
Wajah Julia memucat, tidak mengerti mengapa Ben menceritakan semuanya pada Nadine. Entah apa yang Ben inginkan atau sekarang untuk apa Nadine menemuinya seperti ini?
"Haha ... Jangan terlalu terkejut begitu dong Jul. Kita kan sudah seperti sahabat dari lama jadi pastilah Ben sangat percaya padaku sehingga menceritakan semuanya," lanjut Nadine yang kata-katanya malah semakin menusuk hati Julia.
"Baiklah. Lalu apa maksudmu menemuiku? Hanya untuk mengatakan itu saja?" Julia berusaha menahan emosi dan tidak menangis saat ini. Walaupun hatinya sangat perih tapi ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Nadine.
"Ehm ... Julia, maksudku adalah aku akan menunggu Ben. Perjanjian kalian kan tinggal dua tahun bukan?!"
Seketika Julia menatap mata Nadine. Melihat mata Nadine saat ini, Julia seperti tidak mengenalinya. Sangat berbeda dengan saat dulu masih berpacaran dengan Ben.
Apakah orang bisa berubah secepat itu?
"Tidak ada tanggapan apapun Jul?" tanya Nadine mengejutkan lamunan Julia.
"Lalu aku harus mengatakan apa lagi? Terserah kamu mau apa!" Julia berdiri hendak meninggalkan Nadine. Dia sudah tidak tahan berbicara dengan Nadine saat ini.
Nadine meraih tangan Julia, menghentikan langkahnya.
"Jul ... tunggu! Kamu tidak takut Ben akan kembali padaku?" tanya Nadine.
"Untuk apa takut? Terserah Ben akan memilihku atau kamu. Tapi bersabarlah ... Tunggu dua tahun lagi dan biarlah Ben yang menentukan!" Kata Julia dengan tegas.
"Haha ... Baiklah Jul. Aku yakin akhirnya akulah yang akan memiliki Ben," kata Nadine dengan kepercayaan tinggi.
Julia memandangi Nadine yang berjalan pergi meninggalkannya.
Nadine, kenapa kamu jadi seperti ini? Aku tidak menyangka kamu masih mencintai Ben. Ya Tuhan ... Haruskah aku melepaskan Ben sekarang?
Julia masih berdiri mematung. Tak terasa air mata mengalir di pipinya.
"Jul, kamu kenapa?" Suara Karel mengejutkan Julia.
"Eh ... Karel," saut Julia terbata.
"Kamu kenapa menangis? Ada masalah apa?" tanya Karel bertubi-tubi.
"Enggak apa-apa Karel," kata Julia mengerjapkan matanya agar air mata tidak lolos jatuh ke pipinya.
Karel menuntun Julia untuk duduk di bangku yang ada di sekitar taman.
"Jul, katakan ada masalah apa? Aku hanya ingin membantumu," bujuk Karel saat melihat Julia sudah mulai tenang.
"Wanita yang tadi bertemu denganmu itu siapa?" tanya Karel menyelidik karena saat melintasi taman ini, Karel melihat Julia berbicara dengan seorang wanita.
"Ehm ... itu tadi Nadine, mantan Ben yang datang kembali. Semalam mereka tidak sengaja bertemu di caffe. Padahal kemarin aku bertengkar dengan Ben lalu Ben pergi dan pulang larut malam," jelas Julia.
"Dan ternyata Ben bertemu Nadine?"
"Yah begitulah. Tapi yang membuatku bingung mengapa Ben harus menceritakan tentang perjanjian pernikahan kami pada Nadine?"
__ADS_1
"Perjanjian Pernikahan?" tanya Karel bingung.
Julia yang tersadar dengan kata-kata yang lolos dari mulutnya pun menutupnya dengan tangan.
"Ehm ... Mak - maksudnya ... "
"Maksudnya?!" tanya Karel menuntut.
Julia masih terdiam. Bingung apakah harus menceritakan pada Karel atau tidak. Namun, Karel meraih tangannya seolah memberi kekuatan.
"Julia ... " bujuk Karel lembut.
"Ben meminta waktu tiga tahun dalam pernikahan kami agar bisa mencintaiku. Jika dalam waktu tiga tahun dia belum bisa mencintaiku, aku akan melepaskannya," kata Julia yang entah mengapa saat mengatakannya sekarang, hatinya terasa semakin perih.
Karel terdiam, berusaha mencerna semua penjelasan Julia yang tidak masuk di akal sehatnya.
"Jul, kamu masih waras?"
"Semoga ... ," saut Julia lirih.
"Jul, sadarlah! Cinta tidak mungkin dipaksakan! Jika sikap Ben saja seperti ini sekarang, bagaimana dia bisa membuka hatinya untukmu?!"
