
Julia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hatinya merasa galau. Bagaimana akan menjawab Theo besok sore.
Haruskah aku terima cinta Theo padahal di hatiku hanya ada nama Ben? Tapi jika bukan sekarang, kapan lagi aku bisa mencoba melupakan Ben dari hatiku? Tapi jika aku menerima cinta Theo, rasanya tidak adil buat dia.
Julia memikirkan masalahnya hingga kelelahan dan akhirnya ia pun tertidur.
Saat bangun esok harinya, Julia dalam hati sudah menetapkan jawabannya. Mungkin inilah yang terbaik buat dia.
Theo benar-benar datang sore itu, terlihat tidak sabar mendengar jawaban yang akan Julia berikan.
"Halo Julia," sapa Theo hangat.
"Hai Theo, yuk masuk," Julia mempersilahkan Theo masuk ke ruang tamu.
"Di teras sini saja Jul, lebih santai. Papa Mama kamu mana Jul?" tanya Theo.
"Papa Mama pergi belanja ke supermarket. Oke lah kalau kamu mau di teras saja," kata Julia lalu duduk di samping Theo.
"Julia, kamu sudah memikirkan tentang semalam?" tanya Theo bersiap mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Julia.
"Iya sudah."
"Lalu?" tanya Theo makin penasaran.
"Ehm ... Kamu inginnya bagaimana?" Julia balik bertanya.
"Aduh Julia ... Kamu ini benar-benar membuat aku penasaran. Jul, aku tuh benar-benar sayang kamu. Apakah kamu juga sayang aku?" Theo terlihat sangat tidak sabar melihat Julia yang seperti mempermainkannya.
"Iya Theo, aku juga sayang kamu," kata Julia tersenyum manis.
"Benarkah? Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Theo tak percaya.
Julia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum makin lebar melihat binar kebahagiaan di wajah Theo.
"Terima kasih Julia, aku tidak menyangka kamu akan menerima cintaku," Theo meraih tangan Julia dan menciumnya.
"Aku berjanji akan berusaha untuk membuatmu bahagia dan membuatmu selalu tersenyum," janji Theo sambil memandangi kedua mata Julia.
"Terima kasih Theo," kata Julia.
Apakah benar yang kulakukan saat ini? Aku sangat egois sudah membohongi Theo. Padahal hatiku saat ini hanya ada Ben. Tapi aku akan berusaha untuk mencintai Theo. Semoga dengan berjalannya waktu, aku bisa mencintai Theo.
Julia membatin dalam hati dan bertekad akan berusaha mewujudkannya.
"Julia, kita makan malam di kafe langgananku yuk untuk merayakan hari jadi kita," ajak Theo bersemangat.
"Oke. Aku ganti baju dulu ya, tunggu sebentar," kata Julia sambil berdiri dan masuk ke dalam rumahnya.
Saat perjalanan ke kafe, Julia lebih banyak terdiam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Julia, kamu ingin makan di kafe pilihanku atau kamu ingin di tempat lain?" tanya Theo sambil terus menyetir.
"Kafe langgananmu saja. Aku juga ingin mencoba makan di sana, siapa tahu aku juga jadi suka dan jadi tempat favoritku juga," kata Julia.
__ADS_1
"Oke," saut Theo senang.
Sebenarnya Julia sangat ingin pergi ke kafe favoritnya karena sudah lama dia tidak makan di sana. Tapi tiba-tiba Julia teringat jika ia pergi ke sana, ada kemungkinan dia akan bertemu Ben. Julia menghindari Ben saat ini demi kebaikannya sendiri.
Sesampainya di kafe, Theo mengajak Julia memilih menu terbaik yang ada di situ.
Selesai makan, Theo terlihat terus memandangi Julia.
"Theo! Kamu kenapa lihat aku terus sih? Ada yang aneh di wajahku?" tanya Julia bingung.
"Enggak ... Kamu cantik Julia. Aku nggak percaya kamu bisa jadi pacarku," kata Theo menatap mata Julia.
"Ih Theo, jangan begitu dong jadi malu aku," pipi Julia memerah tersipu.
"Julia, aku tahu kamu belum terlalu cinta sama aku tapi aku akan terus sabar menunggumu sampai kamu benar-benar hanya cinta sama aku," kata Theo lalu meraih tangan Julia dan menciumnya.
"Terima kasih Theo," kata Julia lirih. Malu karena Theo tahu jika dia belum sepenuhnya cinta pada Theo.
"Julia, Theo! Kalian makan disini?" sapa Ben dan Nadine yang tiba-tiba muncul entah dari mana membuat Julia dan Theo terkejut. Tanpa sadar Julia menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman Theo.
"Hai Ben, Nadine. Kalian mau makan? Sayang sekali kami sudah selesai," kata Theo santai.
Ben dan Nadine lalu duduk di sebelah Theo.
"Telat dong kita. Tadi dari toko buku. Kalian mau langsung pulang?" tanya Ben.
"Iya, kami sudah sedari tadi di sini. Maaf Ben, Nadine, kami duluan ya," kata Julia lalu berdiri dan mengajak Theo pergi dari sana.
