
Julia terduduk lemas, keringat membanjiri keningnya. Namun hatinya merasa lega. Acara pembukaan ini sukses besar. Walaupun ia harus bekerja keras mengecek semuanya, namun jika hasilnya sesuai rencana maka kelelahannya terbayar sudah.
"Nih, minum dulu!" kata Theo memerintah.
Theo memberikan sebotol air mineral dingin pada Julia.
"Terima kasih," saut Julia sambil menerimanya dan langsung meneguknya. Tenggorokannya terasa sangat segar.
Theo sebagai donatur tunggal memang menjadi tamu undangan khusus. Dan saat ini Theo mengambil duduk di samping Julia.
"Kamu terlihat lelah. Apa tugasmu sudah selesai?" tanya Theo memperhatikan wajah Julia.
"Sedikit lelah tapi aku senang karena tugasku berjalan lancar. Terima kasih untuk semua bantuanmu, Theo," ucap Julia dengan tulus.
"Sudah jangan bilang terima kasih lagi. Ini jam kerjamu sudah selesai kan?" tanya Theo lagi.
"Iya, sudah selesai. Setelah ini aku ingin langsung pulang," kata Julia.
"Kalau begitu, ayo aku ajak kamu ke suatu tempat yang pasti akan kamu suka."
Tidak menunggu persetujuan dari Julia, Theo langsung menarik tangan Julia dan mengajaknya masuk ke mobil.
Namun Julia menarik kembali tangannya dan tidak mau masuk ke dalam mobil Theo.
"Theo, aku tidak mau pergi denganmu," kata Julia tenang.
"Jul, percaya saja padaku. Ayolah!" perintah Theo lalu membuka pintu mobilnya dan sedikit memaksa Julia untuk masuk.
"Tapi Theo ...."
Theo dengan cepat masuk juga ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari area parkir.
"Theo, kita mau kemana? Lalu bagaimana dengan mobilku?" tanya Julia bingung.
"Nanti malam sebelum pulang, aku akan mengantarmu kesini lagi untuk mengambil mobil. Ini kan masih siang." Theo santai menanggapi pertanyaan Julia.
"Lalu kita akan kemana?" tanya Julia menuntut jawaban.
"Kamu lihat saja nanti."
Julia pun menurut, ia percaya Theo tidak akan berbuat aneh-aneh padanya.
Tak lama kemudian, mobil memasuki sebuah hotel berbintang.
"Theo, kita mau apa?" tanya Julia dengan perasaan tak karuan.
"Haha ... Kenapa kamu takut? Kan kamu juga sudah menikah, pasti tau apa yang aku maksud," kata Theo menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Theo! Aku tidak mau! Kamu jangan macam-macam ya!" Julia takut dengan apa yang akan dihadapinya.
Theo dengan santai memarkirkan mobilnya, menyuruh Julia turun dan menggandeng tangan Julia dengan erat.
Ya ampun, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Pada siapa aku harus meminta tolong?
Dengan wajah pucat pasi, Julia berusaha tenang. Ia harus berpikir dengan tenang agar bisa lolos dari genggaman Theo.
Saat melewati lobby hotel, Theo hanya menganggukkan kepalanya pada resepsionis yang berjaga. Julia mengamati bahwa petugas resepsionis itu sudah mengenal Theo dengan baik.
Saat memasuki lift, hanya ada Theo dan Julia. Theo masih menggenggam tangan Julia.
"Theo, apa yang akan kamu lakukan? Tolong hentikan!" kata Julia memohon.
__ADS_1
"Kamu pasti sudah menduganya." Theo menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
Kaki Julia terasa lemas, keringat dingin keluar dari dahinya.
"Jul, tadi aku lihat suamimu tidak ada di acara kantormu? Bukankah kalian sekantor?" tanya Theo mengalihkan pembicaraan.
"Suamiku sedang tugas keluar kota beberapa hari."
"Wah, malah kebetulan. Kamu tidak harus pulang malam ini," kata Theo ceria.
"Theo, kumohon lepaskan aku!" pinta Julia memelas. Air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya.
Namun Theo sama sekali tak menggubrisnya dan malah semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Julia.
Saat pintu lift terbuka, Julia melihat bahwa sekarang mereka ada di lantai 5. Theo sedikit menyeret Julia namun tidak menyakitinya.
Julia menengok ke kiri dan ke kanan. Dahinya mengernyit saat dilihatnya disana ada ruang gym. Ia mengamati dan lantai 5 ini bukanlah tempat kamar-kamar untuk menginap.
Theo berhenti di sebuah ruang spa.
"Julia, kamu masuklah." Theo memerintah lalu melepaskan tangan Julia.
Julia ragu-ragu masuk ke sana.
"Katanya tadi capek. Aku mengajakmu kesini supaya kamu dipijat. Haha ... Kenapa wajahmu pucat pasi? Tadi kamu mengira aku akan melakukan apa padamu?" tanya Theo geli.
Sebenarnya ia tahu ketakutan Julia tadi, tapi Theo menahan diri. Ia harus bisa mengendalikan dirinya jika ingin mendapatkan Julia.
"Eh enggak apa-apa kok, Theo. Aku mau masuk dulu kalau begitu. Lalu kamu mau kemana?" tanya Julia.
