Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Jawaban Dari Hati


__ADS_3

"Karena aku ingin melihat kamu cemburu, Jul," ucap Irfan menatap mata Julia.


Julia menjadi salah tingkah, ia sendiri malu sudah cemburu seperti anak remaja saja.


"Julia, benarkah kamu merasa cemburu?"


Julia malu sendiri dan menundukkan kepalanya, tangannya mengaduk-aduk minuman yang ada di depannya.


"Jul?!" panggil Irfan sangat berharap.


"Ih Irfan! Kamu ini tanya apa sih? Memangnya kamu mau jawaban apa dari aku?" Julia pura-pura kesal untuk menutupi rasa malunya.


"Maaf, Jul. Tapi aku ingin melihatmu cemburu padaku karena aku sangat mencintai kamu, Jul," kata Irfan tulus.


Julia terkejut namun sekaligus merasa sangat bahagia. Ternyata Irfan mencintainya.


"Julia, apakah kamu juga cinta aku?" tanya Irfan ragu. Ia sangat takut jika Julia menolaknya karena mungkin ia terlalu cepat menyatakan isi hatinya.


"Ehm aku ... aku juga cinta kamu, Irfan," kata Julia sepenuh hati, ia sebenarnya malu mengakui isi hatinya.


"Hah! Benarkah?! Aku nggak percaya, Jul."


Wajah Irfan terlihat sangat bahagia, tak menyangka jika Julia juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


"Iya, Irfan. Aku enggak tahu sejak kapan, tapi mungkin saat kamu menjauhi aku beberapa bulan ini. Aku merasa kehilangan kamu dan ternyata selama ini aku memang cinta kamu. Maaf baru sekarang aku menyadarinya," ungkap Julia.


"Terima kasih, Jul. Sejak lama aku sudah mencintaimu, rasanya aku ingin teriak. Tapi aku juga minta maaf nggak bisa bersikap romantis, aku menyatakan cintaku malah di kafe seperti ini," kata Irfan sedikit menyesal.


"Aku nggak butuh romantis-romantisan, yang terpenting kamu tulus sama aku dan menerima aku apa adanya." Julia merasa bahagia saat ini.


"Julia, kita kan sudah tahu isi hati kita masing-masing dan juga kita sudah sejak lama saling mengenal, aku ingin segera menikah denganmu," kata Irfan serius.


"Ehm maaf, Fan, tapi aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku butuh waktu." Julia memang tidak ingin terburu-buru, mengingat jika ia menikah, ini adalah pernikahan ketiganya.


Julia memang tidak peduli apa kata orang karena mereka juga tidak tahu apa yang telah dia alami. Tapi ia hanya ingin benar-benar yakin bahwa Irfan adalah jodohnya yang terakhir.


"Maaf, Jul, aku mungkin mendesakmu. Lagi pula kita baru jadian. Kita nikmati waktu bersama untuk lebih saling mengenal dulu," kata Irfan akhirnya yang agak sedikit menyesal karena telah mendesak Julia.


Irfan memang sudah tidak sabar jika menunggu lebih lama lagi karena ia hanya ingin Julia menjadi miliknya saja.


"Tapi ada yang masih aku pikirkan," ucap Julia.

__ADS_1


"Apa, Jul? Katakan saja, kita harus saling berterus terang dan terbuka."


"Ehm bagaimana kita akan mengatakan pada Ben? Selama ini kamu tahu kan kalau Ben sangat berharap menjadi papa bagi Arka," kata Julia yang tiba-tiba teringat akan Ben.


"Aku juga bingung. Kalau kita terus terang, bisa jadi dia tidak terima, tapi kalau kita sembunyikan dari dia, maka kita sendiri yang akan tersiksa."


"Aku merasa tidak tega pada Ben, karena aku tahu banget rasanya jika cinta kita ditolak."


"Kalau menurutmu bagaimana, Jul?" tanya Irfan.


"Kalau menurutku sih baiknya sementara ini kita sembunyikan dulu dari Ben, pelan-pelan kita akan berterus terang padanya. Semoga saja dia bisa menerimanya," kata Julia.


