
Berlari ... berlari ... sekuat tenaga. Dikejar oleh sesuatu yang dirinya sendiri tidak tahu. Namun naasnya, ia jatuh terjerembab. Ia berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang hampir habis. Wajahnya terasa sakit dan yang lebih membuatnya bingung adalah gigi depannya lepas. Dipeganginya gigi itu dengan mata membelalak.
Julia terbangun seketika. Secara naluriah ia meraba gigi bagian depan yang lepas. Rasa lega menghampirinya, ternyata itu semua hanya mimpi.
Julia menghapus keringat yang keluar di keningnya lalu mengambil segelas air untuk menenangkan dirinya. Tak biasanya ia bermimpi seseram ini.
Setelah kembali berbaring, malam masih pekat. Jam dinding baru menunjukkan pukul 2 malam. Benak Julia terus bertanya tentang mimpinya, merasa jika suatu pertanda buruk akan terjadi padanya.
Hampir pagi, akhirnya Julia pun baru bisa tertidur kembali. Namun tak lama Arka pun sudah terbangun dan Julia kembali menjalani peran sebagai ibu yang merawat Arka dengan penuh kasih sayang.
***
Pagi yang cerah, sinar matahari sudah terasa hangat menyinari bumi. Namun Ben enggan beranjak dari ranjangnya. Sejak kemarin ia seperti tidak memiliki tulang. Tidak bersemangat dan hanya menjalani apa yang harus dilakukannya. Hatinya perih setiap kali teringat jika Julia memilih Irfan daripada dirinya.
Namun ia bisa apa lagi? Semua hal telah dilakukannya, namun ia hanya ingin melihat Julia bahagia walaupun tidak bersama dirinya.
Ben agak terkejut saat ponselnya berbunyi. Keningnya langsung berkerut. Irfan mengirimkan pesan jika ia mengajak untuk bertemu. Tanpa pikir panjang, Ben pun menyanggupinya.
Ben duduk menunggu Irfan di rumahnya. Saat bel pintu berbunyi, Ben pun membukanya dan terlihat Irfan berdiri di sana.
"Halo, Ben," sapa Irfan.
"Halo, Fan. Masuklah!"
"Terima kasih."
Ben mempersilahkan Irfan untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Ada perlu apa ke sini?" tanya Ben langsung.
"Kamu nggak buatin aku kopi dulu? Nggak sabaran amat," Irfan berusaha mencairkan suasana. Ia tahu saat ini hati Ben sedang tidak baik.
"Oke, aku buatkan dulu. Atau mau sekalian sarapan di sini?" tanya Ben sebal.
"Boleh, kalau kamu yang masak," kata Irfan tersenyum.
"Haha jangan mimpi. Sebentar aku buatkan kopi dulu."
Ben berjalan ke dapur lalu membuat kopi untuk Irfan dan juga dirinya.
__ADS_1
"Nih, silahkan minum dulu," ucap Ben.
"Terima kasih, Ben."
"Irfan, kamu mau apa ingin bertemu denganku?" tanya Ben penasaran.
"Ben, aku tahu saat ini kamu pasti sedang kecewa atau apalah. Tapi aku hanya mohon padamu untuk mengikhlaskan Julia untukku," kata Irfan memohon.
"Kenapa?"
"Ben, jika kamu memang benar-benar sayang pada Julia, seharusnya kamu akan bahagia jika melihat Julia bahagia. Aku pun demikian. Tapi sekarang kamu tahu jika Julia dan aku telah menjalin hubungan kasih. Jadi aku mohon supaya kamu merestui kami," kata Irfan kembali memohon.
Ben terdiam, ia tidak tahu akan mengatakan apa. Yang ia rasakan sekarang adalah hatinya perih setiap kali ingat jika Julia telah menolak cintanya.
"Tapi apa kamu yakin bisa membahagiakan Julia?" tanya Ben menatap lurus mata Irfan.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, tapi aku janji akan berusaha untuk membahagiakan Julia," ucap Irfan setulus hatinya.
