
Semalam suntuk Julia tidak dapat tidur nyenyak, walaupun badannya sangat lelah. Benaknya selalu memikirkan suaminya yang sejak semalam tidak bisa dihubunginya.
Dan pagi ini saat matahari mulai memancarkan sinarnya menembus tirai jendela kamar, Julia pun bangun dengan rasa lelah yang mendera tubuhnya.
Semangat seakan pudar dan menjauh dari dirinya. Dengan langkah enggan, Julia akhirnya memaksa dirinya mandi dan bersiap berangkat ke kantor.
Namun seketika Julia baru tersadar jika ia akan menanyakan perihal tempat kerja Karel pada atasannya. Julia mengenal baik atasan Karel karena mereka masih dalam satu lingkup departemen.
Julia segera berangkat ke kantor, memacu mobilnya agar segera sampai.
Berkali-kali Julia mengecek ponselnya, takut jika saat Karel menelpon tapi ia tidak tahu. Namun Julia harus menelan kekecewaannya saat Karel tidak juga menelpon ataupun mengirimkan pesan.
***
Istirahat siang ini Julia tetap duduk di ruangannya. Rekan kerjanya keluar untuk makan siang, namun Julia sama sekali tidak ingin makan. Padahal sedari pagi, ia hanya sempat makan sepotong roti saja.
Masih terngiang setiap kata yang dijelaskan atasan Karel padanya.
Tadi Julia sudah menemuinya dan ternyata apa yang dikatakan atasannya membuat ia tidak bisa berpikir lagi.
Ya ... Ternyata Karel tidak bertugas ke luar kota. Karel mengambil cuti satu bulan dan hanya atasannya saja yang mengetahui sebabnya. Saat ini pun atasannya tidak tahu dimana Karel berada.
Julia harus mengetahuinya sendiri dari mulut Karel.
Kemana Karel pergi? Sebenarnya apa yang terjadi? Karel, dimana kamu sekarang?
Berbagai hal memenuhi kepala Julia. Ia tidak bisa memikirkan hal lain.
Julia pulang kerja lebih awal dari biasanya. Bazar kantor masih berjalan, tapi semuanya lancar sehingga Julia memilih pulang.
Rumah besar dengan 2 lantai terasa sangat sepi sekarang. Julia sendirian di rumah ini tanpa Karel.
Julia duduk di sofa ruang tengah. Ia sangat bingung dengan apa yang terjadi dengan Karel.
Baru saja Julia menghubungi orang tua Karel dan kakak-kakaknya, namun semuanya tidak mengetahui keberadaan Karel.
Pagi harinya, Julia masih berbaring di ranjangnya. Ia malas untuk melakukan apapun juga karena ia libur kerja.
Namun hidup tetap harus berjalan, dengan malas Julia bangun. Hari ini ia akan bersih-bersih rumah, seperti kebiasaannya saat libur kerja.
Julia akan mencuci selimut dan spreinya. Namun saat ia mengangkat kasur, dahinya mengernyit. Ada sebuah amplop putih terselip disana.
Tertulis 'Untuk Julia, istriku', dengan ragu Julia membuka amplop itu.
Julia, istriku, maafkan aku jika saat kamu membuka surat ini, kamu sedang kebingungan mencariku.
__ADS_1
Aku tidak dapat mengatakan dimana aku saat ini. Jangan lapor ke kantor polisi ya, karena aku baik-baik saja.
Aku butuh waktu sendiri, jangan cari aku. Bila waktunya tiba, pasti aku akan pulang.
Love you, Karel
Air mata Julia seketika berhamburan jatuh ke pipinya. Ia tidak dapat berpikir lagi.
Julia hanya menangis dan menangis hari itu.
***
Dua Minggu telah berlalu sejak Julia mengetahui Karel pergi tanpa kata. Ia sudah mencari dengan bertanya pada siapa pun yang kenal suaminya, namun usahanya sia-sia.
Suatu malam, Julia duduk di teras rumahnya sendirian. Ini kebiasaan barunya sejak Karel pergi. Berharap saat Karel pulang, ia ada untuk menyambutnya.
Sebuah mobil putih berhenti di depan rumah. Jantung Julia berdetak kencang. Ia sangat berharap Karel pulang.
Namun dahi Julia mengernyit.
