Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Salah Sangka?


__ADS_3

Julia akhirnya membuka pintu.


...Ceklek...


"Halo Julia, selamat hari Minggu," sapa Karel dengan wajah ceria dan senyum lebarnya.


"Ya ampun, Karel?! Kamu mau apa kesini?" tanya Julia yang terkejut melihat Karel datang ke rumahnya.


Tanpa minta ijin, Karel menerobos Julia dan masuk ke dalam rumah. Julia yang masih terkejut hanya berdiri mematung.


"Karel!!! Kamu mau apa kesini? Ayo kita bicara di luar saja," ajak Julia memaksa.


"Di luar panas." Karel yang tidak perduli dengan kejengkelan Julia, malah sudah mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu.


"Karel! Ayo ngobrolnya di luar saja, Ben tidak ada di rumah. Nanti jika dilihat tetangga kan tidak enak," kata Julia yang merasa tidak nyaman.


"Bilang saja aku sepupu kamu. Beres kan?!"


Julia melengos dengan alasan yang diberikan Karel. Dengan langkah gontai, akhirnya Julia pun ikut duduk di seberang Karel.


"Lalu ... Kamu datang ke rumahku mau apa? Aku sudah mau pergi ke rumah mamaku," tanya Julia yang nampak tidak sabar.


"Oh cuma kebetulan lewat tadi. Karena cuaca sangat panas, ya sudah aku mampir kesini dulu," kata Karel dengan senyum khasnya.


"Ya ampun ... Aku kira ada hal penting apaan sampai kamu datang kesini. Sudah ah kamu pulang saja sana! Aku sudah mau pergi nih," kata Julia yang beranjak dari duduknya untuk pergi mengambil tas dan ponsel yang ada di kamar.


Karel hanya terdiam dan memandangi Julia. Dia hanya menarik nafas dalam mengatur detak jantungnya yang berdegub sedari tadi saat menginjakkan kakinya di rumah Julia.


Entah apa yang merasuki dirinya hingga nekad datang ke rumah Julia saat ini. Tapi Karel sangat penasaran dengan kehidupan pernikahan Julia.


Apakah Julia bahagia?


Jika Julia tidak bahagia apakah aku akan senang? Karena hingga saat ini, masih ada cinta untuk Julia di hatiku.


Karel terus melamunkan semua hal tentang Julia.


"Karel! Kamu kenapa melamun? Yuk, aku mau pergi nih," kata Julia yang tiba-tiba muncul ke ruang tamu.


"Eh iya. Julia, tunggu!"


"Apalagi sih Karel," saut Julia berbalik menghadap Karel.

__ADS_1


"Julia, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Karel menyelidik menatap dalam mata Julia.


"Ehm ... Kamu tanya apa sih Karel?"


"Jul, apakah kamu bahagia?" tanya Karel sekali lagi.


"Untuk apa kamu ingin tau? Sudah ah ... Yuk keluar dulu. Aku mau pesan taksi online," kata Julia menghindari pertanyaan Karel yang membuat hatinya tiba-tiba sedih.


Karel hanya terdiam, seolah sudah tahu jawabannya. Dia pun menghela nafasnya dan mengangguk lalu berjalan keluar rumah mengikuti Julia.


"Jul, aku antarkan ke rumah Mama kamu saja. Tidak usah naik taksi," kata Karel menawarkan.


"Tidak perlu. Aku naik taksi saja."


"Ayolah Jul," bujuk Karel dengan wajah tulus dan senyum cerianya.


"Kamu nggak repot? Rumah mamaku jauh lho."


"Sudah ayo masuk mobil! Aku malah senang dan sama sekali tidak repot," kata Karel sambil mendorong tubuh Julia masuk ke dalam mobilnya.


Selama perjalanan, Karel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia ingin berlama-lama berdua dengan Julia, walaupun tidak banyak percakapan diantara mereka.


"Jul, nanti aku mengantarmu pulang lagi ya?" Karel berharap Julia terus bersamanya seperti ini.


"Nanti pulangnya Ben yang akan menjemputku. Nanti kalau kamu yang jemput aku malah Mamaku akan curiga dan berpkir aneh-aneh. Kami ini bagaimana sih Karel," jelas Julia yang tidak mengerti tujuan Karel mengantarkannya saat ini.


"Julia, jika suatu saat kamu berpisah dengan Ben, aku pasti menerima kamu," kata Karel tiba-tiba yang membuat Julia terkejut.


Julia menoleh melihat Karel yang masih terus menyetir. Dirinya bertanya-tanya apakah benar perkataan yang dilontarkan Karel kepada dirinya.


"Karel ... Kamu ini bicara apa sih?!"


"Berterus teranglah Jul, jika saat ini kamu tidak bahagia. Aku tahu dari matamu yang terlihat menyimpan kesedihan sepanjang waktu. Lepaskanlah dan carilah kebahagiaan untuk dirimu sendiri Jul!" Karel berkata dengan serius.


Julia hanya terdiam dan tak terasa sebutir air mata lolos jatuh ke pipinya. Cepat-cepat Julia menghapus dan menarik nafasnya agar tidak menangis saat ini.


"Jul, jika ingin menangis, menangis sajalah. Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi," kata Karel menenangkan Julia.


"Aku tidak menangis! Aku hanya terharu kenapa ada orang sepertimu!"


"Iya aku tau. Memang aku tidak ada duanya," kata Karel yang geli sendiri melihat Julia.

__ADS_1


"Memang kamu orang yang menyebalkan tau tidak sih?!" teriak Julia dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.


"Iya, aku memang menggemaskan."


"Menyebalkan! Kamu itu menyebalkan! Lihat ... aku sampai terharu begini," teriak Julia di sela-sela tangisnya.


"Oh aku kira menggemaskan." Karel hanya tersenyum dan hatinya lega melihat Julia yang bisa mengeluarkan emosinya.


"Huuaaa ... Kenapa aku bisa terjebak denganmu seperti ini." Julia masih berteriak mengeluarkan kesedihan yang biasanya ditahannya.


Karel menghentikan mobilnya di pinggir jalan di bawah pohon yang rindang. Diulurkannya selembar tissu pada Julia dan memberi Julia sebotol air putih.


Julia membersit hidungnya dan mengeringkan air matanya. Setelah agak tenang, diminumnya sebotol air hingga habis tak bersisa.


"Yuk kita jalan lagi," ajak Julia dengan suara pelan.


"Oke ... Kamu sudah tenang kan?"


"Iya, aku tidak apa-apa kok. Tadi kan aku cuma terharu," kata Julia yang malu dengan apa yang dilakukannya.


"Iya aku percaya kok," ujar Karel lalu menjalankan mobilnya menuju rumah Julia.


Saat sudah sampai di depan rumah, Julia terkejut melihat Mama dan Ben duduk di teras mengamati dirinya dan juga Karel.


"Ya ampun, itu Ben kenapa ada disini sih? Kita harus bagaimana Karel?" tanya Julia kebingungan.


"Kamu ini kenapa sih Jul? Kita kan tidak berbuat apa-apa. Kamu ini seperti kita tertangkap basah sedang berselingkuh saja!"


"Bukan begitu, tapi aku merasa berbohong pada Ben," kata Julia lirih dan bingung harus mengatakan apa.


"Sudahlah, yuk kita turun! Semakin lama kita disini malah akan membuat Ben dan juga Mama kamu salah sangka," kata Karel lalu membuka pintu mobilnya dan keluar.


Julia pun akhirnya keluar dari mobil dan memberanikan diri melihat raut wajah Ben.


Tapi ...


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2