
Sore ini Julia duduk di bangku yang ada di taman belakang kantornya. Menunggu Karel keluar.
Sejak pagi tadi Karel selalu menghindarinya dan Julia menyadari jika Karel masih marah.
"Karel!" panggil Julia sambil melambaikan tangannya saat melihat Karel berjalan bersama teman-temannya.
Karel terlihat berjalan mendekati Julia dan berpamitan pada teman-temannya.
"Karel, bisa kita bicara sebentar?" tanya Julia sangat berharap karena ia ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka berdua.
"Oke, kita bicara disini saja," kata Karel ketus.
Julia menghirup nafas dalam-dalam, menyusun kata yang hendak disampaikannya agar tidak lagi menambah kesalahpahaman.
"Karel, tentang semalam ... Kejadiannya tidak seperti yang kamu sangka," kata Julia hati-hati.
"Memang aku menyangka apa?!"
"Ehm ... Bukankah kamu marah saat melihat Ben ada di rumahku semalam?" tanya Julia bingung karena Karel bersikap dingin.
"Tentu saja aku marah! Aku ini cemburu Jul. Saat melihat Ben semalam, aku ingin sekali memukulnya." Karel menahan emosinya.
"Tapi semalam Ben datang hanya ingin memberikan titipan dari Mamanya," kata Julia yang terpaksa berbohong lagi.
Sebenarnya Julia sedih jika harus berbohong seperti ini, tapi ia tidak mungkin berterus-terang pada Karel jika Ben memohon agar Julia mau kembali padanya.
Karel menatap Julia, menyipitkan matanya, berusaha mencari kebenaran kata-kata yang keluar dari mulut Julia.
"Kamu tidak membohongi aku kan?!"
"Tidak Karel. Kemarin itu aku memang datang ke rumah Mamanya Ben karena Mama Ben ingin bertemu denganku menanyakan tentang kebenaran berita pernikahan kita. Lalu saat aku mau pulang Mama Ben memberiku kain batik, namun aku lupa membawanya," jelas Julia.
Karel terus diam dan mencerna semua yang Julia katakan.
"Karel, jangan marah lagi untuk hal begini. Ben sudah menikah dan hidup bahagia dengan Nadine. Aku pun bahagia punya kamu yang mencintaiku," bujuk Julia dengan lembut.
"Aku hanya cemburu Jul. Aku minta ke depannya, kamu jangan bertemu Ben lagi!" kata Karel yang masih merasa marah pada Julia.
Rasa cemburu di dadanya tidak bisa ia kendalikan. Ia tidak rela jika Julia masih berkomunikasi dengan Ben.
"Iya Karel, aku usahakan," kata Julia tersenyum manis.
"Oh iya satu lagi. Jual saja rumah yang saat ini kamu tempati. Aku tidak ingin setelah menikah kita tinggal disana. Aku sedang mencari rumah untuk kita," kata Karel yang membuat Julia terkejut.
Julia merasa sayang dengan rumahnya. Bukan karena itu adalah pemberian Ben, namun rumah itu sangat nyaman dan Julia sudah kenal dengan tetangga di sana. Juga lokasi rumahnya sangat strategis sehingga ia tidak kesulitan untuk pergi ke kantor atau hanya sekedar jalan-jalan ke mall.
__ADS_1
"Tapi Karel, rumah itu sayang sekali jika dijual. Bolehlah jika aku menyewakannya saja? Lumayan kan buat tambahan pendapatan kita nanti?" Julia berusaha membujuk Karel.
"Pendapatannya buat kamu saja! Aku tidak mau menyentuh apapun dari Ben!" Karel merasa tidak punya harga diri jika ia mau menerima apapun dari Ben walaupun itu tidak secara langsung.
"Baik Karel. Terima kasih sekali ya." Julia tiba-tiba mencium pipi Karel.
Karel yang terkejut seketika wajahnya memerah karena malu.
"Jul! Ini di tempat umum. Jangan cium-cium disini," saut Karel menahan malu karena ada beberapa orang yang melewati jalan di depan taman tampak tersenyum melihatnya.
"Biarin aja, kan kamu pacarku!"
Julia kembali mencium pipi Karel.
