
Julia berhasil menyuruh Ben pulang malam ini. Sebenarnya ia senang memiliki teman yang bisa menemaninya, mengobrol ataupun berbagi masalah. Baik itu Ben maupun Irfan, ia menganggapnya sebagai teman saat ini.
Namun jika Ben dan Irfan mempunyai maksud lain padanya, Julia merasa tidak nyaman. Apalagi saat ini ia sedang hamil dan statusnya sebagai janda, membuat Julia harus hati-hati untuk bertindak.
Julia bersiap akan tidur malam itu. Ia berbaring di ranjangnya. Tangannya secara otomatis mengelus perutnya. Ia selalu mengajak bayinya berbicara, walaupun ia tahu bayinya masih sangat kecil.
Sayang, Mama sudah tidak sabar menantimu hadir di dunia ini. Selamat bobok, nak. Besok pagi kita bangun bersama ya .....
****
Hari ini hari Minggu, Julia bersantai di rumah. Ia sengaja bangun siang dan hanya duduk-duduk saja sepanjang hari. Ia memang sedang malas untuk melakukan apapun.
Namun sore harinya, Julia baru teringat jika ia ingin bertemu dengan Nadine. Hatinya merasa iba dengan keadaan Nadine saat ini. Walaupun mungkin Nadine benci padanya, namun Julia tetap menganggap Nadine sebagai temannya.
Julia pergi ke rumah Nadine. Saat sudah sampai di halaman rumah, ia menjadi bimbang.
Rasa kuatir menyergap dadanya. Ia takut jika Nadine akan berprasangka buruk padanya dan takut jika Nadine malah memaki-makinya.
Lama Julia duduk di dalam mobilnya dan hanya memandangi rumah bercat putih yang menjulang di depannya. Namun akhirnya, ia pun mengumpulkan tekadnya dan ia turun dari mobil.
Rumah tampak sepi, Julia perlahan berjalan ke teras rumah.
Julia memejamkan mata dan mengambil nafas dalam sebelum tangannya menekan bel pintu.
Jantung Julia terasa berdegub lebih kencang. Sejujurnya ia takut membayangkan reaksi Nadine nantinya.
Julia kembali menekan bel pintu berkali-kali hingga agak lama, terdengar suara kunci pintu diputar dan pintu pun terbuka.
"Julia?!" kata Nadine agak terkejut.
"Halo, Nadine. Ehm ... Aku .... "
Julia bingung akan mengatakan apa.
"Ayo masuklah!" Nadine menarik tangan Julia agar masuk ke dalam rumah.
Julia bernafas lega, ternyata kekuatirannya tidak beralasan. Nadine terlihat senang dengan kehadirannya.
"Aku rindu sekali padamu, Jul." Nadine memeluk Julia.
Tanpa berpikir lagi, Julia pun membalas pelukan Nadine dengan erat. Ia merasakan jika Nadine sangat kurus.
Penampilan Nadine terlihat jauh berbeda. Tubuhnya kurus, rambutnya kusut, wajahnya sayu, seperti tidak ada gairah hidup.
Wajahnya tanpa polesan make up sedikit pun, tidak seperti dulu yang selalu tampil ber-make up tebal.
__ADS_1
Julia duduk dan menyesap teh hangat yang disajikan Nadine. Setelah puas melepas kerinduan, Nadine menyajikan teh dan camilan.
"Nadine, bagaimana kesehatanmu? Aku dengar kamu berobat keluar negeri. Maaf baru sempat menjenguk mu sekarang," kata Julia.
"Aku sudah sehat, Jul. Mungkin ini semua balasan untukku," kata Nadine serak, menahan Isak tangisnya.
"Jangan bilang seperti itu, Nad. Tidak ada yang namanya balasan. Hidup kita kan sudah digariskan Tuhan."
"Tapi, Jul, kamu tidak tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini. Sekarang akulah yang menerima semua akibatnya. Kau tahu, kandunganku sudah diangkat. Aku sudah tidak bisa memiliki anak lagi. Aku sangat takut jika Ben akan meninggalkan aku, Jul."
Air mata mengalir deras di pipi Nadine.
"Sabar, Nad. Jika kalian saling mencintai, mana mungkin Ben akan meninggalkanmu? Kalian kan masih bisa adopsi anak," hibur Julia.
"Tapi kan Ben mencintai kamu, Jul," kata Nadine lirih ditengah Isak tangisnya.
"Jangan berprasangka seperti itu, Nad. Kalian kan suami istri, kamu harus percaya pada Ben."
Nadine terdiam cukup lama, menata hatinya yang terasa perih jika mengingat perlakuan Ben padanya selama ini.
Jelas-jelas Ben mengatakan akan meninggalkannya dan terlihat sudah tidak perduli padanya lagi.
