Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Salah Tingkah


__ADS_3

Julia secepat kilat berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman kantor. Hatinya terasa perih tapi tak bisa berbuat apa-apa. Tapi di sisi lain, ia juga merasa malu terhadap Irfan dan Karina. Malu jika mereka tahu bahwa Julia sedang cemburu.


Julia membuka pintu mobil dan menghempaskan tubuhnya duduk di dalam mobil. Tangannya ingin sekali memukul setir mobil untuk melampiaskan rasa tidak nyaman di hatinya.


Setelah bisa menenangkan diri, Julia menengok kembali ke arah pintu kantor Irfan. Ia menunggu, berharap Irfan mengejarnya. Tapi ia harus menelan kekecewaan saat tidak melihat sosok Irfan keluar dari kantornya.


Dengan berat hati, Julia pun menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan pelan keluar dari area kantor Irfan.


Sepanjang perjalanan merupakan siksaan bagi Julia.


Marah ... sedih ... bercampur jadi satu. Tapi apakah ia berhak untuk marah? Sedangkan selama ini hubungan antara ia dan Irfan hanyalah pertemanan.


Julia menghela nafasnya dalam, ternyata beginilah rasanya, mungkin ia harus ditinggalkan dulu baru merasa kehilangan. Tak terasa setitik air mata keluar juga dari matanya. Julia mengakui ia sedih karena cintanya tak terbalas.


Namun ia sadar diri dan tetap berlapang dada. Ia tidak bisa memaksa bukan?


***


Irfan mondar-mandir di ruang kerjanya. Rasanya ingin sekali mengejar Julia dan mengatakan semuanya. Tadi saat Julia keluar dari kantornya, ia terus mengawasi dari jendela.


"Haha .... " Karina geli melihat Irfan yang seperti kebingungan sendiri.


"Diam lah, Karin! Atau kamu pulang saja sana!" Irfan sebal menatap Karina yang terus menertawakan.


"Habisnya Kakak nih, sabar lah. Besok sore baru ajak ketemuan sama Julia."


"Memang akan semudah itu?" Irfan merasa tak percaya diri sekarang.


"Mudah saja. Tinggal jemput dia dari kantornya. Eh Kak, tapi Julia itu ternyata cantik ya kalau dilihat dari dekat. Manis banget, imut, nggak kelihatan kalau udah punya anak," kata Karina yang mengagumi sosok Julia.


"Iya, cantik sekali." Irfan tersenyum simpul mengingat Julia.


"Kak, ingat ya kalau malam ini jangan mengirim pesan ke ponsel Julia. Percayalah padaku! Besok sore, baru lah Kakak utarakan isi hati, bilang cinta ke dia dengan romantis."


"Aku nggak bisa bersikap romantis gadis tengil!" Irfan rasanya gemas melihat Karina yang sedari tadi terus menggodanya.


"Harus bisa romantis dong Kak, biar Julia ntar klepek-klepek haha," kata Karina semakin semangat menggoda.


"Ah kamu ini! Yuk ah kita pulang," ajak Irfan akhirnya. Ia ingin memikirkan apa yang akan dikatakannya besok malam pada Julia.


***

__ADS_1


Julia akhirnya sampai rumah. Perutnya sudah melilit kelaparan. Tadi ia ingin mampir makan tapi rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu anaknya, Arka.


Tapi saat masuk rumah, ia agak terkejut saat melihat Nadine tengah asyik bermain dengan Arka.


"Halo, Nad," sapa Julia tersenyum.


"Halo, Jul. Maaf aku nggak minta ijin dulu sebelum ke sini, aku kangen sekali dengan Arka," kata Nadine sambil mencium Arka sayang. Sementara Arka asyik dengan mainannya.


"Nggak usah minta ijin lah, kalau mau datang ya datang aja."


"Makasih, Jul." Nadine meneruskan bermain bersama Arka dan Julia mandi terlebih dahulu.


Selesai mandi, Julia mengajak Nadine makan malam bersama dan Arka terus menempel pada Julia. Mungkin ia merasa kangen dengan mamanya yang seharian sudah tidak bertemu.


"Julia, tumben kamu pulangnya malam?" tanya Nadine.


