Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Real Honeymoon


__ADS_3

Pesta pernikahan telah usai, Julia dan Karel menginap di hotel sebelum esok hari terbang ke Bali untuk berbulan madu.


Julia sengaja memilih Bali untuk bulan madunya kali ini. Ia ingin menghapus kenangan buruk bulan madunya dengan Ben dulu dan menggantinya dengan bulan madu yang akan ia kenang selamanya.


Julia membersihkan dirinya, mandi berendam dalam bath up pun menjadi pilihan. Berlama-lama berendam dalam air hangat membuat tubuhnya kembali rileks.


"Jul, lama sekali di sana? Boleh aku masuk?" teriak Karel dari luar pintu kamar mandi.


"Sebentar lagi Karel. Aku masih berendam," balas Julia.


Ceklek ...


Karel tak sabar menunggu dan langsung membuka pintu kamar mandi.


Pemandangan di depannya membuat gairahnya seketika menyeruak.


Julia yang sedang berendam dengan busa membaluri sekujur tubuhnya, air membasahi rambut Julia yang membuatnya berkilat dan bibir Julia yang basah membuat Karel segera ingin **********.


"Karel!" teriak Julia tertahan karena terkejut


Karel menatap mata Julia dengan cinta. Tak kuasa menahan gairah yang terlihat dalam sorot matanya. Karel pun mencium bibir Julia, ******* bibir berwarna merah muda ... semakin memperdalam ciumannya.


Julia melenguh menahan gairah yang belum pernah dirasakannya.


Tak ambil waktu lama, Karel pun membuang bajunya ke sembarang arah, masuk ke dalam bath up bersama Julia.


Saling berciuman, tangan Karel tidak bisa dikendalikan lagi. Dengan perlahan, jari jemari Karel mengelus buah dada Julia yang kencang.


Dua insan yang dimabuk cinta tak kuasa menahan gairah yang baru bagi mereka. Keluar dari bath up, Karel membasuh tubuh Julia dengan air shower yang hangat. Julia pun melakukan hal yang sama pada Karel.


Meskipun Julia merasa canggung, namun rasa cinta mengalahkan segalanya.


Julia berbaring di ranjang, siap menerima hujan cinta dari Karel, suaminya. Keduanya bergelut dalam cinta yang panas namun manis.


Saat Karel akan memasuki tubuh Julia, ia pun terkejut. Namun seketika Karel pun mencium pipi Julia dan membisikkan cinta yang hanya untuk Julia selamanya.


Julia menahan perih di pusat tubuhnya. Namun tidak lama ia pun bisa merasakan nikmat dan semakin lama ia pun mencapai puncak gairah.


Pelepasan cinta panas bersama, membuat nafas Julia dan Karel terengah-engah. Peluh bercucuran membasahi dada Karel yang bidang.


Karel berbaring di sebelah Julia, memeluk istri tercintanya. Menghujani pipi dan rambut Julia dengan ciuman sayang


"Terima kasih sayang, kamu menjaga kesucianmu untukku. Aku benar-benar tak menyangka diberi hadiah sebesar ini dari kamu," kata Karel berbisik di telinga Julia.


Julia pun mencium pipi Karel, ia tidak bisa berkata apa-apa.


Apa yang akan aku katakan? Aku memang janda namun masih perawan. Haruskah saat ini aku malu atau malah bersyukur telah memberikannya untuk suamiku?


Karel dan Julia saling memeluk penuh cinta hingga suara nafas yang teratur menandakan bahwa mereka telah tertidur.


Julia menggeliat saat dirasakan ciuman bertubi-tubi terasa di seluruh wajahnya.


"Bangun dong sayang." Karel masih tetap menciumi pipi Julia yang kini dirasa candu baginya.

__ADS_1


"Ehm ... " Julia tetap enggan membuka matanya yang masih terasa berat.


"Jul, kamu menggodaku ya? Atau kita melakukannya lagi sebelum berangkat ke bandara?" tanya Karel yang gairah mulai tersulut di matanya.


Seketika mata Julia terbuka. Ia pun sadar jika saat ini ada Karel yang memeluk dan masih menciumi wajahnya namun perlahan mulai turun ke leher dan ...


"Ssstt ... Karel! Cukup dulu ya sayang, kita harus mengejar pesawat," elak Julia.


Saat akan bangun, barulah Julia sadar jika tidak ada sehelai benang pun menempel di tubuhnya.


Karel tertawa dan malah menarik selimut yang masih membungkus tubuh Julia.


"Karel!"


"Wow ... Kamu ini benar-benar nakal Jul! Ckck ... Istriku pandai sekali menggodaku pagi-pagi begini," kata Karel dengan senyum di sudut bibirnya.


Julia sangat malu melihat dirinya yang polos menjadi santapan mata Karel yang kini ingin menerkamnya.


