Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Aku Lebih Berhak


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak Julia pindah rumah. Hari-harinya mulai berjalan teratur, ia telah terbiasa hidup sendiri lagi.


Terkadang ia masih merindukan Karel, namun semua itu ia tekan kuat-kuat. Julia selalu mengingat jika ada Karel kecil yang tumbuh dalam perutnya.


Sore sepulang kerja, Julia segera bersiap. Ia akan memeriksakan kandungannya. Tadi siang Julia mengajak Irfan karena ia berjanji akan mengajaknya jika akan memeriksakan kandungannya.


Irfan pun sangat senang menyambut ajakan Julia. Dan sore ini Irfan akab menjemput Julia.


Saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, Julia segera keluar rumah dan melihat jika benar Irfan lah yang datang.


"Halo Jul, kita langsung berangkat?" tanya Irfan saat melihat Julia.


"Hai Irfan, kita langsung saja ya. Takut nanti antri lama."


"Oke, yuk."


Irfan membukakan pintu mobil untuk Julia.


Perjalanan menuju rumah sakit ibu dan anak tidak memakan waktu lama. Kira-kira setengah jam, mereka sudah sampai.


"Fan, kamu yakin mau menemani aku? Tidak takut nanti dikira suamiku?" tanya Julia sebelum mereka keluar dari mobil.


"Aku malah senang jika orang mengira aku adalah suamimu," kata Irfan dengan senyum senang.


"Haha jangan bercanda, Fan."


"Aku nggak bercanda, Jul." Irfan menatap mata Julia dengan sendu.


"Sudah ah, yuk kita masuk."


Julia merasa salah tingkah, ia lalu mengajak Irfan keluar mobil agar tidak membahas hal yang membuatnya tidak nyaman.


Julia merasa tidak siap menerima pria lain dalam hidupnya setelah Karel tidak ada disampingnya lagi. Hatinya seperti tertutup, ia hanya ingin membesarkan anak dalam kandungannya ini.


Ruang pemeriksaan kandungan sore ini lumayan penuh. Julia antri agak lama sebelum akhirnya namanya dipanggil.


Irfan sangat senang bisa ikut menyaksikan pemerikasaan kandungan Julia, walaupun itu bukan anaknya.


Saat Julia melihat janin kecil dari layar monitor, senyum bahagia tak dapat ia sembunyikan. Ia sangat bahagia.


Irfan pun demikian, ia merasa gemas melihat janin mungil yang ia lihat dari layar monitor.


Dokter masih melakukan USG, " Bu, kemungkinan ini bayi laki-laki."


"Benarkah, Dok?" tanya Julia tidak percaya. Ia memang sangat mengharapkan bayinya ini berjenis kelamin laki-laki, karena dengan begitu ia mendapatkan pengganti Karel.


"Masih kemungkinan. Jika nanti usia kandungan Ibu sudah menginjak 7 bulan, maka akan semakin terlihat," jelas Dokter.


"Terima kasih, Dok," saut Julia.

__ADS_1


Walaupun sangat mengharapkan bayinya ini laki-laki, namun bila ternyata perempuan, ia tetap akan menerima dan menyayanginya sepenuh hati.


"Bu, ini saya resepkan vitamin. Untuk Bapak, tolong selalu dijaga istrinya agar tidak terlalu capek. Juga perhatikan makanannya agar asupan gizinya terpenuhi," jelas Dokter yang berbicara pada Julia dan Irfan.


Julia melirik Irfan disampingnya, merasa tidak enak hati karena dokter mengira Irfan suaminya.


Namun Irfan malah tersenyum menanggapi perkataan dokter, ia sama sekali tidak merasa keberatan.


Julia mengambil resep dokter di apotek. Setelah itu, Julia dan Irfan masuk ke dalam mobil.


"Fan, maaf ya tadi dokter mengira kamu adalah suamiku," kata Julia merasa tidak enak hati.


"Aku malah senang, Jul. Tapi siapapun yang melihat pasti mengira jika kita suami istri. Kan aku menemanimu masuk ke ruang periksa," kata Irfan menyunggingkan senyumnya.


"Kalau begitu, bulan depan jangan temani aku lagi ya."


"Loh kenapa?! Aku malah sangat senang. Aku merasa takjub melihat bayi mungil berada dalam rahim, Jul. Ijinkan aku bulan depan menemanimu lagi ya," pinta Irfan.


"Lihat besok saja ya."


Julia jadi merasa tidak nyaman. Ia tahu jika Irfan tulus, namun hati kecilnya menolak. Irfan bukanlah suaminya.