"Aku tidak tau Karel."
"Jul, aku tidak mengerti dengan sikapmu. Kalau aku boleh memberi saran, sebagai sahabat dan orang yang sayang padamu, please tinggalkan Ben sekarang!" Karel merasa geram dengan Ben yang sangat egois di matanya.
"Jul, apakah kamu sadar jika Ben sudah memanfaatkan kamu? Apakah kamu sadar Ben sangat egois dan hanya merendahkanmu?" tanya Karel menahan emosinya.
"Karel ... sudahlah. Ben masih suamiku, kamu jangan mengatainya yang buruk."
"Tapi suami macam apa yang memperlakukan istrinya begitu? Perjanjian pernikahan apa itu? Jika aku tau dari awal, aku pasti membawamu jauh dari Ben."
"Karel, akulah yang memutuskan semuanya. Sudahlah ... aku akan menyelesaikan masalahku sendiri. Terima kasih sudah membantuku dan tolong jangan ceritakan pada siapapun, karena papa mamaku pun tida mengetahuinya," kata Julia memohon.
"Jul, bilang saja apa yang dapat kulakukan untukmu. Aku pasti akan membantumu dan aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun," kata Karel memandangi mata Julia yang terlihat memerah penuh air mata.
Tak kuasa menahan, tangan Karel pun akhirnya bergerak menghapus air mata yang memenuhi mata indah Julia.
"Julia, ingat ya ... Aku akan selalu ada untukmu," kata Karel tulus.
***
Sore hari saat sudah pulang ke rumah, Julia menyiapkan makan malam dan menunggu Ben kembali pulang. Namun hingga pukul 8 malam, Ben belum pulang juga.
Julia mencoba mengirim pesan, bertanya Ben dimana saat ini. Namun, ponsel Ben tidak aktif. Julia memandangi layar ponselnya, bingung akan berbuat apa. Julia pun keluar rumah dan duduk di teras, menunggu Ben pulang.
Hingga akhirnya ketika jam 9 malam, mobil Ben memasuki halaman rumah. Julia menarik nafas lega karena tidak terjadi hal buruk pada Ben seperti khayalannya.
"Ben, pasti kamu lelah pulang larut begini," sapa Julia saat Ben keluar mobil.
__ADS_1
"Kamu menungguku?"
"Iya, tadi aku mengirim pesan tapi ponselmu tidak aktif."
"Baterai ponselku habis," kata Ben yang kini sudah masuk ke dalam rumah.
"Sudah makan malam Ben?" tanya Julia dengan sabar.
"Sudah Jul. Kamu sudah makan?"
"Sudah," saut Julia berbohong karena sebenarnya dirinya menunggu Ben agar makan bersamanya.
Namun rasa lapar sudah tak dirasakannya lagi sekarang.
Julia menyusul Ben ke kamar tidur setelah membereskan meja makan. Memasukkan semua makanan yang tidak tersentuh ke dalam kulkas.
Saat masuk ke kamar, ternyata Ben sedang mandi. Dengan sabar Julia menunggu sambil memainkan ponselnya.
Saat Ben sudah keluar dari kamar mandi, dilihatnya Julia masih duduk di tempat tidur.
"Kamu tidak tidur Jul?"
"Ben, kita bisa bicara sekarang? Aku ingin menuntaskan masalah kita," pinta Julia.
"Baiklah, sekarang apa yang ingin kamu katakan?" kata Ben yang merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasa lelah karena bekerja seharian kini terasa di otot-ototnya yang pegal.
"Ben, kamu tau kan jika aku dan Karel hanya teman kerja? Jangan kamu mencurigai aku telah mengkhianatimu," jelas Julia.
"Ya, aku percaya." Ben berkata singkat seolah malas membicarakannya dengan Julia.
"Ben, semalam kamu pergi kemana?" tanya Julia hati-hati.
"Aku pergi ke caffe dan tidak sengaja bertemu Nadine. Kenapa?"
"Tadi siang Nadine menemuiku di kantor dan menceritakan semuanya. Ben, untuk apa kamu memberitahu Nadine tentang perjanjian pernikahan kita?" tanya Julia yang kini memandangi mata Ben.
"Ehm ... Entahlah, aku juga tidak sadar telah memberitahunya," saut Ben.
"Tapi Ben, Nadine bilang masih cinta kamu."
"Lalu?"
"Ben ... Jujurlah sekarang padaku, apakah kamu masih cinta Nadine?" tanya Julia dengan hati yang remuk. Tidak siap mendengar akan apa yang akan keluar dari mulut Ben.
-
-
-
__ADS_1