
Julia melepaskan pelukan Irfan. Tiba-tiba ia teringat Arka. Julia merasa tidak pantas bersenang-senang sementara meninggalkan Arka sendiri di rumah.
"Kenapa, Jul?" tanya Irfan menyentuh pipi Julia hangat.
"Aku harus cepat pulang. Tadi aku menitipkan Arka dengan Nadine. Maaf Fan, aku pulang dulu," kata Julia sambil mengambil tasnya.
"Jul, ponselmu bunyi. Angkat dulu siapa tahu penting,"' kata Irfan yang mendengar bunyi ponsel dari dalam tas Julia.
Julia mengambil ponselnya, melihat jika Ben lah yang meneleponnya.
"Dari Ben. Sebentar aku angkat ya," ucap Julia pada Irfan seperti meminta ijin.
Irfan hanya menganggukkan kepalanya.
- "Halo, Ben."
- "Jul, kamu ke mana? Kenapa rumahmu kosong dan gelap."
- "Ben, kamu sekarang ada di rumahku?"
- "Iya, tapi rumahmu sepi dan gelap."
- "Ben, sekarang aku sedang ada di rumah Irfan. Tadi sore aku menitipkan Arka dengan Nadine. Tolong periksa dulu sekitar rumah, siapa tahu Arka sedang tidur dengan Nadine."
- "Sebentar Jul. Ehm ... rumah nggak dikunci. Aku masuk dulu."
Ada jeda beberapa saat, sepertinya Ben sedang menyalakan lampu rumah dan memeriksa semua ruang.
- "Jul, rumah kosong. Tidak ada siapapun."
- "Ben, ini telpon aku tutup dulu ya. Aku mau telpon Nadine dulu. Tolong kamu juga menghubungi Nadine."
- "Oke, Jul."
Julia menutup telponnya, tangannya gemetar. Perasaannya mulai tidak enak. Memang dari tadi Julia tidak menghubungi Nadine dan juga Nadine tidak mengirim foto Arka seperti janjinya.
"Ada apa, Jul?" tanya Irfan.
"Ben sedang ada di rumah, tapi rumah kosong dan gelap. Nadine membawa pergi Arka, bahkan tidak mengunci pintu rumah," kata Julia dengan cepat.
Julia melakukan panggilan ke ponsel Nadine, tapi tidak bisa terhubung bahkan ponsel Nadine sepertinya dimatikan.
Air mata Julia mulai mengalir, perasaannya makin tidak enak.
"Julia, tenanglah dulu. Mungkin saja Nadine membawa jalan-jalan Arka cari makan malam," ucap Irfan menenangkan Julia.
"Iya semoga begitu, Fan. Aku pulang dulu," pamit Julia. Ia memang ingin segera pulang.
__ADS_1
"Tunggu! Biarkan aku yang menyetir. Kamu sedang tidak tenang. Tunggulah sebentar, aku ambil ponselku dulu," kata Irfan mencegah Julia.
Julia kembali duduk dan berusaha menghubungi ponsel Nadine lagi namun selalu gagal. Rasanya Julia ingin membanting ponselnya sendiri.
***
Ben mondar-mandir di teras rumah. Ia gagal menghubungi ponsel Nadine. Dalam hati ia menyalahkan Julia yang mempercayakan Arka bersama Nadine. Sumpah serapah keluar dari mulut Ben saat berkali-kali tidak bisa menelpon Nadine.
Ben menghempaskan tubuhnya duduk di kursi teras rumah. Tangannya mengacak-acak rambutnya. Ia bingung harus bagaimana.
Saat itulah terdengar bunyi dari ponselnya yang menandakan sebuah pesan masuk. Ben cepat-cepat membukanya, dahinya mengernyit saat melihat pesan itu dari Theo.
- Cepat datang ke bandara sekarang juga jika ingin Arka selamat. Aku nggak bisa menghubungi Julia. Jika bisa bawa Julia juga.
(Theo)
Seketika mata Ben membelalak, ia melihat foto Nadine sedang menggendong Arka. Ben segera mengunci pintu rumah Julia. Ia juga meneruskan pesan dari Theo, karena tidak ada banyak waktu. Ia harus segera mengejar Arka sebelum terlambat.
Ben menginjak gas mobilnya dalam-dalam dan seketika mobil berlari kencang meninggalkan suara berdecit yang keras.
***
Irfan menyetir mobil Julia dengan kecepatan tinggi. Ia sangat kuatir terjadi hal buruk pada Arka, namun ia berusaha tenang di depan Julia. Rasanya ingin sekali ia lapor polisi, namun belum jelas apakah memang Arka diculik ataukah hanya dibawa jalan-jalan saja oleh Nadine. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang ada. Irfan dan Julia diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ponsel Julia berbunyi, ada sebuah pesan masuk. Mata Julia membelalak saat membawa pesan dari Ben, namun disisi lain ia sedikit lega karena sudah tahu dimana anaknya berada.
