalam rangka sidang.


Julia juga menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya. Waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja atau bertemu dengan Papa Mama yang selalu ada untuk mendukungnya.


Ada saat-saat dimana Julia merasa terpuruk dan merasa gagal sebagai seorang istri. Namun hanya kepada Tuhan saja dirinya berserah.


Terkadang Karel datang berusaha untuk menemani Julia, namun dengan halus Julia menjauhi Karel untuk sementara waktu. Dirinya ingin memiliki waktu sendiri untuk menata hidupnya kembali.


***


Hari berganti minggu ... Bulan demi bulan pun telah berlalu.


Julia kembali menemukan dirinya kembali. Walaupun masih teringat akan kenangannya dengan Ben, namun seolah semuanya itu seperti mimpi baginya.


Senyum ceria kembali terlihat di wajah Julia yang kian hari kian bersinar. Teman-teman Julia pun merasa senang dengan Julia yang kembali menjadi dirinya yang dulu.


Sore itu sepulang kerja, Karel mendatangi meja Julia.


"Julia, sudah mau pulang?" tanya Karel basa-basi.


"Sudah tau masih nanya. Ya mestilah pulang, masa' mau tidur disini," saut Julia sambil mematikan layar komputernya.


"Haha ... namanya juga basa-basi. Jul, kita ke caffe yuk ... Sudah lama kita nggak ngopi bareng," ajak Karel.


Beberapa kali ajakannya selalu ditolak Julia, namun dirinya tidak pernah mau menyerah.


"Ehm ... Baiklah. Aku juga udah kangen ke caffe langgananku dulu," kata Julia yang menyetujui permintaan Karel.


Karel menyambutnya dengan senyum di sudut bibirnya. Akhirnya Julia mau menerima ajakannya setelah sekian kali menolak.

__ADS_1


Julia dan Karel memilih tempat duduk di sudut ruangan jauh dari pandangan orang yang lalu lalang. Karena memang caffe ini sangat ramai saat jam pulang kantor sore begini.


Julia dan Karel sama-sama menikmati segelas kopi favorit dan cemilan yang mereka pesan.


"Julia, besok hari Minggu kamu mau nggak menemaniku datang ke undangan pernikahan temanku?" tanya Karel dengan senyum yang selalu terlihat di bibirnya.


"Ehm ... mau nggak ya?" Julia menimbang-nimbang, bingung memutuskan.


"Ayolah Jul, setelah itu aku traktir kopi deh," bujuk Karel.


"Gimana ya ... ?"


"Julia, kamu sengaja menggodaku ya?"


"Lah siapa yang menggoda?! Okelah, aku temani tapi ada syaratnya," kata Julia berteka-teki.


"Pakai syarat segala ... Ya ampun," ucap Karel yang semakin memandangi Julia semakin gemas ingin mencubit pipinya yang halus.


Namun ... seketika Karel terdiam saat melihat Julia yang tampak tertegun. Dengan tak sadar, Karel mengikuti arah pandangan Julia yang terus melihat ke pintu masuk caffe.


"Jul ... "


"Eh ... A-apa tadi Karel? Kamu bertanya apa?" saut Julia tergagap.


Yah ... tentu saja Julia terkejut melihat di pintu masuk. Nampak Ben dan Nadine yang berjalan berpegangan tangan mesra dengan senyum ceria yang terlihat di bibir mereka.


Saat itu juga, Nadine pun melihat Julia yang juga ada di caffe itu. Nadine terlihat menarik paksa tangan Ben untuk mengikutinya menuju meja tempat Julia dan Karel.


Julia menelan ludahnya, menata degub jantungnya yang berdetak tak beraturan. Setelah sekian lama tidak bertemu Ben, dirinya harus siap menghadapi Ben yang saat ini sepertinya telah menjalin hubungan dengan Nadine.


"Halo Julia, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Nadine ceria menggelayuti lengan Ben dengan manja.


"Halo Nadine, Ben. Silahkan duduk. Oiya, ini temanku, Karel," kata Julia gugup.


"Tidak usah Jul, kami tidak bisa lama-lama duduk disini karena setelah ini kami harus pergi ke butik untuk fitting gaun," kata Nadine dengan senyumnya yang seolah mengejek Julia.


"Oh ya sudah," saut Julia enggan meneruskan basa-basi yang membuatnya semakin tidak nyaman.


Ben nampak diam seperti pengawal Nadine.


"Julia, kamu tidak bertanya aku fitting gaun apa?" tanya Nadine yang terlihat kecewa.


"Memangnya fitting gaun apa?" tanya Julia dengan malas.


"Gaun pengantin dong. Bulan depan, aku dan Ben akan menikah. Undangan untukmu akan kukirim secepatnya," jelas Nadine dengan senyum mengejek seolah berkata 'Aku menang, Ben menjadi milikku.'


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2