Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Hari yang buruk


__ADS_3

Mondar mandir di ruang kerjanya, Julia merasa seharian ini bad mood. Jika memikirkan kejadian semalam saat bertemu Irfan dan seorang gadis akan semakin membuat Julia sebal.


Memang Julia terlambat menyadari jika ternyata ia jatuh cinta pada Irfan. Mungkin setelah Irfan menjauhinya, barulah ia merasa kehilangan. Apalagi saat melihat Irfan dengan gadis lain, Julia merasa cemburu.


Lelah mondar mandir tidak jelas, akhirnya Julia menghempaskan tubuhnya duduk di kursinya. Ia bingung harus bagaimana. Inginnya bertemu Irfan, tapi ia malu untuk memulainya. Tapi jika Irfan telah memiliki kekasih ... lalu bagaimana ia akan bersikap?


Jam kerja sudah hampir usai, Julia pun mulai membereskan meja kerjanya yang penuh dengan kertas-kertas berserakan. Lalu tiba-tiba Julia memiliki sebuah ide untuk bisa bertemu dengan Irfan.


Senyum tersungging di bibirnya, Julia menekan no ponsel Irfan.


Tak lama, Irfan pun menyahut dari seberang sana.


- "Halo, Julia."


- "Halo, Irfan. Maaf menganggu, ini aku mau tanya."


- "Tanya aja, Jul. Ada apa memangnya?"


"Irfan, kan usahamu di bidang furniture, ini lho papaku sedang cari furniture. Apa kamu bisa bantu?"


- "Furniture untuk rumah?"


- "Iya, kebetulan papa kan kemarin beli villa. Rencananya jika tidak sedang digunakan keluarga, akan disewakan. Papa suruh aku buat cari furniture yang cocok."


- "Pasti aku bantu, Jul. Bagaimana kalau kita bertemu untuk membahas detailnya?"


- "Boleh, bagaimana setelah kalau sore ini aku mampir ke kantormu biar sekalian lihat-lihat?"


- "Tentu, aku tunggu ya."


- "Terima kasih, Irfan. Sampai ketemu ya."


Julia menutup telponnya. 'Yes!' Julia berteriak dalam hati. Akhirnya ia menemukan alasan kuat untuk bisa bertemu Irfan.


Memang papa Julia sudah lama ingin memiliki sebuah villa agar bisa sering-sering berlibur. Apalagi papa sudah hampir pensiun, ingin menghabiskan waktu untuk menikmati hari tua.


Papa memang menyuruh Julia untuk mencari furniture desain klasik dengan kualitas yang bagus. Kemarin-kemarin ia lupa dan baru ingat sekarang jika Irfan memiliki usaha furniture yang bonafit.


Setelah jam kantor usai, Julia cepat-cepat memacu mobilnya menuju kantor Irfan. Ia sendiri belum pernah datang ke kantor Irfan, tapi ia tahu di mana letaknya.

__ADS_1


Jarak kantor Julia ke kantor Irfan lumayan jauh, ditambah lalu lintas sore hari yang padat membuat Julia merasa tidak sabar. Hingga hari menjelang senja, barulah ia sampai di kantor Irfan.


Kantor Irfan ternyata sudah agak sepi, hanya beberapa pegawai saja yang masih terlihat masih bekerja. Julia dipersilahkan masuk ke dalam ruangan Irfan oleh seorang sekretaris.


"Halo, Irfan," sapa Julia.


"Halo, Jul. Silahkan duduk." Irfan mempersilahkan Julia untuk duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Terima kasih, Irfan. Ternyata letak kantormu lumayan juga ya, aku nggak mengira hampir malam baru sampai di sini. Maaf seharusnya besok saja aku ke sini, kamu malah jadi menunggu aku." Julia mengatakan banyak hal untuk meredam rasa groginya. Ia merasa seperti anak remaja yang salah tingkah saat bertemu pujaan hatinya.


"Aku biasa kerja sampai malam, Jul." Irfan menyunggingkan senyumnya, ia sangat senang akhirnya Julia datang juga mengunjungi dirinya. Rasa hati ingin memeluk Julia yang sangat cantik setelah sekian lama ia tidak bertemu. Irfan menenangkan degub jantungnya yang berdetak kencang.


"Oiya Fan, boleh aku lihat katalog furniture desain klasik?" tanya Julia.


"Eh iya, ini Jul," kata Irfan menyerahkan sebuah buku katalog yang tebal.


Julia meneliti satu demi satu mana yang sesuai dengan desain villa papanya. Sementara Irfan terus menatap wajah Julia yang tengah serius. Rasa cinta seakan memenuhi hatinya. Irfan ingin sekali menyatakan cintanya saat ini juga, tapi ia sadar akan tempat dan waktu yang tidak romantis sama sekali.