"Jul, aku dengar suamimu meninggal. Aku ikut berduka, Jul," kata Nadine setelah bisa menenangkan dirinya.
"Terima kasih, Nad. Tapi aku sudah mengikhlaskannya. Apalagi Karel meninggalkan sesuatu yang sangat berharga untukku," kata Julia yang matanya terlihat berbinar. Ia selalu bahagia jika mengingat anak yang masih ada dalam kandungannya.
"Ehm ... Aku hamil, Nad. Karel tidak meninggalkan aku sendirian. Kelak, anak inilah yang selalu akan menemaniku sebagai pengganti Karel," kata Julia sambil otomatis memegangi perutnya, merasakan denyut kehidupan dalam rahimnya.
Nadine sangat terkejut, ia sama sekali tidak menyangka jika Julia hamil. Yang ia tahu Julia kehilangan suaminya saja.
"Benarkah?! Selamat untukmu, Jul. Pasti kamu sangat bahagia." Nadine tersenyum dan memeluk Julia lagi. Ia bisa merasakan kebahagiaan yang Julia rasakan.
"Jul, kamu harus jaga baik-baik kandunganmu. Jangan sampai seperti aku," kata Nadine yang matanya kini kembali sayu.
"Terima kasih, Nad. Aku akan selalu menjaganya. Dialah hartaku yang paling berharga di dunia ini," saut Julia dengan senyum di bibirnya.
Nadine melihat mata Julia yang terlihat berbinar bahagia. Julia nampak semakin cantik dan aura bahagia memancar dari wajahnya. Nadine sangat iri pada Julia.
Selama ini Nadine menganggap Julia pasti sangat sedih telah kehilangan suaminya, namun ia tak menyangka jika Julia diberikan anugerah besar.
"Nad, maaf aku bertanya. Apakah Ben tidak pulang kesini?" tanya Julia hati-hati.
"Ben tidak mau pulang, Jul. Ia tinggal di apartemen."
"Lalu Mama Ben tidak membantumu agar rumah tangga kalian kembali seperti dulu?" tanya Julia lagi.
__ADS_1
"Mama Tyas sama sekali tidak berbuat apa-apa, Jul. Malah sepertinya senang jika Ben meninggalkan aku," kata Nadine sedih.
"Benarkah?! Aku tidak menyangka Tante Tyas seperti itu."
"Kau tahu kan jika Mama Tyas hanya menginginkan cucu. Dan aku tidak bisa memberikannya," kata Nadine yang matanya menerawang jauh.
Nadine sangat ingat dengan apa yang Mama Tyas katakan padanya sepulang ia dari berobat ke luar negeri.
"Jul, aku memang sudah hancur. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi," kata Nadine sedih. Air mata kembali membanjiri pipinya.
"Nad, jangan bicara seperti itu. Kamu harus semangat. Ingat ada aku yang akan selalu support kamu." Julia menggenggam tangan Nadine, seakan memberi kekuatan padanya.
"Nad, aku ingin jika anakku lahir nanti, kamu juga mau mengasuhnya bersamaku. Ini akan jadi anak kita berdua. Bagaimana?"
Julia tiba-tiba berkata apa yang terbersit dalam benaknya.
Tiba-tiba mata Nadine seketika berbinar, "Benarkah katamu? Kamu membolehkan aku menjadi ibu asuh bagi anakmu nanti?"
"Iya, Nad. Aku yakin anakku nanti pasti senang," kata Julia tersenyum.
Julia dan Nadine saling bercerita hingga hari mulai malam. Julia pun pamit pulang, ia sudah merasa lapar. Julia ingin mampir ke warung nasi goreng favoritnya.
"Nad, aku pulang dulu ya. Jika kamu ada waktu, mainlah ke rumahku,"' kata Julia sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir di jalan depan rumah.
"Iya, Jul. Terima kasih sudah datang kesini dan menjadi temanku," kata Nadine terlihat bahagia.
"Sampai bertemu lagi, Nad."
"Bye, Julia. Hati-hati di jalan."
Nadine tersenyum senang sambil melambaikan tangannya.
Perlahan mobil Julia menjauh dan tak terlihat pandangan mata.
Nadine tersenyum sinis di sudut bibirnya. Sedari tadi ia terpaksa bersandiwara di depan Julia. Rasa benci tiba-tiba menyeruak hingga dadanya terasa sesak saat melihat Julia di depan matanya. Namun ia bisa menahan diri dengan baik.
Nadine tidak rela melihat Julia bahagia. Apalagi sekarang Julia hamil, ia sama sekali tidak rela.
Nadine berjalan masuk ke dalam rumah. Otaknya mulai berputar menyusun rencana.
Jika ia tidak bahagia, ia pun ingin agar Julia juga sengsara bersamanya.
-
-
__ADS_1
-