
Malam telah larut. Arka tidur nyenyak disamping Julia. Tubuhnya terasa lelah luar biasa setelah kejadian petang ini. Julia memeluk Arka, tak menyangka jika ia hampir saja akan kehilangan putra tersayangnya. Untung saja masih ada orang-orang yang membantunya.
Julia teringat setelah semua berakhir di bandara tadi, ia pulang diantar Irfan. Namun sebelumnya Arka terus menangis ingin ikut terus dengan Ben. Namun Julia memaksa agar Arka tetap bersamanya dan Irfan.
Lebih menyebalkan lagi, Irfan terlihat marah padanya.
Memang sikapnya lembut tapi Irfan tidak banyak bicara dan langsung pulang naik taksi saat sudah sampai rumah.
Julia tidak habis pikir kenapa Irfan marah padanya?
Pagi harinya, mama sudah berdiri di depan pintu Julia. Memang Julia telah menceritakan semua kejadian penculikan Arka dan hari ini mama bersedia menjaga Arka sementara Julia membuat laporan di kantor polisi.
"Jul, kamu hati-hati ya. Jangan mengkhawatirkan Arka. Lain kali kalau ada perlu, telpon Mama saja. Jangan menitipkan Arka dengan sembarang orang," pesan Mama saat Julia akan pergi.
"Iya, Ma. Julia juga menyesalinya sekarang," ucap Julia lalu pamit berangkat.
Di kantor polisi, ternyata prosedurnya tidak semudah yang Julia bayangkan. Hingga tengah hari Julia baru selesai. Setelah itu, ia langsung pulang ke rumah.
Saat hendak masuk halaman rumahnya, Julia melihat mobil Ben terparkir. Tak lama Ben keluar rumah menggendong Arka di bahunya.
"Ma ma," teriak Arka di gendongan Ben saat melihat Julia datang.
"Arka sayang," sambut Julia menciumi pipi Arka dengan sayang.
"Ben, kamu disini? Nggak kerja? Mama mana?" tanya Julia heran dengan keberadaan Ben di rumahnya.
"Banyak banget pertanyaanmu, Jul. Aku jawab satu-satu ya, tapi masuk dulu yuk."
"Mama ke mana sih?" tanya Julia sambil mencari keberadaan Mamanya.
"Mamamu pergi sebentar ke supermarket, katanya bahan-bahan makanan sudah habis."
"Lalu kenapa kamu nggak berangkat kerja?" tanya Julia lagi.
"Aku sengaja ambil cuti 2 hari ini. Aku mau menjaga Arka. Terus terang kejadian kemarin membuat aku kuatir. Aku nggak bisa membayangkan jika kehilangan Arka," kata Ben sambil memegangi telapak tangan Arka yang berada dalam pangkuan Julia.
"Tapi kan ada aku, Ben. Mulai sekarang aku akan menjaga Arka dengan lebih hati-hati," ucap Julia tersenyum. Entah mengapa hatinya senang saat ada orang yang juga menyayangi anaknya dengan tulus.
Tak lama kemudian mama datang. Julia pun membantu mama membereskan belanjaan sementara Arka tidur siang ditemani Ben.
"Jul, hubungan kamu dan Ben bagaimana sekarang? Mama lihat Ben banyak sekali berubah ya?" tanya Mama sambil memasukkan sayuran ke dalam kulkas.
__ADS_1
"Aku dan Ben bersahabat seperti dulu, Ma. Memangnya kenapa, Ma?" tanya Julia balik sambil membuat lemon tea.
"Enggak sih, tapi Mama tuh lihat Ben sayang sekali pada Arka kayak anaknya sendiri. Mama juga bisa melihat jika Ben itu juga sayang sekali sama kamu," kata Mama sambil mengajak Julia untuk mengobrol di taman belakang rumah.
Duduk berdua dengan mamanya ditemani secangkir lemon tea, Julia merasa bahagia. Sudah lama ia tidak punya waktu berdua dengan mamanya seperti ini.
"Ma, sebenarnya Ben sudah mengutarakan keinginannya untuk menjalin hubungan kasih lagi tapi aku menolaknya. Sekarang aku sedang menjalin hubungan dengan Irfan. Mama tahu Irfan kan?" jelas Julia.
"Irfan? Oh iya Mama ingat. Kalau Mama sih terserah kamu aja, Jul. Yang terpenting kamu dan Arka bahagia, karena sekarang kan kamu satu paket dengan Arka. Jadi siapa pun nanti pendampingmu harus menyayangi kamu dan Arka," kata Mama tersenyum.
"Berarti aku harus memikirkan Arka dulu, Ma?" tanya Julia.