Theo bingung melihat Julia yang buru-buru pergi dari kafe itu.
"Theo, kita pulang ya," pinta Julia.
"Oke, tapi kenapa tadi kamu buru-buru pergi setelah Ben datang? Kamu ada masalah dengan Ben? Bukankah kalian sahabat dekat?" tanya Theo bertubi-tubi penasaran.
"Aduh aku jawab yang mana dulu nih."
"Ya sudah kita jalan dulu saja," ajak Theo agar Julia masuk ke mobilnya.
Theo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Julia.
"Kamu nggak ingin pergi ke suatu tempat? Aku akan mengantarkanmu," kata Theo yang masih ingin bersama Julia malam itu. Dia belum ingin mengantarkan Julia pulang.
"Aku ingin pulang. Besok kan juga sudah masuk kuliah," kata Julia yang matanya memandang lurus ke depan melihat lalu lintas yang ramai saat ini.
"Oke. Besok kan kita juga bertemu di kampus ya. Besok mau aku jemput?" Theo menawarkan.
"Enggak lah. Aku biasa berangkat pulang kampus sendiri. Kalau kamu jemput bisa-bisa aku jadi manja nanti."
"Oke lah kalau mau kamu begitu. Oiya, kamu tadi belum jawab pertanyaanku. Kamu ada masalah dengan Ben?" tanya Theo yang masih penasaran.
"Enggaklah. Aku masih sering komunikasi dengan dia walaupun sekarang seringnya lewat ponsel," kata Julia.
"Oh aku kira ada apa."
__ADS_1
**
Tak terasa waktu sangat cepat berlalu hingga akhir semester. Selama itu pula Julia dan Theo semakin hari semakin dekat. Julia berusaha memberikan hatinya pada Theo walupun sangat sulit.
Terkadang saat Julia melihat Theo, ia seperti melihat dirinya sendiri. Julia yang mencintai Ben tapi tak berbalas.
Sore itu, Julia sedang asyik memainkan ponselnya di taman belakang rumahnya.
"Julia, Mama lupa kasih tahu kamu kalau besok sore kita akan menginap di villa keluarga Ben. Acaranya seperti liburan tahun lalu," kata Mama yang ikut duduk di samping Julia.
"Cuma keluarga kita dan keluarga Ben saja Ma?" tanya Julia.
"Mungkin ... Mama juga belum tahu. Kalau tahun lalu ada keluarga Om Heru tapi nggak tahu besok ikut juga atau enggak," kata Mama sambil memberikan segelas coklat hangat pada Julia.
Om Heru adalah adik Pak Andy, Papanya Ben.
Liburan bersama keluarga Ben sudah seperti tradisi setiap tahun. Namun entah mengapa, tahun ini rasanya Julia malas mengikutinya.
Sampai saat ini Julia masih menjaga jarak dengan Ben. Sekeras apapun usaha yang dilakukan Julia, dia belum bisa melupakan cintanya pada Ben walaupun ada Theo yang saat ini menjadi kekasihnya.
**
Sore itu saat Julia dan Papa Mamanya sampai di villa, keluarga Ben sudah ada di sana. Hanya saja Julia tidak melihat sosok Ben.
Liburan tahun ini terasa sangat istimewa karena Bella mengajak suami dan Sovia, putri kecilnya yang menggemaskan.
Tante Tyas, mamanya Ben sudah menyiapkan kamar yang akan ditempati. Julia menempati kamar bersebelahan dengan Papa Mamanya.
Villa keluarga Ben lumayan besar. Julia sangat menyukai dan merindukan berlibur di villa ini. Tapi saat ini, Julia sama sekali tidak bersemangat. Julia meletakkan tas miliknya di kursi yang ada di kamar itu. Tubuhnya ia hempaskan di tempat tidur yang empuk. Tiba-tiba ia teringat Sovia. Lalu dengan tergesa, Julia keluar kamar dan mencari Sovia.
Ternyata Sovia sedang digendong Bella di teras villa. Julia berlari menghampirinya.
"Sovia ... ," panggil Julia gemas.
Saat melihat Julia, Bella menyerahkan Sovia ke dalam gendongan Julia, karena Bella tahu jika Julia sangat ingin menggendong Sovia.
Julia menimang-nimang Sovia dengan sayang. Bella yang melihatnya pun hanya tersenyum.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan villa. Julia melihat Ben keluar dari mobilnya dan Nadine juga ikut keluar dari mobil.
Ben dan Nadine berjalan menuju teras villa.
"Halo Ben, Nadine, akhirnya kalian sampai juga," sapa Bella ramah.
Julia hanya berdiri diam mematung. Matanya bertukar pandang dengan Ben cukup lama. Dan akhirnya Julia dulu yang mengakhiri pandangannya lalu melihat ke sembarang arah.
Ternyata perasaanku benar jika liburan kali ini akan membuatku tersiksa. Mengapa Nadine diajak Ben di liburan keluarga seperti ini? Mungkin keluarga Ben dan Nadine sudah akrab.
Kenapa sih setiap kali melihat Ben hatiku selalu saja masih tak karuan? Padahal sudah ada Theo yang sekarang jadi kekasihku.
-
-
__ADS_1
-