"Baiklah, Fan. Aku ikhlas. Tapi jika kamu membuat Julia sedih, aku akan membawa Julia dalam pelukanku," kata Ben tegas.
"Aku tahu, Ben. Terima kasih untuk semua pengertianmu. Kau tahu ... Cinta itu terkadang membingungkan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika cinta sudah memilih akan bernaung pada siapa."
"Begitulah, Fan. Jaga Julia baik-baik."
***
"Mana Arka, Jul?" tanya Nadine saat tidak melihat di dalam rumah.
"Arka sedang tidur. Kamu sudah makan siang? Ini aku baru mau makan," kata Julia.
"Kamu makan saja dulu, Jul. Aku sudah tadi. Ini Arka aku bawakan mainan." Nadine meletakkan tas yang berisi beberapa mainan yang dibelikannya untuk Arka.
"Terima kasih sekali, Arka pasti senang sekali, Nad." Julia membuatkan minuman untuk Nadine, setelah dirinya makan siang.
"Jul, kamu mau pergi jam berapa?" tanya Nadine.
"Mungkin nanti jam 4, supaya pulangnya lagi nggak terlalu malam."
"Oke, pulang malam juga nggak apa-apa. Aku akan menjaga Arka dengan baik. Nanti kamu bisa video call kalau mau," kata Nadine meyakinkan.
__ADS_1
"Iya, Nad. Sekali lagi terima kasih," ucap Julia.
Menjelang sore hari, Julia naik mobilnya untuk berangkat pergi ke rumah Irfan. Julia melambaikan tangannya pada Arka yang digendong Nadine berdiri di teras rumah. Wajah Arka sedih lalu menangis. Julia agak tidak tega, namun ia menguatkan hati dan segera menjalankan mobilnya menjauhi rumah.
Julia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di rumah Irfan. Sesampainya di rumah Irfan, Julia membunyikan bel pintu rumah. Tak menunggu lama, terdengar suara gagang pintu di buka.
"Julia?!" Irfan terlihat terkejut melihat Julia berdiri di depan pintunya.
"Irfan, aku mau mengatakan sesuatu," ucap Julia salah tingkah. Tadi ia sudah bertekad, tapi sekarang saat sudah berhadapan langsung, kenapa ia jadi malu seperti ini?
"Masuklah, Jul." Irfan menampilkan wajah juteknya, mempersilahkan Julia untuk duduk di ruang tamu.
Julia bingung harus mulai dari mana, apalagi wajah Irfan terlihat masih marah padanya.
"Ehm Irfan, maafkan aku ya untuk kejadian kemarin," kata Julia memberanikan diri.
"Hem, hanya itu?" Irfan masih menampakkan wajah juteknya tapi sebenarnya ia ingin sekali tersenyum.
"Irfan, aku ... aku sayang banget sama kamu dan aku ingin kita kembali seperti kemarin-kemarin. Kita baikan ya," pinta Julia menampilkan senyum terbaiknya, berharap Irfan mau memaafkan dirinya.
Seketika bibir Irfan tersenyum dan tak banyak bicara, ia memeluk Julia yang memang sudah sedari tadi ingin dilakukannya.
"Aku juga sangat banget sama kamu, Jul. Semoga nggak ada lagi masalah-masalah diantara kita," kata Irfan menatap mata Julia.
Namun tiba-tiba suasana berubah, tak sanggup menahan, Irfan pun perlahan mencium bibir Julia yang lembut.
Julia pun tidak menolak, ia juga menikmati ciuman Irfan.
***
Sepeninggal Julia, Nadine segera mengambil tasnya dan menyiapkan baju-baju Arka juga susunya. Nadine segera menghubungi seseorang untuk segera menjemputnya.
Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Julia. Nadine menggendong Arka segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Arka yang asyik bermain mainan barunya, tidak banyak rewel.
"Bagaimana? Apa semua sudah siap?" tanya Nadine.
"Pastinya," jawab Theo dengan senyum meyakinkan. Ia segera memacu mobilnya dan pergi ke bandara.
-
__ADS_1
-
-