"Arka kan masih kecil, jadi mudah untuk menerima orang baru. Tergantung kekasihmu saja, mau nggak menyanyangi Arka."
"Begitu kah, Ma? Tapi benar juga sih kata Mama. Sekarang aku ini satu paket dengan Arka," ucap Julia yang pikirannya melayang pada Irfan. Ia teringat jika sejak semalam ia belum bertukar kabar lagi. Mungkin saja Irfan masih marah padanya.
"Jul, yang kamu butuhkan itu pria yang dewasa. Bisa menerima keadaanmu apa adanya. Pesan Mama sih, jangan terburu-buru memutuskan." Mama menggenggam tangan Julia, seakan memberi kekuatan.
"Makasih untuk semuanya, Ma. Aku akan ingat terus apa yang Mama katakan," ucap Julia yang bersyukur memiliki mama yang sayang padanya.
"Tapi kalau seandainya nanti aku balikan dengan Ben, apa Mama akan setuju?" tanya Julia yang hanya ingin tahu saja.
"Bagi Mama, yang terpenting kamu dan Arka bahagia. Entah kamu dengan Ben atau Irfan atau siapapun nanti," kata Mama tersenyum tulus.
***
"Mama, saya antarkan pulang saja ya dari pada menunggu Papa," kata Ben menawarkan.
"Nggak usah, Ben. Ini Papa sebentar lagi sampai kok," kata Mama.
Dan benar saja, tak lama kemudian Papa datang untuk menjemput mama.
Setelah mama papa pulang, Julia menidurkan Arka. Sementara Ben juga menemani di sebelah Arka. Tak butuh waktu lama, Arka pun tertidur. Julia mengajak Ben agar keluar dari kamar.
"Ben, kamu mau minum apa?" tanya Julia sambil membuat kopi untuk dirinya.
"Kopi juga boleh, Jul. Oh iya, apa Theo mengirim pesan padamu?" tanya Ben.
"Nggak tahu, aku belum buka ponselku. Memangnya kenapa?"
"Theo itu besok mengundang kamu, aku dan Arka ke rumahnya untuk makan siang. Katanya ada sesuatu yang akan dikatakannya sebelum ia kembali ke luar negeri lagi."
__ADS_1
"Oh begitu, coba aku ambil ponselku dulu."
Setelah membuka semua pesan-pesan di ponselnya, Julia melihat Theo memang mengirimkan pesan seperti yang Ben katakan.
"Benar ada pesan dari Theo. Kamu sudah menyanggupinya, Ben?"
"Belum lah. Aku menunggu persetujuanmu dulu dong," saut Ben.
"Ya sudah bilang kita akan datang. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padanya karena sudah membantuku dan Arka," kata Julia sambil membalas pesan dari Theo.
Setelah menikmati kopinya, Ben pamit pulang. Julia mengantarkan Ben hingga mobil Ben hilang dari pandangan matanya.
Julia duduk sendiri di sofa ruang tengah. Ponsel ada di tangannya. Ia bingung apakah harus menghubungi Irfan terlebih dahulu atau tidak. Namun akhirnya ia pun memutuskan untuk menelpon Irfan agar semua masalah segera selesai.
Nada panggil terdengar di telinga Julia dan tak lama kemudian Irfan pun menerimanya.
- "Halo, Jul. Ada apa? Aku agak sibuk, masih rapat."
- "Halo, Irfan. Maaf mengganggu. Nggak ada yang penting kok. Nanti saja kalau kamu sudah nggak sibuk aku telpon lagi aja."
- "Oh ya sudah. Besok saja kamu telpon aku lagi."
- "I iya, maaf mengganggu. Jangan ... "
- " Bye, Jul."
Telpon pun ditutup. Julia memandangi ponselnya. Ia belum selesai bicara dan Irfan sudah menyelesaikan pembicaraan.
Menghela nafas dalam, Julia pun membuang pikiran yang tidak-tidak. Mungkin saja Irfan memang sedang sibuk.
***
Sementara itu, Irfan melemparkan ponselnya ke tempat duduk di sampingnya. Ia memukul setir mobil meluapkan kekesalannya. Ia berbohong pada Julia, saat ini ia sedang ada di dalam mobil tak jauh dari rumah Julia.
Sejak sore tadi ia mengamati rumah Julia. Ia tahu ada orang tua Julia dan Ben di sana. Ingin sekali Irfan menemui Julia tapi rasa kesal masih menyelimuti hatinya.
Ia kesal dengan kejadian kemarin. Di depan matanya Julia mengabaikannya dan malah melihat kedekatan Ben dengan Arka.
Ia kesal Julia tidak mengerti isi hatinya jika ia cemburu pada Ben.
-
__ADS_1
-
-