"Oh iya, tadi ada urusan sebentar." Julia enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya, ia merasa malu.


"Julia, kapan-kapan kita ajak Arka jalan-jalan ke taman bermain atau kebun binatang yuk," ajak Nadine.


"Boleh lah, semoga akhir Minggu besok ya." Julia pun sudah merencanakan akan mengajak Arka jalan-jalan.


"Julia, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Nadine.


"Boleh dong, ada apa memangnya?"


"Jul, apakah kamu akan berencana menikah dengan Ben?" tanya Nadine hati-hati.


"Nad, aku kan sudah mengatakannya padamu berkali-kali. Aku dan Ben sudah nggak mungkin bersama. Kami akan selamanya sahabat. Aku malah ingin kamu dan Ben kembali bersama," kata Julia.


"Kalau kamu tidak sama Ben, berarti kamu akan menikah dengan Irfan?" tanya Nadine lagi.


"Aku tidak tahu, Nad. Jika memang berjodoh, aku yakin tak akan ke mana," kata Julia tersenyum walaupun hatinya kembali sedih saat mengingat kejadian petang tadi di kantor Irfan.


"Jul, aku berdoa semoga kamu mendapat jodoh yang terbaik," kata Nadine tulus.


"Terima kasih, Nad. Aku juga berharap kamu juga," ucap Julia.


Malamnya setelah Nadine pulang, Julia bersiap untuk tidur. Ia sudah berbaring di ranjangnya dan memeriksa pesan-pesan di ponselnya. Tapi ia harus kembali menelan kekecewaan saat tak ada satu pesan pun dari Irfan. Tapi kenapa Irfan harus mengirim pesan padanya?


Esok paginya, Julia kembali berangkat ke kantor. Ia membuang jauh bayangan Irfan di benaknya. Julia ingin melupakan Irfan saja, mungkin ia terlalu berharap dan salah menyangka jika Irfan masih mencintainya.

__ADS_1


Saat sore hari hendak pulang, Julia melihat Irfan menunggunya di depan kantor. Melihat Irfan, jantungnya terasa berdetak lebih kencang. Ia pun menekan dadanya, berharap ia bisa lebih tenang. Julia pun mengutuki dirinya mengapa ia bisa bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran.


"Julia!" panggil Irfan saat melihat Julia.


"Irfan, ada apa ke sini?" tanya Julia.


"Ehm aku ... aku ... heh, bingung mau bilang apa." Irfan tersenyum malu, padahal tadi ia biasa saja sekarang saat sudah berhadapan dengan Julia, mengapa ia salah tingkah seperti ini?


"Kita ke kafe sana dulu yuk, Fan," ajak Julia akhirnya, mungkin Irfan akan mengatakan sesuatu padanya.


"Iya, baiklah," kata Irfan mengikuti langkah Julia ke kafe yang tidak jauh dari kantor Julia.


Setelah memilih tempat duduk, Julia pun akhirnya bertanya, "Irfan, ada apa ya? Apakah soal furniture yang akan aku pesan kemarin? Soalnya aku belum sempat ke rumah papa mamaku dan mendiskusikannya."


"Oh bukan soal itu, Jul. Ehm sebenarnya aku mau minta maaf padamu," saut Irfan cepat.


"Minta maaf?"


"Iya, yang soal kemarin petang di kantorku itu. Aku minta maaf," kata Irfan tidak enak hati.


"Oh itu, kamu nggak salah kok, Fan. Malah aku yang mengganggu kamu."


"Jul, sebenarnya Karina itu adik sepupuku. Dia itu memang usil," kata Irfan akhirnya bisa mengatakan kebenaran.


"Hah! Sepupumu?"


"Iya, seminggu ini dia datang ke sini. Hanya ingin liburan saja, selama ini dia tinggal di luar negeri," jelas Irfan.


"Oh begitu, tapi kenapa kamu tidak mengatakan ini sebelumnya?"


"Karena aku ingin melihat kamu cemburu, Jul," ucap Irfan menatap mata Julia.


Julia menjadi salah tingkah, ia sendiri malu sudah cemburu seperti anak remaja saja.


"Julia, benarkah kamu merasa cemburu?"


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2