"Ckck ... Nggak menyangka ternyata kamu agresif juga ya," kata Karel tersenyum.
Sore itu Karel menggandeng tangan Julia dan keduanya berjalan menuju sebuah resto yang dekat dengan lokasi kantor.
Hari menjelang malam, Julia dan Karel menikmati santap malam dengan hati yang senang.
Julia merasa lega karena kesalahpahaman antara dirinya dan Karel telah selesai. Ia berharap ke depannya Ben tidak lagi mengganggu hidupnya.
Selesai makan malam, Karel mengantar Julia pulang. Hari ini Julia sengaja tidak membawa mobil ke kantor.
"Terima kasih Karel," ucap Julia tersenyum.
"Aku nggak disuruh masuk nih," kata Karel pura-pura cemberut.
"Ayolah masuk dulu," kata Julia geli karena Karel hanya menggodanya.
"Besok sajalah, ini sudah malam pasti kamu lelah. Cepat mandi dan istirahat ya," kata Karel lalu mencium kening Julia dengan sayang.
"I love you," ucap Karel lirih.
"Aku pun sayang kamu Karel," balas Julia.
Karel kembali masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke rumahnya.
Julia masuk ke dalam rumah dan langsung mandi. Rasanya hari ini sangat melelahkan.
Julia langsung naik ke ranjang dan membuka pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.
Jarinya terhenti saat melihat pesan dari Nadine. Akhirnya Julia pun membuka pesan itu.
- Julia, terima kasih akhirnya semalam Ben pulang kembali ke rumah. Ben bilang sangat mencintaiku dan tidak sanggup jauh dari aku. Lalu kami bercinta dan doakan aku segera punya buah hati. Kapan-kapan jika ada waktu aku akan mentraktirmu makan sebagai ucapan terima kasihku.
__ADS_1
(Nadine)
Julia hanya terdiam menatap layar ponselnya. Hatinya bertanya-tanya benarkah apa yang dikatakan Nadine.
Bukankah semalam Ben juga bilang mencintaiku? Lalu Ben juga bilang jika mencintai Nadine? Tapi sudahlah, yang penting Ben dan Nadine sudah kembali bersama. Aku ikut lega dan aku bisa menyiapkan pernikahanku.
***
Lima bulan terasa cepat sekali berlalu. Hari ini adalah hari yang telah dinanti-nantikan Julia dan Karel.
Hari ini keduanya akan mengikat janji dalam pernikahan yang suci.
Julia telah mempersiapkan acara pernikahannya dengan baik. Walaupun ini pernikahan kedua baginya, namun ia ingin membuat kenangan yang indah hari ini.
Pernikahan Julia dan Karel digelar di sebuah ballroom sebuah hotel bintang lima.
Dengan mengusung konsep personal party, Julia dan Karel ingin semua tamu merasa nyaman bercengkrama selama pesta berlangsung.
Hari ini Julia memilih mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang melambangkan kesucian dengan make up natural dan rambut disanggul dihias bunga emas yang cantik, membuat penampilan Julia malam ini sangat menawan.
Karel tampil dengan tuxedo hitam yang membuat dirinya tampak keren dan maskulin.
Julia dan Karel berjalan menuju altar dan mengucapkan janji setia hingga akhir hayat. Julia merasa terharu dan air mata bahagia tak sengaja lolos dari mata indahnya.
Acara pesta pernikahan sangat meriah. Diiringi alunan musik yang romantis, menambah suasana bahagia yang dirasakan Julia dan Karel.
Ben dan Nadine pun tampak datang dalam pesta itu, keduanya mengucapkan selamat pada Julia dan Karel.
Julia sangat senang karena akhirnya ia pun dapat merasakan kebahagiaan yang selama ini ia cari.
Karel menatap mata Julia dengan sayang, lalu diciumnya bibir Julia dengan mesra di depan semua tamu yang hadir.
"I love you Julia."
-
-
-
-
-
Halo pembaca setia Terlanjur Menikah, terima kasih sudah like dan komen. Kalian ada yang menunggu visual Terlanjur Menikah? Sekarang sudah ada visualnya loh di Instagram. Semua visual Terlanjur Menikah dijadikan sebuah video ya. Terimakasih semuanya.
__ADS_1