Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Aku Melarangnya


__ADS_3

Julia berjalan tergesa menuju resepsionis rumah sakit. Siang ini rumah sakit sangat ramai. Masing-masing orang sibuk dengan kepentingannya.


Sampai di meja resepsionis, ia harus sabar mengantri. Mengatur nafas dan juga hatinya. Ia harus siap menerima kabar terburuk.


"Maaf Bu, dimana saya bisa menemui pasien kecelakaan bus kemarin?" tanya Julia tergesa.


"Atas nama siapa?" Perawat itu balik bertanya.


"Karel Anggara."


"Tunggu sebentar Bu." Perawat itu mencarinya di komputer.


"Bu, pasien Karel Anggara saat ini masih dalam perawatan di IGD. Jika Ibu bukan keluarga, tidak bisa untuk menemuinya," kata perawat.


"Saya adiknya Bu. Belum ada keluarga lain yang datang, hanya saya saja," jelas Julia.


Terpaksa dia mengaku sebagai adik, karena jika mengaku sebagai kekasih maka ia belumlah menjadi keluarga pasien.


"Baiklah Bu. Ruang IGD ada di ujung koridor ini," kata perawat.


"Terima kasih Bu."


"Sama-sama."


Julia bergegas melangkahkan kaki menuju ruang IGD. Pikirannya kacau, seburuk apakah kondisi Karel saat ini?


Saat akan memasuki ruang IGD, Julia harus memberikan keterangan seputar dirinya kepada petugas jaga.


Perawat yang berjaga mengantarkan Julia ke tempat Karel.


"Bu, ini pasien Karel Anggara, kondisinya masih belum sadar pasca operasi yang semalam dilakukan. Kakinya mengalami patah tulang dan ada pendarahan dalam karena benturan yang sangat keras. Itu keterangan dari dokter," jelas perawat yang membacakan rekam medis Karel di berkas yang dibawanya.


"Ehm ... Kira-kira kapan dia akan sadar Bu?" tanya Julia sedih melihat kondisi Karel saat ini.


"Kita hanya bisa menunggu Bu. Jika pasien sadar, tolong panggil kami yang berjaga di depan," jelas perawat.


"Terima kasih Bu."


"Sama-sama, terus berdoa saja Bu."


Julia hanya menganggukkan kepalanya. Dengan perlahan mendekati Karel yang saat ini masih belum sadarkan diri.


Dengan lembut diraihnya tangan Karel. Julia menciumnya perlahan seakan takut akan menambah penderitaan yang Karel rasakan.


"Karel sayang, cepatlah bangun. Aku selalu disini menantimu," ucap Julia lirih di telinga Karel.


Dengan sayang diciumnya kening Karel. Saat ini dirasakannya jika ia memang sangat mencintai Karel, ia belum siap menghadapi jika harus kehilangan Karel.


"Ayo sayang, bangunlah ... "


Julia merasa sedih melihat keadaan Karel saat ini. Karel terlihat sangat lemah dengan banyaknya luka di tubuhnya.


Julia meneteskan air matanya, teringat saat-saat Karel yang selalu tersenyum ceria, menggodanya dengan cerita-cerita yang terkadang tidak lucu.


Namun sekarang, hanya doalah yang dapat ia panjatkan agar Karel segera siuman. Tak lupa Julia terus mengabari Mama Karel mengenai keadaan Karel.


Hari telah menjelang malam, tapi belum ada tanda-tanda sedikitpun Karel akan segera sadar. Julia terus mendampingi, duduk di sisi Karel sambil terus membelai pipi dan tangannya. Berharap apa yang dilakukannya saat ini dapat membuat Karel segera sadar.


Julia merasa sangat letih dan tak terasa ia tidur di sisi Karel sambil tangannya terus memegangi tangan Karel.


"Jul ... Julia ... "


Sayup-sayup Julia merasa ada yang memanggilnya, tangannya seperti ada yang meremasnya. Seketika Julia sadar jika ia telah ketiduran.

__ADS_1


"Karel!"


Julia sangat terkejut melihat Karel yang telah siuman. Karel hanya mengedipkan matanya tanda ia telah sadar.


"Tunggu Karel, aku akan memanggil dokter. Jangan tidur dulu ya," kata Julia menenangkan.


Karel belum dapat berbicara, ia hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban.


Julia berjalan cepat menuju ruang depan tempat perawat jaga.


Ia memberitahukan jika pasien Karel telah siuman. Lalu dokter jaga dan perawat segera menuju tempat Karel berbaring.


Julia hanya berdiri menjauh, tidak mau mengganggu dokter dan perawat yang sedang bekerja. Selalu berdoa dalam hati agar keadaan Karel segera membaik.


Dokter memberi perintah-perintah pada para perawat. Julia tetap sabar menunggu.


Setelah dokter selesai memeriksa, ia memanggil Julia.


"Bu, keadaan pasien sejauh ini baik. Namun ia tetap harus dalam pantauan supaya kondisinya stabil. Sementara tetap harus di ruang IGD hingga besok pagi. Jika keadaannya telah stabil, maka bisa dipindahkan di ruang perawatan," jelas Dokter.


"Baik Dok, terima kasih."


Setelah dokter dan para perawat meninggalkan Karel, Julia mendekat. Diciumnya kening Karel dengan sayang.