"Oke."
Irfan membelokkan arah mobil menuju bandara. Hatinya terasa diremas, takut dengan apa yang akan terjadi. Irfan sedikit melirik Julia dan keadaan Julia pun tidak jauh berbeda. Terlihat jelas kecemasan di mata Julia.
Irfan menambah kecepatan mobil agar segera sampai. Namun ia sedikit lega karena Ben juga membantu, mungkin akan sampai bandara terlebih dahulu daripada dirinya dan Julia.
"Tenang, Jul. Tidak akan ada apa-apa yang terjadi. Ada Ben yang akan sampai sana lebih dulu," ucap Irfan menenangkan.
"Iya, Fan." Julia menghapus air matanya sambil dalam hati terus berdoa agar Arka kembali ke pelukannya dalam keadaan sehat.
***
Nadine meletakkan Arka di pangkuannya. Arka terlihat lelah dan mengantuk. Nadine segera memberikan sebotol susu agar Arka tidur, ia pun sudah lelah dari tadi menggendong Arka. Tak berapa lama, Arka pun terlihat sudah lelap tertidur.
"Theo, masih lama kah kita menunggu pesawatnya?" tanya Nadine tidak sabar.
"Sabar. Tapi Nad, kamu sudah yakin akan membawa Arka pergi? Tidak mudah lho menjadi seorang ibu," tanya Theo.
"Aku sudah yakin. Aku tidak mungkin akan memiliki anak sendiri dan aku ingin membalas sakit hatiku pada Julia. Aku akan membesarkan Arka penuh kasih sayang sehingga ia hanya menyayangi aku sebagai ibunya dan tidak akan mengenal Julia," kata Nadine dengan penuh tekad.
"Oke, baiklah terserah kamu. Aku hanya akan membantumu sampai sejauh ini. Selebihnya terserah kamu. Dan ingat, jangan menghubungi aku lagi!"
__ADS_1
"Iya, aku tahu Theo." Nadine memberikan senyum terbaiknya. Namun dalam hati ia tidak akan pernah melepaskan Theo dari genggamannya. Nadine kini ingin memiliki Theo. Bukan karena ia mencintainya, namun Theo bisa memberikan kehidupan yang sangat baik untuknya tanpa ia harus bekerja keras.
"Nad, tunggu di sini sebentar. Aku akan menanyakan ke petugas berapa lama lagi kita menunggu," kata Theo sambil berjalan pergi.
***
Ben memarkir mobilnya sembarangan. Berjalan dengan cepat, Ben menghubungi ponsel Theo. Tak disangka, Theo mengangkatnya dan memberitahu Ben di mana posisinya agar Ben menemuinya.
Ben berlari sekuat tenaganya, pandangannya menyapu segala arah agar bisa melihat keberadaan Theo.
"Ben!" panggil Theo tertahan.
"Theo, apa yang terjadi? Di mana Arka?" tanya Ben langsung.
"Tenanglah, aku sedang menunggu polisi datang. Nadine ada di sana. Kamu sembunyi dulu di sini, jangan sampai Nadine melihatmu," kata Theo.
"Tapi sebenarnya apa yang terjadi?"
"Mana Julia?"
"Julia sedang dalam perjalanan. Semoga tidak lama lagi sudah sampai."
"Oke."
Theo melambaikan tangannya pada beberapa polisi yang datang. Sementara Ben mulai bisa menangkap apa yang sedang terjadi.
"Theo, tunggu dulu. Jika sekarang kita menangkap Nadine, aku takut akan membahayakan keselamatan Arka," kata Ben kuatir.
"Sebentar, kita bicarakan dulu dengan polisi. Mereka lebih berpengalaman," ucap Theo santai.
Polisi yang datang sudah mengetahui apa yang terjadi karena tadi pagi Theo sudah menceritakan semua apa yang akan Nadine lakukan. Ben mengutarakan kekuatirannya dan akhirnya polisi pun meminta bantuan.
"Pak Theo, tolong anda menggendong Arka dulu agar Nadine tidak curiga. Setelah berhasil, selanjutnya serahkan pada kami," kata Polisi mengutarakan rencananya.
"Baik, Pak."
Polisi dan Ben mengikuti Theo dari kejauhan. Sementara Theo berjalan mendekati Nadine.
Namun ternyata Nadine tidak sebodoh apa yang mereka perkirakan. Saat Theo tadi pergi, Nadine mengikutinya dari jauh. Ia tahu Theo bertemu Ben dan beberapa polisi.
Kalian mengira bisa membodohi seorang Nadine? Tidak semudah itu!
Nadine tersenyum sinis, ia mengutuki Theo, Ben dan Julia dalam hati.
-
-
__ADS_1
-