Tok tok tok ....


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Ia mendengus kesal akan gangguan akan kebersamaannya dengan Julia. Tapi ia teringat jika yang datang pasti Karina.


Irfan membuka pintunya dan benar Karina lah yang datang.


"Halo Kak Irfan, pasti lembur lagi ya?" sapa Karina sambil mengedipkan matanya tanpa terlihat Julia.


"Halo Karin, ayo masuklah," kata Irfan memutar bola matanya.


Sebenarnya ia tidak setuju akan rencana Karina tapi ia pun ingin sekali Julia mencemburuinya.


"Eh sedang ada tamu. Maaf mengganggu kalian," kata Karina tersenyum manis sekali pada Irfan.


"Tidak, duduk sini Karin. Ini temanku Julia yang ingin memesan furniture. Julia ini temanku Karina," kata Irfan memperkenalkan Karina pada Julia.


"Halo Karina, senang sekali mengenalmu." Julia memandangi gadis cantik di depannya. Ia membatin dalam hati, ternyata gadis inilah yang tengah dekat dengan Irfan.


"Halo Julia, senang juga mengenalmu. Maaf menganggu, aku ke sini hanya mau membawakan makan malam buat Irfan. Dia ini sering lembur dan seringnya lupa makan. Takutnya nanti sakit kan. Tapi aku nggak tahu kalau sedang ada tamu. Jadi aku hanya membawa makan untuk 2 orang aja," kata Karina sambil sesekali memandang manja pada Irfan.


Julia bergantian menatap Irfan dan Karina. Ternyata Karina sangat perhatian sekali pada Irfan, berbeda sekali dengan dirinya yang hanya ingin selalu diperhatikan.

__ADS_1


Sekarang Julia baru menyadari, mungkin selama ini dia egois, tidak pernah memperhatikan Irfan.


"Karin, biar Julia saja yang makan, aku bisa nanti saja," saut Irfan.


"Eh jangan, Irfan kamu makanlah dulu. Tadi sebelum ke sini aku sudah makan kok," kata Julia meyakinkan. Padahal ia merasa lapar, tapi ia nggak merasakannya karena ia sibuk menata hatinya.


Rasa cemburu memenuhi hatinya saat melihat kemesraan antara Irfan dan Karina. Ia sebal mengapa posisinya seperti obat nyamuk diantara mereka berdua.


"Kak Irfan, makan saja dulu. Ini aku yang masak lho. Atau mau aku suapi?" Karina tersenyum sendiri dengan aktingnya.


Ia melirik Julia yang tampak cemburu. Karina semakin bersemangat melanjutkan aktingnya.


Irfan hanya mendengus mendengarkan celoteh Karina. Mana bisa Karina memasak?


Irfan terus mengamati Julia yang seakan salah tingkah. Mungkin tebakan Karina memang benar jika Julia sedang cemburu. Tapi saat ini Irfan merasa tidak tega melihat Julia yang terus menunduk dan kebingungan akan keberadaannya diantara ia dan Karina.


"Ini makan dulu, Kak," kata Karina sambil menyuapi Irfan.


Irfan yang terkejut langsung melototkan matanya pada Karina. Akting Karina sepertinya sudah kelewatan. Ia menatap Julia yang terlihat terkejut tapi sedih di bola matanya.


"Uhuk ... Maaf mungkin aku mengganggu kalian. Lebih baik aku pulang dulu. Irfan, katalognya aku bawa dulu ya. Karina, senang bertemu denganmu tapi aku harus pulang sekarang. Sampai bertemu lagi."


Julia tiba-tiba bangkit berdiri dan segera keluar dari ruang kantor Irfan. Ia sudah tidak tahan melihat kemesraan Irfan dan Karina lebih lama lagi. Julia mengutuk dalam hati, ia benar-benar sial. Hari ini adalah hari yang buruk baginya.


"Julia ... Jul!" panggil Irfan yang ingin mengejar Julia tapi tangan Karina menahannya.


"Kak, biarin dulu."


"Tapi Karin, aku mau jelasin ke Julia dulu," kata Irfan tidak sabar.


"Haha ... kan benar kalau Julia itu cemburu. Biarin dulu Kak, sabar lah. Besok baru temui Julia, percaya sama aku. Oke?!" kata Karina meyakinkan.


"Baiklah, sepertinya kamu benar, Karin."


Irfan merasa gundah tapi juga bahagia, mungkin Julia sudah merasakan cinta dalam hatinya untuk dirinya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2