Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Kecemburuan


__ADS_3

Tak terasa setahun telah berlalu. Julia menjalani hari-harinya dengan kesibukan yang membuatnya hanya memikirkan Arka. Julia sangat bahagia melihat pertumbuhan Arka yang semakin besar, sehat dan menggemaskan.


Julia tidak sendirian, Nadine sering sekali datang ke rumah untuk bermain dengan Arka. Julia melihat jika Nadine telah berubah, ia merasa Nadine sudah tidak membencinya. Tapi Nadine akan langsung pulang jika kebetulan ada Ben di rumah Julia.


Ben sering juga datang, bahkan Arka makin hari makin akrab dengan Ben. Ben mengajarkan Arka untuk memanggilnya 'Papa', yang membuat Julia kurang setuju.


"Ben, tolong jangan ajari Arka untuk memanggilmu 'Papa'." Julia suatu hari terpaksa menegur Ben, karena ia merasa terintimidasi jika Arka menganggap Ben adalah papanya maka Julia harus menikah dengan Ben.


"Julia, aku memang papanya Arka."


"Ben, jangan bercanda deh," saut Julia. Terkadang Ben suka berbuat seenaknya. Bahkan kini saat di rumah Julia, Ben menganggap seperti di rumahnya sendiri.


"Jul, apa yang aku bilang serius. Baik sekarang atau besok-besok, Arka adalah anakku. Aku tidak perduli seandainya kamu sekarang belum mau menjadi istriku. Tapi aku yakin suatu saat kamu akan menerima aku," kata Ben menyunggingkan senyumnya.


Julia terkadang juga tidak sampai hati untuk menolak keinginan Ben. Bagaimana pun Ben adalah sahabatnya sejak dulu. Tapi untuk kembali mencintai Ben, ia mungkin sudah tidak bisa.


Julia kini malah sering merasakan rindu akan kehadiran Irfan. Namun Irfan jarang datang ke rumah Julia dan jarang pula berkirim pesan lewat ponsel. Irfan seperti menjauh dari Julia. Bahkan Julia pernah melihat, saat ia, Arka dan Ben sedang bermain di halaman samping rumah, Julia melihat mobil Irfan berhenti di depan rumahnya. Tapi Irfan tidak jadi mampir ke rumahnya, lalu berlalu pergi.


Julia merasa mungkin Irfan tidak ingin mengganggunya karena ada Ben saat itu. Julia tidak tahu perasaan apa yang mulai hinggap di hatinya. Hanya sekedar rindu akan kehadiran Irfan ataukah cinta yang mulai tumbuh di hatinya?


Suatu sore saat sedang di kantor, Julia hanya menatap layar ponselnya. Memandangi foto Irfan yang ia ambil saat bermain dengan Arka. Tak terasa senyum tersungging di sudut bibirnya. Tawa Irfan yang tertangkap kamera terlihat sangat bahagia, tapi kenapa sekarang Irfan terasa jauh. Seperti sengaja menjauhinya.


Julia menghitung jika sudah hampir 2 bulan ini, ia tidak bertemu Irfan. Julia ingin sekali bertemu, tapi ia bingung mencari alasan untuk menemui Irfan.


Berpikir keras, ia belum juga menemukan alasan yang masuk akal. Julia malu jika menemui Irfan tapi tidak ada hal penting.


Saat pulang kerja, Julia dibuat terkejut melihat Ben berdiri menunggunya.


"Ben, ada apa ke sini?"


"Halo Jul, jangan kaget begitu dong. Ayo aku ajak ke suatu tempat." Ben berkata santai dan menggandeng tangan Julia berjalan ke mobilnya.


"Ben, kita mau ke mana? Mobilku bagaimana nanti?" tanya Julia bingung.


"Mobilmu nanti saja kita ambil lagi. Atau ditinggal saja kan juga aman, di sini ada security yang berjaga 24 jam. Besok aku antarkan berangkat kerjanya."


Ben memaksa Julia masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Julia akhirnya menurut saja, ia akan melihat apa maunya Ben. Mobil mulai berjalan, Julia terus memperhatikan jalanan tapi ia belum bisa menebak ke mana Ben akan membawanya.


"Ben, jangan jauh-jauh ya, aku nggak bisa jika pulang terlalu malam. Kasihan Arka ditinggal," kata Julia melihat Ben yang saat ini terlihat ceria.