Sebenarnya Julia senang jika tahu Theo akan membawanya ke spa hotel. Tapi tadi Theo sama sekali tidak mengatakan apapun sehingga pikirannya sudah melayang kemana-mana.
"Baiklah, terima kasih sekali Theo. Aku masuk dulu ya," pamit Julia.
"Sampai ketemu nanti, Jul."
Julia sangat senang tubuhnya dipijat. Rasa pegal seakan diangkat dari tubuhnya. Bahkan Julia sampai ketiduran, mungkin karena terlalu lelah.
Saat sudah selesai spa, Julia pun akan membayar. Namun Theo terlihat sudah menunggunya di lobi spa.
"Jul, ayo!" ajak Theo mendekati Julia.
"Sebentar, aku mau membayar dulu."
"Tadi sudah aku bayar, kan aku yang ajak kamu kesini. Lagian aku sudah member disini," kata Theo.
"Terima kasih, Theo. Nanti aku bayar kembali."
"Eits ... Jangan bicarakan ini lagi. Yuk, aku sudah lapar, kita makan dulu."
Tanpa ijin, Theo langsung menggandeng tangan Julia.
"Theo, lepaskan tanganku! Jika dilihat orang yang mengenal kita, nanti apa coba pendapat mereka?" Julia berusaha melepaskan tangannya.
"Eh maaf, tapi kamu jangan kabur ya!"
"Iya." saut Julia lega karena kemudian Theo melepaskan tangannya.
Theo mengajak Julia pergi makan di resto hotel ini juga. Setelah memilih tempat duduk, Julia pun memilih menu yang ada disitu.
Pandangan Julia menyapu ke resto ini. Nuansa mewah terasa di setiap bagiannya. Ada perasaan de javu saat berada disini.
__ADS_1
Ya ... Ini adalah tempat yang sama saat Julia dan Ben merayakan ulang tahun pernikahan mereka dulu. Saat yang bagi Julia menorehkan luka yang tidak mungkin ia lupakan.
"Jul, lagi mikirin apa?" tanya Theo yang mengamati Julia seperti sedang melamun.
"Ah tidak," saut Julia menyunggingkan senyum.
"Badanmu sudah terasa enak?"
"Iya sudah, sekali lagi terima kasih untuk perhatian kamu, Theo," kata Julia.
Makanan dan minuman pun datang. Namun Julia baru teringat dengan Karel. Maka ia pun mengambil ponselnya dari dalam tas.
Yah ... Ternyata mati. Baterainya pasti habis. Aduh bagaimana jika Karel bingung mencariku?
Julia kuatir dengan Karel saat ini. Ia sebenarnya mau menanyakan apakah Karel sudah makan atau belum, karena ia tahu jika Karel akhir-akhir ini susah sekali makan.
"Ada apa, Jul? Makan dulu saja!" kata Theo.
"Iya, sebenarnya aku mau mengecek ponselku, apakah tadi suamiku menghubungi aku. Tapi ternyata baterainya habis."
"Pakai ponselku saja. Nih." Theo menyodorkan ponselnya.
"Ah tidak usah. Sebentar lagi kan kita langsung pulang. Biar nanti saja aku akan telpon," saut Julia.
Akhirnya Julia pun makan malam dengan tidak tenang. Benaknya hanya dipenuhi tentang Karel.
Saat ini ia ingin tahu bagaimana keadaan suaminya itu. Apalagi seharian ini karena sibuk, Julia tidak sempat membuka-buka ponselnya untuk sekedar melihat pesan-pesan yang masuk.
***
"Karel, bagaimana keadaanmu?" saut lelaki itu kuatir.
Dilihatnya Karel hanya memejamkan matanya dan tidak mau makan atau minum sama sekali.
"Aku tidak apa-apa, hanya ingin tidur saja. Kamu pergilah, kan kita sudah merencanakan ini." Karel mendesak agar sahabatnya ini segera pergi.
"Tapi dari tadi kamu belum makan sedikit pun."
"Iya, nanti aku akan makan," kata Karel lirih. Ia merasakan kepalanya sakit seperti dihantam ribuan batu.
Seorang dokter dan perawat datang. Lelaki itu menceritakan keadaan Karel. Lalu dokter itu pun memasang infus dengan dibantu perawat.
Dokter itu berpesan supaya jika keadaan Karel memburuk, ia harus membawanya ke rumah sakit.
"Karel, kamu istirahat dulu." Lelaki itu menatap Karel yang terlihat tidak berdaya. Ia sangat menyayangi sahabatnya ini.
"Jangan pikirkan aku. Sudah sana pergi! Jalankan sesuai rencana kita. Berjanjilah padaku!" kata Karel memerintah.
Karel harus memastikan rencananya ini berhasil sebelum ia pergi dengan tenang. Julia harus berada dalam lindungan orang yang tepat. Orang yang mencintainya apa adanya.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Doakan agar aku berhasil," kata lelaki itu menenangkan Karel.
Ia harus berhasil menjalankan rencana ini. Rencana untuk mendapatkan kasih dan kepercayaan dari Julia.
Dengan langkah mantap, lelaki itu memacu mobilnya mencari keberadaan Julia.
-
-
-
__ADS_1