Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Siapa Dia?


__ADS_3

"Karel sayang, ayolah bangun. Sudah siang nih, kamu nggak kerja?" Julia menepuk-nepuk tangan Karel pelan.


Hari sudah terang, matahari telah menampakkan sinarnya. Udara pagi yang masih terasa sejuk membuat siapapun malas untuk beranjak.


"Karel," panggil Julia sekali lagi.


"Ehm ... " saut Karel dengan malas.


"Sayang, ayolah bangun kan harus berangkat kerja," kata Julia lembut.


"Badanku rasanya sakit semua, Jul. Mungkin karena masih kelelahan. Hari ini aku akan ijin tidak masuk kerja dulu," kata Karel masih dengan mata terpejam.


"Karel, jangan-jangan kamu sakit?!" Julia menempelkan tangannya di dahi Karel untuk memeriksa.


Tapi suhu tubuh Karel biasa saja.


"Aku nggak sakit, sayang. Aku hanya kecapekan. Kamu berangkat sendiri nggak apa-apa kan?" tanya Karel yang kini manatap wajah Julia.


"Baiklah kalau kamu masih ingin istirahat," kata Julia akhirnya.


Karel memandangi Julia yang tengah bersiap berangkat ke kantor.


"Jul, selama aku pergi beberapa hari ini, apa saja kegiatanmu?" tanya Karel yang masih tiduran di ranjang.


"Ehm ... Aku di rumah saja," saut Julia cepat menyembunyikan kegugupannya.


Mungkinkah Karel tahu tentang foto-foto itu? Jangan-jangan Karel juga dikirimi?


Julia membatin dalam hati.


"Kenapa?" tanya Julia.


Ia cepat-cepat membubuhkan bedak di wajahnya, memakai lipstik dan menyisiri rambutnya. Julia ingin segera menyudahi percakapannya dengan Karel, ia sangat takut jika Karel tahu tentang foto-foto itu.


"Aku hanya kasihan jika kamu kesepian di rumah sendiri karena bulan depan aku juga harus keluar kota lagi," kata Karel perlahan.


"Kamu dikirim tugas luar kota lagi? Apa tidak ada orang lain?" tanya Julia heran.


"Kan tugas ini memang bidangku, Jul."


"Berapa lama?" tanya Julia kesal.


"Mungkin sepuluh hari," jelas Karel yang merasa tidak enak hati.


"Apa?! Sepuluh hari? Kenapa lama sekali?"


"Iya, karena ini tugas pendampingan dan harus terus dipantau hingga berhasil. Jika kamu tidak percaya, tanyakan saja pada atasanku," kata Karel berusaha meyakinkan Julia.


"Heh ... Baiklah, jika memang itu tugasmu. Aku berangkat dulu, takut terlambat. Kamu istirahat saja ya, nanti untuk makan siang aku pesankan online saja," kata Julia lalu mencium pipi Karel.


"Iya sayang," saut Karel.


Julia pun berangkat ke kantor. Ia menahan kekesalannya karena Karel harus bertugas ke luar kota lagi. Tapi untuk bertanya pada atasan Karel, ia merasa malu karena akan terlihat jika ia tidak mempercayai suaminya.


Julia menghembuskan nafas panjang. Ia menyingkirkan kekesalannya karena ia harus memikirkan soal foto-foto dirinya dengan Theo.


***


Nadine berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Hatinya merasa sedih, air mata tak berhenti mengalir di pipinya.

__ADS_1


Ia telah kehilangan bayinya. Tidak tahu apa sebabnya, namun ia menyesali mengapa ini menimpa dirinya.


Ben duduk di samping Nadine, ia terus terdiam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


"Ben," panggil Nadine lirih.


"Heh ... Bagaimana bisa kamu keguguran, Nad?" tanya Ben tidak percaya.


"Aku sendiri tidak tahu, Ben."


"Kamu sengaja ya?" Ben menyipitkan matanya, curiga terhadap Nadine.


"Ben! Apa kamu pikir aku setega itu?! Aku sangat menginginkan bayi darimu, Ben."


"Terserah kamu, Nad. Aku tidak tega mengatakannya sekarang, tapi ini memang harus kukatakan."


Nadine terdiam mendengar semua perkataan Ben. Ia memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia tidak sanggup mendengar apa yang akan Ben katakan.


"Nad, jika keadaanmu seperti ini, aku rasa tidak ada lagi hal yang harus dipertahankan diantara kita," kata Ben perlahan.


"Apa maksudmu, Ben?"


