Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Perjanjian Kita


__ADS_3

"Terima kasih Theo, aku sangat menikmatinya," ucap Nadine tersenyum puas, dengan masih memeluk Theo yang berbaring di sampingnya.


"Ingat perjanjian kita Nad!"


"Aku selalu ingat Theo, jangan kuatir," kata Nadine yang kini memainkan jari-jarinya menyusuri dada bidang Theo.


"Jika ingkar lagi, kau tau kan akibatnya?!" ancam Theo menatap mata Nadine.


"Tenanglah Theo, kata dokter agar aku bisa hamil, dua hari lagi kita harus melakukannya lagi." Nadine menjelaskannya dengan santai, seolah apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang biasa saja.


"Oke, kamu beritahu saja besok waktunya," ucap Theo.


Nadine dan Theo terlelap tidur, lelah dengan percintaan yang mereka lakukan. Nadine tersenyum dalam tidurnya, apa yang diinginkannya akan terwujud sebentar lagi.


Kebetulan seminggu ini Ben bertugas di luar kota, jadi Nadine bebas melakukan apa saja. Tapi untuk mengelabui Ben, Nadine berencana jika Ben pulang nanti, ia harus bisa mengajak Ben untuk bercinta agar tidak curiga kenapa Nadine bisa tiba-tiba hamil.


Rencana yang disusun Nadine telah sempurna, hanya ia masih belum puas akan perjanjiannya dengan Theo.


Theo meminta sesuatu yang akan sulit dilakukannya, tapi ia akan berusaha mencari jalan keluarnya suatu saat nanti.


Matahari mulai menampakkan sinarnya, sayup-sayup terdengar suara kicau burung membelah kesunyian pagi.


Nadine menggeliat, melenturkan otot-ototnya yang terasa kaku. Theo sudah tidak terlihat tidur disampingnya, namun Nadine mendengar suara percikan air di kamar mandi.


Nadine meraih baju tidurnya yang tergeletak di kursi, semalam ia melemparnya disana.


Senyum kembali terkembang di bibirnya, ternyata semudah ini ia bisa memanfaatkan Theo.


Saat melihat Theo keluar dari kamar mandi, Nadine hanya tersenyum memandangi tubuh Theo yang telah memberinya kenikmatan tersendiri.


"Theo, boleh aku bertanya?" tanya Nadine penasaran akan sesuatu.


"Tidak boleh!"


"Theo, siapa nama istrimu?"


"Kenapa ingin tau? Mau berkenalan?" tanya Theo sinis.


"Hoho ... Tentu saja tidak! Aku hanya ingin tau saja. Theo, kamu mencintai istrimu kan?!" Nadine makin penasaran.


"Nama istriku Cindy, dan aku menyanyanginya. Itu saja yang dapat aku katakan," saut Theo.


"Ehm aku jadi ingat. Istrimu Cindy Hernawan, putri pengusaha properti itu kan?!" Nadine teringat karena suaminya dulu adalah rekan bisnis ayah Cindy.


"Bagaimana kau tau?" Theo memalingkan wajahnya kini.


Nadine menyodorkan secangkir kopi dan memberikan roti untuk sarapan.


"Apakah pernikahanmu hanya perjanjian bisnis?" Nadine berusaha mengulik kehidupan pribadi Theo.


"Begitulah."

__ADS_1


"Theo, tentang perjanjian kita ... Kamu yakin itu permintaanmu?" tanya Nadine lagi.


"Nad, kamu sudah mau ingkar?!" Theo mulai merasa marah.


"Bukan begitu Theo."


"Ya sudah, kan kita sudah sepakat!" Theo mulai menaikkan volume suaranya.


"Baiklah. Jika begitu 2 hari lagi aku akan menghubungimu," kata Nadine akhirnya.


Setelah menghabiskan kopinya, Theo keluar dari kamar hotel. Ia langsung menuju parkiran hotel mengambil mobilnya.


Theo menghela nafasnya dan menutup matanya. Ia tahu perbuatannya ini salah, namun ia pun punya masalah sendiri dan mungkin ini jalan keluar walaupun ia tahu sangat salah.


Theo teringat Cindy, wanita yang setahun ini menemani hari-harinya. Wanita yang menyebut diri istrinya. Namun bagi Theo, Cindy adalah istri diatas kertas.


Theo menyalakan mesin mobilnya, ia tahu suatu hari ia harus bertindak untuk keluar dari masalah yang membelitnya selama ini.


***


Julia dan Karel bersama-sama berbenah agar rumah yang mereka tempati menjadi nyaman. Sisa cuti yang mereka miliki, diisi dengan mempercantik rumah tinggal mereka.