"Tenang, Jul. Kan Arka aman sama pengasuhnya. Tadi sebelum menjemputmu, aku mampir dulu ke rumah melihat Arka. Sempat juga aku bermain dengannya," ucap Ben santai.


"Terus ini kita mau ke mana?" tanya Julia lagi.


"Sabar, sebentar lagi kita sampai," kata Ben menenangkan.


Tak berapa lama, Ben berhenti di sebuah hotel berbintang. Julia mengingat-ingat ada hal khusus apa sehingga Ben mengajaknya kemari. Julia ingat, di resto hotel ini terakhir kalinya mereka makan bersama untuk merayakan wedding anniversary mereka dulu.


Ben mengajak Julia langsung menuju resto. Ternyata Ben sudah reservasi sebelumnya, sehingga mereka mendapat tempat terbaik dengan view yang indah.


Jam memang baru menunjukkan pukul 17.30, masih terlalu awal untuk makan malam. Tapi Ben mengatakan jika akan susah mengajak Julia makan malam berdua setelah ada Arka. Karena itu ia terpaksa 'menculik' Julia.


Setelah duduk santai dan memesan makanan, Ben hanya tersenyum-senyum menatap Julia.


"Jul, kamu nggak ingat ini hari apa?" tanya Ben.


"Memangnya ini hari apa? Hari Rabu kan?"


"Eh iyakah? Kalau begitu, selamat ulang tahun Ben. Semoga selalu sehat, panjang umur dan berkat melimpah dalam kehidupanmu. Semoga Tuhan selalu memberkati ya," ucap Julia tulus. Ia memang benar-benar lupa akan tanggal ulang tahun Ben.


"Terima kasih, Jul."


"Kadonya menyusul ya," kata Julia.


"Kamu itu sudah merupakan kado terindah buatku, Jul," ucap Ben dengan tatapan mendamba.


"Haiss ... Kamu ada-ada saja, Ben." Julia hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari Ben.


Untung saja kemudian Julia terselamatkan oleh pelayan resto yang mengantarkan hidangan untuk mereka.


Ben dan Julia menikmati makan malam mereka. Lampu-lampu kota mulai menyala di malam yang mulai gelap. Terlihat indah dari tempat Julia duduk. Terdengar suara alunan piano, membuat suasana resto menjadi semakin romantis.


Julia menikmati makan malamnya, namun dalam hati ia merasa was-was. Takut jika Ben akan mengatakan hal-hal pribadi.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Ben terus memandangi wajah Julia.


"Jul, apakah suatu saat nanti kita berjodoh ya?" tanya Ben seperti pada dirinya sendiri.


"Aku nggak tau, Ben. Kurasa kita serahkan saja pada takdir," ucap Julia tersenyum.


"Ehm Ben, kita pulang yuk, aku terus kepikiran Arka jika lama-lama meninggalkan dia," ajak Julia yang memang merindukan buah hatinya. Ia sudah meninggalkan Arka sejak pagi.


"Oke, aku juga ingin bermain lagi dengan Arka."


Saat hendak meninggalkan mejanya, Julia secara tak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar baginya.


Irfan yang sedang berjalan memasuki resto. Tidak sendirian, Irfan ditemani seorang wanita cantik yang terlihat masih sangat muda.


Ben pun melihat Irfan. "Jul, bukankah itu Irfan?"


Julia hanya mengangguk, tak dapat berkata-kata. Entah kenapa hatinya terasa sedikit perih saat melihat Irfan bersama wanita lain.


Julia mengikuti Ben yang berjalan berjalan di depannya dan tak dapat dihindari, mereka berpapasan dengan Irfan.


"Halo Irfan, nggak menyangka bertemu di sini," sapa Ben.


Sementara Julia hanya tersenyum pada Irfan.


"Halo Ben, Julia. Kalian sudah mau pulang?" tanya Irfan.


"Iya, kami sudah sejak sore tadi." Julia akhirnya bisa mengeluarkan suaranya, berusaha terlihat biasa saja.


"Kalau begitu, kami pulang duluan. Silahkan menikmati makan malam Irfan," kata Ben dan mengangguk pada wanita di sebelah Irfan.


Julia pun pamit pada Irfan dan wanitanya.


Julia melangkahkan kakinya dengan cepat, seperti ingin segera kabur dari tempat itu. Ia tidak tahu perasaan apa yang dirasakannya saat ini. Tapi ... apakah ia pantas untuk merasa cemburu pada Irfan?


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2