"Untuk apa kita terus bersama jika sudah tidak ada lagi pengikat diantara kita. Aku juga sudah bilang jika aku tidak mencintaimu lagi, tapi karena ada bayi yang kamu kandung makanya aku bertahan. Namun kini sudah tidak ada lagi bukan?" Ben berkata dengan berat hati.


Ia pun sangat sedih telah kehilangan bayinya, walaupun sebenarnya itu bukan bayinya.


"Ben, kamu tega sekali membicarakan ini saat aku masih sakit seperti ini," ucap Nadine dengan hati yang tersayat.


"Aku hanya ingin menegaskan saja, Nad. Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Aku mau berangkat ke kantor."


Ben pamit pada Nadine lalu keluar ruang rawat, pergi meninggalkan Nadine seorang diri.


Air mata Nadine terus menetes semakin deras. Ia sangat sedih telah kehilangan calon bayinya. Hatinya terasa perih. Ia baru menyadari ternyata ia telah kehilangan Ben.


- "Halo, Nadine."


- "Theo, maaf aku mau memberitahumu."


- "Ada apa?"


- "Theo, aku keguguran. Aku tidak bisa mempertahankan bayi ini. Berarti perjanjian kita batal."


- "Bagaimana bisa? Aku tidak percaya. Jangan-jangan ini hanya trikmu saja untuk mengingkari perjanjian kita."


- "Kalau kamu tidak percaya, datanglah ke rumah sakit. Aku disini menunggumu."


- "Oke, aku akan datang."


Telpon pun terputus.


Nadine sendirian berbaring di ranjang rumah sakit. Ia sangat sedih, namun ia tak boleh terus menerus larut dalam kesedihan. Ia harus membuat rencana baru.


***


Julia tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Pikirannya terus melayang pada foto-foto dirinya dan Theo. Entah siapa yang tega berbuat hal ini padanya.


Tak bisa berpikir lagi, Julia pun meraih ponselnya dan menyentuh nomor ponsel Theo.


- "Halo."

__ADS_1


- "Halo, Theo."


- "Halo, Jul. Ada apa menelpon?"


- "Ehm, Theo apakah kamu ada waktu?"


- "Kamu sudah kangen ingin bertemu aku ya?"


- "Theo! Bukan begitu, ada hal yang ingin aku katakan."


- "Baiklah. Siang ini kebetulan aku akan ke daerah sekitar kantormu. Kita bertemu di kafe dekat kantormu sepulang kerja?"


- "Baiklah, Theo. Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku."


"Oke, sampai bertemu sore nanti.


Telpon pun ditutup. Julia menghela nafasnya, ia tidak tahu apakah tindakannya ini benar atau tidak. Namun ia harus berbuat sesuatu dan tidak bisa hanya diam saja.


Julia menghitung jam demi jam yang terasa berputar sangat lambat. Hingga akhirnya saat jam kantor usai, ia pun bergegas pergi ke kafe. Ia tidak ingin membuang waktunya karena tak ingin Karel curiga jika ia pulang terlambat.


Saat Julia memasuki kafe, dilihatnya Theo telah duduk di pojokan sambil melambaikan tangannya.


"Halo, Theo. Sudah lama menunggu?" sapa Julia menampakkan senyum di wajahnya.


"Halo, Jul. Aku baru saja sampai. Silahkan duduk, aku sudah memesankan minuman favoritmu," kata Theo percaya diri.


Tak lama minuman dan cemilan pesanan Theo pun datang. Theo dan Julia sama-sama minum, membasahi tenggorokannya yang kering.


"Ada apa kamu ingin bertemu denganku, Jul?" tanya Theo langsung.


"Theo, lihat ini!" Julia memperlihatkan ponselnya yang menampakkan foto-foto dirinya dengan Theo.


"Oh foto itu? Aku juga ada," kata Theo santai. Terlihat sama sekali tidak terkejut.


"Kamu juga dikirimi?"


"Iya," saut Theo.


"Kira-kira siapa yang memotret kita? Apa kamu tahu?" tanya Julia bingung dengan reaksi Theo yang terlihat santai.


"Aku tidak tahu."


"Kenapa kamu terlihat tenang? Apa kamu tidak takut jika istrimu melihatnya?" tanya Julia lagi.


"Kamu takut suamimu akan tahu?" Theo balik bertanya.


"Tentu saja aku takut! Jika suamiku tahu, maka ia akan berpikir yang bukan-bukan."


"Tenang, Jul. Jika suamimu tahu, aku akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya," kata Theo meyakinkan.


"Kamu tidak ingin tahu siapa yang mengirimi foto-foto ini?"


"Sebenarnya aku sudah tahu, Jul."


"Benarkah? Siapa dia, Theo?" tanya Julia menuntut jawaban.


Theo terlihat tenang, ia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2