Senyum kebahagiaan selalu disematkan di bibir mereka, tak henti-hentinya selalu bersyukur telah mendapat kebahagiaan yang selama ini mereka cari.


Tiga bulan telah berlalu ...


Julia dan Karel menjalani hari-harinya dengan kebahagiaan, namun di sisi lain Julia merasa kebahagiaannya belum lengkap tanpa kehadiran buah hati.


Apalagi Mama Karel selalu mendesaknya untuk segera memiliki anak. Julia dan Karel telah menjelaskan jika mereka baru menikah tiga bulan, belum lama usia pernikahan mereka namun Mama Karel selalu menanyakan tentang kehamilan Julia.


Julia pun juga bingung akan maksud Ben menanyakan tentang kehamilannya.


Kenapa semua orang menanyakan kapan aku hamil? Aku kan menikah baru 3 bulan. Aku sama sekali tidak mengerti.


Julia menggerutu dalam hati, merasa sebal jika orang-orang di sekitarnya selalu menanyakan kapan ia akan hamil.


Suatu pagi, Julia membantu Karel menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya. Lima hari kedepan, Karel ditugaskan ke luar kota.


"Sepertinya sudah semua sayang," kata Julia.


"Iya sudah cukup, kan cuma sebentar juga," saut Karel.


"Tapi aku merasa akan lama sayang," ucap Julia merajuk.


"Uluh ... Sini aku peluk dulu."


Karel tak menunggu lagi, dipeluknya tubuh Julia dengan sayang. Ia pun akan sangat merindukan istrinya.


Karel membawa travel bag nya ke teras rumah, menunggu mobil jemputan ke bandara. Julia mengikuti Karel dari belakang.


Saat mobil jemputan datang, Karel kembali mencium pipi Julia. Enggan rasanya harus berpisah lama dengan Julia.

__ADS_1


Julia memang tidak ikut mengantar ke bandara karena tetap harus berangkat ke kantor.


Hari ini Julia merasakan jika sangat lama jam berputar. Mungkin karena Karel tidak ada di kantor, jadi ia merasa sepi.


Julia berencana sepulang kerja akan pergi ke rumah Mama untuk menghabiskan waktu supaya tidak merasa kesepian di rumahnya sendiri.


Namun saat akan pulang, ponsel Julia bergetar tanda ada pesan masuk.


- Julia, belum pulang kan? Aku menunggumu di taman samping kantormu.


(Nadine)


Nadine? Sudah lama aku nggak mendengar kabarnya? Mau apa dia ingin bertemu denganku?


Julia menatap layar ponselnya, bertanya-tanya dalam hati.


Namun Julia selalu berpikir positif dan ia pun memutuskan untuk menemui Nadine.


Julia melihat Nadine duduk di bangku taman sendirian. Penampilannya sama sekali tidak berubah, masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. Julia mengingat jika pertemuan terakhirnya dengan Nadine adalah saat pesta pernikahannya dulu.


"Jul!" panggil Nadine setengah berteriak.


"Halo Nad, lama tak bertemu denganmu," sapa Julia saat sudah berdiri di depan Nadine.


Dan tak disangka, Nadine langsung memeluk Julia.


"Jul, kamu sudah pulang kan? Yuk kita ke kafe, kan dulu aku pernah berjanji untuk mentraktirmu setelah Ben kembali," ajak Nadine dengan senyum manisnya.


Julia pun akhirnya mengiyakan. Ia meyakinkan dirinya jika Nadine telah berubah dan hanya ingin berteman dengannya.


Kafe yang dipilih Nadine berada tak jauh dari kantor Julia. Kafe ini pun favorit Julia dan Karel, karena suasananya yang tenang, nyaman dan menunya pun cocok bagi Julia.


Julia dan Nadine memilih tempat duduk di pojok dan memilih menu sesuai selera mereka.


"Jul, bagaimana kabarmu?" tanya Nadine berbasa-basi.


"Aku baik Nad. Bagaimana kabarmu dengan Ben?" Julia balik bertanya.


"Keadaanku sangat baik. Bahkan kini aku sudah hamil lho," ucap Nadine bangga.


"Oh ya ... Wah selamat Nadine," saut Julia yang ikut senang karena Nadine telah hamil.


"Makasih Jul, tapi usia kandunganku masih 2 bulan," kata Nadine sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Julia tersenyum melihat Nadine yang terlihat sangat bahagia. Ia pun sangat ingin hamil.


"Jul, kamu belum hamil juga? Wah ... Kasian sekali, pasti Karel akan kecewa kalau kamu lama nggak hamil juga ya," kata Nadine dengan senyum manisnya.


-


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2