Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Sangat Mencintainya


__ADS_3

Jam dinding terus berdetak menunjukkan pukul 23.30. Sudah hampir tengah malam, Julia masih duduk di tempatnya. Menunggu Ben kembali.


Rasa kantuk sudah hilang entah kemana. Dibenaknya, Julia sudah menyusun kata yang akan dia sampaikan pada Ben. Ingin mengklarifikasi permasalahan agar selesai malam ini juga.


Julia merasa was-was, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ben. Namun dienyahkannya pikiran buruk dan optimis bahwa Ben membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.


Heningnya malam terasa menemani Julia menit demi menit. Hingga terdengar suara mesin mobil Ben berhenti di depan rumah.


Julia cepat-cepat bangkit dan berjalan ke luar untuk membukakan pintu.


Ben terlihat keluar dari mobil dan hanya sekilas melihat Julia.


"Ben!" panggil Julia tertahan.


"Jul, aku lelah mau tidur."


"Tapi Ben, aku mau bicara sebentar. Tolong dengarkan sebentar saja!" pinta Julia.


Ben tampak tidak perduli dan terus berjalan masuk ke kamar tidur. Diambilnya sebuah kaos dan tanpa menoleh langsung masuk ke kamar mandi.


Julia menarik nafasnya dan mengatur emosinya, membiarkan Ben berganti baju. Julia duduk di ranjang menunggu Ben.


"Ben, beri aku waktu bicara sebentar," pinta Julia kembali saat Ben telah keluar dari kamar mandi.


"Aku mengantuk dan mau tidur sekarang. Besok saja kita bicara," kata Ben tak acuh lalu naik ke ranjang. Menarik selimut dan tidur membelakangi Julia.


Baiklah Ben, aku sabar menunggu lagi hingga besok pagi. Batin Julia dalam hati sambil menatap punggung Ben, seolah berbicara dengannya.


Sinar mentari pagi bersinar di awan yang masih kelabu. Samar-samar terdengar suara kicau burung yang bersahutan. Udara dingin masih menyelimuti pagi ini.


Julia masih meringkuk di dalam selimut tebalnya menahan dinginnya udara pagi. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, cepat-cepat dibukanya matanya mencari keberadaan Ben yang semalam tidur disampingnya.


Ben sudah tidak ada, namun terdengar suara cangkir yang beradu dengan sendok. Julia cepat bangun dan keluar kamar menuju ke dapur. Dilihatnya Ben tengah mengaduk kopi arabica kesukaannya.


"Ben, pagi sekali sudah bangun?" tanya Julia sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Meneguk segelas penuh untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


"Aku harus berangkat pagi agar tidak terkena macet di jalan," kata Ben sambil menikmati secangkir kopi panasnya.


"Kapan kita bisa membahas masalah kita Ben. Aku tidak seperti yang kau tuduhkan. Kamu bisa menanyakan langsung pada Karel," jelas Julia hati-hati agar tidak merusak suasana pagi.

__ADS_1


"Aku tidak punya urusan dengan temanmu itu!" saut Ben sengit.


"Ben ... "


"Stop! Kita bicarakan nanti malam sepulang aku kerja saja. Aku berangkat dulu," kata Ben yang langsung berjalan keluar rumah. Menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah.


Sampai kapan Ben akan terus menunda membicarakan masalah ini?


Julia terdiam melihat kepergian Ben. Hatinya sedih namun tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu lagi.


***


Siang itu di kantor, Julia terus disibukkan dengan pekerjaannya. Tidak ingin memikirkan hal lain selain pekerjaannya hari ini.


Saat Karel menghampiri Julia untuk mengajak makan siang bersama, dengan halus ia menolak. Beralasan sudah ada janji makan siang dengan temannya yang lain. Julia tidak ingin Karel tahu jika saat ini dirinya dan Ben sedang bertengkar karena kesalahpahaman mengenai hubungan pertemanannya dengan Karel.


Julia makan siang di meja kerjanya. Semua temannya pergi ke luar kantor. Menikmati kesendirian membuat Julia merasa damai.


Dering telepon mengejutkan Julia saat ia tengah menikmati makan siangnya.


Julia melihat layar ponsel dan terlihat nomor tak dikenal meneleponnya. Dengan ragu Julia menerimanya.


- "Halo, Julia. Ini aku Nadine. Kamu masih ingat?"


- "Ehm tentu saja Nadine. Ada apa?"


- "Bisa kita bertemu sekarang? Aku menunggumu di taman belakang gedung kantormu."


- "Baiklah."


Julia menutup telponnya.


Benar kata Ben bahwa Nadine lah yang akan menghubungiku. Baiklah aku akan mendengar apa yang diinginkannya.


Julia berjalan menuju taman dan dilihatnya Nadine sudah menunggunya.


"Halo Julia," sapa Nadine dengan ramah.


"Halo lagi Nadine," balas Julia dan mengambil tempat duduk di samping Nadine.

__ADS_1


"Maaf mengganggu jam istirahat siangmu," kata Nadine dengan senyum hangatnya.


"Tidak masalah. Ada apa mencariku?"


"Jul, sebelumnya aku minta maaf soal malam tempo hari. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu dan Ben sudah menikah," kata Nadine.


"Yah begitulah. Seperti yang aku bilang tempo hari. Saat dulu akan menikah, aku berusaha mencarimu untuk memberitahu tapi semua akses kontakmu tidak dapat kuhubungi."


"Aku tahu. Semalam Ben sudah menceritakan semuanya," jelas Nadine dengan senyuman yang kini membuat Julia curiga.


"Semalam?"


"Iya, semalam aku bertemu Ben. Ben tidak menceritakannya padamu?" Nadine balik bertanya.


"Ehm tidak ... "


"Yah begitulah. Semalam secara tidak sengaja kami bertemu di caffe. Lalu tanpa disadari semua telah terungkap. Aku sudah menjelaskan semuanya bahwa dulu aku tidak pernah berselingkuh dari Ben dan aku pergi karena ingin menenangkan diriku. Untungnya Ben percaya padaku sekarang," jelas Nadine dengan wajah berbinar.


"Lalu?" tanya Julia dengan bingung. Hatinya berdesir terasa menyakitkan.


"Lalu apa maksudmu? Kami hanya bercerita Jul. Tenang saja, aku tahu kalian telah menikah dan aku tidak mungkin merebut Ben darimu." Nadine meraih tangan Julia seakan berjanji.


"Ehm ... Tapi maaf aku menanyakan ini. Apakah kamu masih mencintai Ben?" tanya Julia ragu takut menyinggung perasaan Nadine.


"Maaf Jul, aku terus terang padamu jika aku masih mencintai Ben. Sangat mencintainya sehingga kini aku kembali untuk mencarinya. Tapi jangan kuatir, sekali lagi aku bilang jika aku tidak akan mengganggu pernikahanmu dengan Ben."


"Terima kasih Nadine," hanya itu kata yang lolos dari mulut Julia karena saat ini dirinya tidak bisa berpikir.


"Yah ... mau bagaimana lagi?! Semua memang salahku sudah meninggalkannya sehingga sekarang kalian sudah terlanjur menikah," kata Nadine dengan senyum di wajahnya yang terdengar mengejek di telinga Julia.


"A-apa maksudmu?"


"Ben sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang perjanjian pernikahan kalian yang tiga tahun itu." Senyum Nadine kini terlihat makin mengejek Julia.


Wajah Julia memucat, tidak mengerti mengapa Ben menceritakan semuanya pada Nadine. Entah apa yang Ben inginkan atau sekarang untuk apa Nadine menemuinya seperti ini?


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2