Saat Karel akan memeluk, Julia pun gesit melompat turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Terengah-engah mengatur nafasnya, Julia mengguyur tubuhnya seakan menghalau gairah yang menghampirinya.


Huuaa aku malu! Ternyata beginikah kehidupan suami istri yang sesungguhnya?


Julia membatin dalam hati sambil terus membasuh tubuhnya.


"Julia, buka pintu dong ... Aku ingin mandi bersamamu!" teriak Karel.


"Tunggu sebentar, aku sudah selesai kok."


Tak menyangka jika Julia masih suci saat menikah dengannya.


"Sudah sana mandi! Kita harus cepat-cepat ke bandara Karel," kata Julia menahan malu dan bergerak menjauhi Karel.


"Jul, kenapa malu begitu sih? Kan semalam tubuhmu sudah kulahap habis," saut Karel yang malah menggoda.


"Sudah sana mandi!"


Wajah Julia merah padam menahan malu mengingat pergumulannya dengan Karel semalam. Didorongnya tubuh Karel masuk ke dalam kamar mandi.


***


Julia dan Karel memilih berbulan madu di daerah Ubud, Bali. Namun Julia memilih villa yang berbeda dengan saat bulan madunya yang dulu dengan Ben.


Ubud merupakan tempat favorit Julia jika berada di Bali. Tempatnya sejuk dan masih terasa suasana khas Pulau Dewata ini.


Sore hari barulah Julia dan Karel tiba di villa. Berencana menginap selama seminggu di Bali, Julia sudah menyusun daftar tempat-tempat yang ingin dikunjunginya.


Saat malam tiba, Karel tak menyia-nyiakan malamnya berlalu begitu saja. Karel memberikan seluruh cintanya hanya pada Julia.


Berdua mereka mengarungi lautan kenikmatan, saling memberi dan menerima cinta yang memang menjadi milik berdua.


Karel menghujani Julia dengan ciuman panas yang semakin menyulut gairah yang terasa sudah berada di tebing kenikmatan.

__ADS_1


Seluruh tubuh Julia tak luput dari belaian dan ciuman yang hanya diberikan untuknya. Dada Julia terasa sesak oleh cinta tak terbatas yang diberikan oleh Karel, suami tercintanya.


***


Mondar-mandir tak tentu arah, Nadine memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


Sudah tinggal beberapa bulan lagi, namun dirinya belum juga hamil.


Kesepakatan satu tahun sudah hampir usai, namun usahanya untuk hamil belum juga menampakkan hasil.


Bagaimana dirinya bisa hamil jika Ben jarang sekali menyentuh dirinya. Jika suatu saat percintaan terjadi pun itu atas desakan Nadine.


Berdiri di depan jendela memandangi taman yang ada di depan rumahnya, Nadine berpikir keras mencari jalan keluar masalahnya.


Ia harus segera bertindak jika tidak ingin kehilangan semua kehidupan nyaman yang didapatnya dari Ben.


Nadine bukanlah tipe pekerja keras, ia hanya ingin hidup bersantai tanpa usaha. Dan kini Ben bisa memberikan itu semua untuknya. Ia tidak boleh kehilangan Ben dan semua yang dapat dinikmatinya.


Dengan mantap diraihnya ponsel yang ada diatas nakas sebelah tempat tidur, jarinya menekan nomor yang telah lama tidak dihubunginya.


Suara dering di ujung sana belum juga diangkat. Namun setelah beberapa saat kemudian, "Halo."


- "Halo, lama kita tidak bertemu."


- "Hai Nadine, apa yang kamu inginkan?"


- "Bisa bertemu sore ini?"


- "Baiklah."


Setelah menyetujui tempat yang disepakati, Nadine pun menutup telponnya.


Sore itu Nadine sudah menunggu di sudut kafe hotel berbintang. Beberapa kali dilihatnya ponsel yang tidak ada satu pesan pun masuk. Ia memang sangat membutuhkan bantuan lelaki ini.


"Halo Nad, lama tak berjumpa."


"Halo Theo, apa kabar?" saut Nadine yang seketika ceria tampak di wajahnya.


Setelah memesan makanan dan minuman, Nadine dan Theo sama-sama terdiam.


"Nad, apa yang kamu inginkan?" Theo langsung bertanya penasaran.


"Theo, aku sangat minta tolong padamu," kata Nadine dengan wajah dibuat sememelas mungkin.


"Haha ... Tidak usah berakting denganku. Langsung saja katakan, aku sibuk tidak punya banyak waktu untukmu," kata Theo tidak sabar.


"Theo, tolong buatlah aku hamil," kata Nadine mantap menatap mata Theo.


Theo menyipitkan matanya tidak habis pikir dengan apa yang Nadine katakan baru saja.


-


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2