"Irfan?!"
"Hai Jul, bagaimana kabarmu?" tanya Irfan berjalan mendekat.
"Irfan, ada apa kesini?" tanya Julia langsung.
"Irfan, ada apa? Eh, ayo silahkan masuk dulu," ajak Julia karena melihat Irfan sedang kebingungan.
"Irfan, ada apa?" tanya Julia hati-hati.
"Jul, aku benar-benar minta maaf sebelumnya tapi sekarang harus kukatakan padamu," kata Irfan menatap mata Julia.
Julia diam menunggu, ia tidak ingin memaksa apa yang akan Irfan katakan.
"Jul, begini ... Sebenarnya selama ini Karel tinggal di rumahku," kata Irfan yang disambut dengan mata Julia yang melotot terkejut.
"Irfan, kamu jangan bercanda!"
"Jul, aku tahu saat ini banyak sekali pertanyaan yang ada di benakmu. Tapi tolong percayalah padaku. Sekarang ikutlah aku!" Irfan berkata dengan nada memerintah.
"Tapi .... "
"Jika kamu ingin melihat Karel, ikutlah aku sekarang." Irfan memohon pada Julia.
"Baiklah."
__ADS_1
Julia mengikuti Irfan masuk ke mobilnya. Dengan kecepatan tinggi, Irfan memacu mobilnya.
"Fan, apa yang terjadi dengan Karel? Bagaimana kamu kenal suamiku?" tanya Julia yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Maaf aku tidak bisa menjawabnya. Nanti setelah kamu bertemu Karel, aku akan jawab semuanya."
Julia hanya diam, menuruti perkataan Irfan.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil berhenti di sebuah rumah sakit.
"Fan, kita mau kemana? Bukankah kita akan pergi ke rumahmu?" tanya Julia bingung.
"Iya, kita mampir kesini dulu sebentar," jawab Irfan singkat.
Julia terus mengikuti Irfan hingga mereka naik ke lantai 5 rumah sakit ini. Irfan memandu Julia tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Julia menahan semua rasa penasarannya dalam hati. Hingga Irfan berhenti di depan kamar perawatan dan membuka pintunya.
Saat masuk ke ruangan, seketika Julia berhenti dan diam mematung.
Julia melihat Karel terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Berbagai selang ada di hidung dan dadanya.
Julia menghampiri Karel dan memeluknya. Air mata tak tertahan jatuh membanjiri pipinya.
"Sayang, kamu kenapa? Bangunlah, aku disini," suara Julia lirih bercampur dengan isakannya.
"Karel ... Sayangku, bangunlah! Aku ada disini." Berkali-kali Julia memanggil namun tidak ada respon sedikit pun dari Karel.
Lama Julia menangisi keadaan suaminya, hingga akhirnya ia pun dapat menguasai diri.
"Irfan, kenapa Karel tidur terus? Apa karena pengaruh obat? Apa yang terjadi padanya?" Julia memberondong pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
"Julia, sebelumnya aku hanya ingin minta maaf karena semua ini memang keinginan Karel."
"Aku dan Karel sahabat saat kuliah dulu. Suatu saat kami bertemu setelah ia menikah denganmu. Tak lama ia minta bertemu lagi denganku dan menceritakan jika ia divonis dokter menderita kanker otak karena benturan keras saat kecelakaan yang dulu dialaminya. Tapi ia tidak mau menceritakannya padamu karena tidak mau membebanimu. Ia hanya ingin meninggalkan kenangan indah saja untukmu," jelas Irfan.
"Tapi mengapa?" Tangisan Julia tak dapat ditahan lagi.
"Jul, berkali-kali aku sudah membujuk agar Karel mengatakan semuanya padamu, tapi ia tetap pada pendiriannya. Hingga 2 Minggu terakhir ini keadaannya sangat parah. Ia menolak operasi karena memang resikonya sangat tinggi dan ia tidak ingin membebanimu. Hingga semalam, Karel tak sadarkan diri. Aku membawanya kesini dan beginilah keadaan Karel sekarang. Kata dokter, ia koma," kata Irfan dengan kesedihan yang tidak dapat ditutup-tutupi.
Julia kembali memeluk Karel, ia terus memanggil lirih nama suaminya ...
-
-
__ADS_1
-