"Terima kasih kau sudah bangun sayang, aku akan selalu disini menjagamu," kata Julia pelan-pelan.


"Terima kasih Jul," jawab Karel terbata.


Julia tahu saat ini Karel pasti merasa kesakitan, jadi ia pun hanya diam sambil terus membelai rambut Karel.


Hanya mata mereka yang saling bertukar pandang, saling menatap. Seakan hanya lewat tatapan mata, cinta yang ada di hati terpancarkan.


***


"Karel, kamu mau makan? Aku suapi ya," tanya Julia.


"Sedikit saja Jul," saut Karel.


Julia menyuapi Karel dengan telaten.


"Setelah aku sembuh, kita menikah ya Jul," kata Karel yang terus memandangi Julia.


"Iya Karel."


"Maaf, aku melamarmu dalam keadaan seperti ini. Tidak romantis sama sekali."


"Bagiku tidaklah penting romantis atau tidak. Yang penting, kamu mencintaiku."


"Aku cinta kamu Julia," kata Karel mesra.


"Aku juga cinta kamu Karel. Saat mendapat kabar kamu kecelakaan, aku sudah sangat takut akan kehilangan kamu." Julia mengutarakan isi hatinya.


"Saat terjadi kecelakaan itu, saat aku dalam keadaan antara sadar dan tidak ... Hanya kamulah yang aku pikirkan Jul."


Julia mencium pipi Karel dan keduanya saling berpelukan seolah tidak ingin terpisah lagi.


***


Waktu berjalan sangat cepat. Saat kondisi Karel membaik, ia dipindahkan kembali ke rumah sakit yang dekat dengan rumah agar keluarga tidak repot merawat.


Julia pun sudah kembali bekerja, namun setiap hari ia selalu menyempatkan menjenguk Karel di rumah sakit.


Selama itu pula, orang tua Julia dan orang tua Karel telah saling mengenal. Keluarga sangat setuju jika pernikahan Karel dan Julia akan dilangsungkan saat Karel telah sembuh.

__ADS_1


Julia sangat bahagia, keluarga Karel tidak mempermasalahkan statusnya yang janda. Malahan Mama Karel terlihat sangat sayang pada Julia.


Julia merasa sangat beruntung diterima dan disayangi keluarga Karel.


Enam bulan telah berlalu ...


Saat ini Karel telah masuk bekerja walaupun kakinya yang patah belum benar-benar sembuh, namun ia bersikeras tetap masuk kerja walaupun menggunakan kruk untuk berjalan.


Julia sangat senang karena kini hidupnya telah mulai cerah kembali. Walaupun pernikahannya masih enam bulan lagi, namun ia telah mulai merancang pesta pernikahan seperti apa yang diinginkannya.


Siang ini di kantor, Julia sedang browsing pernikahan yang sedang trend.


Namun Julia tiba-tiba teringat Ben dan Nadine. Telah lama ia tidak mendengar kabar mereka setelah dulu Ben dan Nadine sempat menjenguk Karel di rumah sakit.


"Julia, sibuk sekali kelihatannya," sapa Karel saat melihat Julia sangat serius.


"Eh Karel, tidak kok aku hanya lihat-lihat saja," saut Julia tersenyum.


"Aku kesini mau memberikan ini." Karel meletakkan setumpuk berkas-berkas di meja Julia.


Julia dan Karel saling tersenyum dan Karel pun keluar ruangan meninggalkan Julia.


Saat pulang kantor, Julia terlebih dulu mengantarkan Karel pulang. Selama Karel belum benar-benar sembuh, Julia lah yang mengantarkan pulang sore hari. Saat berangkat kantor, Karel diantarkan Papanya.


Setelah mengantarkan Karel, Julia pun langsung pulang ke rumahnya. Namun saat sampai di depan rumah, dahi Julia berkerut tatkala ia melihat mobil Ben terparkir di halaman rumahnya.


Julia segera memarkir mobilnya dan keluar.


"Halo Ben, tumben datang ke rumahku," sapa Julia.


"Halo Julia." Ben hanya tersenyum.


Julia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Ben masuk lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa datang kesini Ben?" tanya Julia langsung. Ia tahu jika Ben ada sesuatu yang akan disampaikan.


"Julia, bagaimana keadaan Karel sekarang?"


"Sudah jauh membaik. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa sih ... Hanya aku ingin tau, apakah benar kalian akan menikah?" tanya Ben serius.


"Iya Ben, mungkin masih 6 bulan lagi menunggu kaki Karel benar-benar sembuh," jawab Julia.


"Julia, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Ben lurus menatap Julia.


"Apakah itu Ben?"


"Julia ... Jangan menikah dengan Karel!"


"Kenapa?"


"Karena aku ... Aku melarangnya!" kata Ben tergagap.


Julia menatap Ben bingung.


-


-


Halo readers setia Terlanjur Menikah, author sangat berterima kasih karena kalian selalu setia mengikuti kisah Julia dan Ben. Namun author meminta maaf jika saat ini hanya bisa update setiap 2 hari sekali.


Semoga kalian bisa mengerti dan sekali lagi terima kasih untuk semua dukungannya🙏🙏.

__ADS_1


Salam hangat dari author🤗🤗🥰🥰**


__ADS_2