"Jul, kita mampir makan malam dulu ya," ajak Irfan saat mereka melewati food court.


"Yuk, aku juga lapar."


Irfan memarkirkan mobilnya lalu berdua mereka memilih tempat duduk agak pojok agar tidak terganggu dengan pengunjung yang lain.


"Heh ... Baru diajak periksa kandungan sekali sudah begini ceriwis. Iya aku pesan 2 porsi sekaligus, satu buatku dan satu buat bayiku," kata Julia sewot.


"Siap, aku akan pesan dua porsi untukmu," saut Irfan bersemangat.


"Irfan! Aku cuma bercanda. Ih kamu ini ... Mana bisa aku makan dua porsi! Aku pesan mie goreng seafood satu aja," kata Julia.


"Hehe ... Kirain beneran mau makan dua porsi," saut Irfan.


Setelah pesan makanan, Irfan pun mengamati Julia. Ia merasa Julia lebih cantik saat berbadan dua seperti ini. Irfan senyum-senyum sendiri menatap Julia.


"Irfan! Kamu kenapa melihatku senyum-senyum begitu? Ada yang aneh di wajahku?" tanya Julia bingung.


"Oh ... Enggak kok. Tadi aku hanya teringat saat kamu masih SMA dulu, ternyata wajahmu tidak banyak berubah," elak Irfan.


Ia terpaksa berbohong karena ia akan malu jika Julia sampai tahu.


"Ah kamu ini bisa aja. Irfan, kamu tahu bagaimana kabar Ben? Minggu lalu dia sempat mengirim pesan di ponselku mengatakan jika ia akan segera kembali. Tapi waktu aku balas, dia nggak balik balas dan nggak ada kabar lagi."


"Aku juga nggak tahu kabar Ben lagi. Aku nggak dekat dengan Ben, jadi aku nggak pernah berkirim pesan." Irfan merasa sedikit cemburu karena disaat seperti ini pun, Julia masih ingin tahu mengenai kabar Ben.


"Oh begitu. Kadang aku nggak habis pikir dengan Ben, sebentar pergi eh sebentar muncul. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana kesehatan Nadine," kata Julia.

__ADS_1


"Semoga saja Nadine selalu sehat ya. Aku nggak kenal sih, tapi aku akan ikut mendoakan."


Makanan pesanan pun datang, Julia dan Irfan menikmati makan malam mereka.


Setelah makan, Irfan mengantarkan Julia pulang. Namun saat sampai di rumah, Julia terkejut melihat mobil Ben terparkir di halaman rumahnya.


"Irfan, bukankah itu mobil Ben?" tanya Julia sambil melepas sabuk pengamannya.


"Sepertinya iya. Baru saja kita omongin, eh orangnya sudah muncul," kata Irfan tersenyum kecut.


Julia dan Irfan turun dari mobil.


Julia melihat Ben sedang duduk di teras rumah. Ia terlihat santai, menunggu Julia kembali.


"Halo, Jul. Aku datang," sapa Ben melemparkan senyumnya.


"Halo, Ben. Apa apa ya?" Julia merasa aneh melihat Ben datang ke rumahnya.


"Halo, Ben." Irfan menyapa Ben. Ia merasa Ben tidak memperhatikannya karena pandangan mata Ben hanya ditujukan untuk Julia.


"Eh Irfan, kalian dari mana?" tanya Ben yang baru menyadari ada Irfan yang berdiri dibelakang Julia.


"Yuk, kalian masuk dulu. Tidak enak dilihat tetangga," ajak Julia.


Julia mempersilahkan Irfan dan Ben untuk duduk.


"Kalian dari mana?" tanya Ben lagi yang masih merasa penasaran.


"Irfan mengantarku memeriksakan kandungan. Ada apa kamu kesini, Ben?" tanya Julia lagi.


"Jul, lain kali biar aku yang mengantarkan kamu. Oke?!" kata Ben seperti memerintah.


Irfan seketika menoleh ke arah Ben.


Wajahnya langsung terlihat kesal, ia merasa sebal.


"Ben, ada hak apa kamu yang harus mengantarkan Julia?" tanya Irfan tidak terima.


"Tentu saja aku lebih berhak." Ben menekankan kata-katanya.


"Tapi Julia yang mengijinkan aku untuk mengantarnya."


"Hanya untuk kali ini. Untuk selanjutnya, serahkan semuanya padaku." Ben memberi tekanan di setiap katanya.


Julia bergantian memandangi dua pria didepannya, tidak habis pikir mengapa mereka meributkan hal seperti ini.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2