"Baiklah jika pertimbanganmu seperti itu, aku ikut kamu saja baiknya bagaimana," kata Irfan tersenyum, ia pun sangat tahu bagaimana rasanya jika cinta kita bertepuk sebelah tangan.


"Julia, tapi aku mohon jika ada apa-apa, kamu harus cerita semuanya sama aku ya. Aku hanya ingin kita saling terbuka dan saling berbagi baik itu saat senang atau susah," ucap Irfan sambil meraih tangan Julia dan menciumnya.


"Iya, Fan. Aku harap kamu juga begitu."


***


Irfan sedang duduk santai di rumahnya, wajahnya terlihat selalu tersenyum senang. Ia benar-benar bahagia, rasanya tidak percaya jika Julia akhirnya bisa mencintainya. Kesabarannya telah berbuah manis. Ternyata saat ia menjauhi Julia, malah Julia jadi menyadari ternyata telah mencintainya. Padahal ia tidak berencana seperti itu.


"Kak Irfan! Dari tadi dipanggil malah melamun terus sih," teriak Karina sebal.


"Dari tadi senyum-senyum enggak jelas. Kak Irfan kenapa sih?" tanya Karina penasaran.


"Enggak apa-apa, gadis tengil! Mau tahu aja urusan orang tua," ucap Irfan tak peduli.


"Oh jadi begitu, sekarang udah jadian sama Julia terus melupakan aku?!"


"Hah kamu tahu aku udah jadian sama Julia? Tahu dari mana?" Irfan menatap Karina penasaran.


"Haha gimana enggak tahu?! Kak Irfan itu dari tadi pulang udah kelihatan bahagia banget, senyum-senyum terus. Biasanya kan bermuka masam," kata Karina.


"Heh kalau ini ngeledek namanya."


"Tapi bener kan, Kak Irfan udah jadian sama Julia?" tanya Karina.


"Haha iya, kamu benar adikku. Terima kasih ya, karena bantuanmu akhirnya Julia mengakui jika dia cinta aku juga." Irfan menyunggingkan senyum di wajahnya.


"Wah ... selamat ya Kakakku, aku ikut bahagia. Benar kan rencanaku berhasil." Karina benar-benar ikut bahagia, ia memang menyayangi Irfan.

__ADS_1


"Terima kasih, Karin."


"Loh cuma terima kasih doang?"


"Terus apa lagi?" Irfan hanya melirik Karina sebal, ia sudah tahu jika Karina akan minta hadiah yang aneh-aneh.


"Hadiahnya mana?"


"Memangnya kamu mau minta apa? Jangan yang mahal-mahal ya." Irfan hanya menggertak saja, padahal jika memang Karina akan minta apapun walaupun itu mahal, ia pasti akan menurutinya. Ia memang sayang pada Karina.


"Kali ini Kak Irfan pasti salah duga, aku nggak minta hadiah berbentuk barang."


"Lalu apa? Cepat katakan!" Irfan sudah tidak sabar.


"Ehm Kak Irfan, hadiahku ini sangat sederhana. Tolong kenalkan aku pada Ben, temannya Julia itu lho," ucap Karina memohon dengan mengedipkan matanya berkali-kali.


"Ya ampun! Aku nggak salah denger nih? Kamu mau kenalan sama Ben? Untuk apa, Karin?" Rasanya Irfan tak percaya.


"Iya, Kakak. Aku hanya minta dikenalin doang, selebihnya serahkan padaku," ucap Karina percaya diri.


"Tidak boleh!" Irfan memelototkan matanya pada Karin.


"Kenapa, Kak?" tanya Karina menuntut jawaban yang masuk akal baginya.


"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!"


"Ih Kakak nih tega banget sih. Ya sudah kalau Kak Irfan nggak mau kenalin aku sama Ben ya aku minta tolong Julia saja ah," kata Karina yang seketika membuat Irfan terkejut.


"Heh kenapa kamu mau kenalan sama Ben? Ben itu orang yang aneh. Kamu tahu, Ben itu duda. Dia mantan suami Julia." Irfan akhirnya memberitahu Karina karena ia tidak ingin Karina dekat dengan Ben.


"Oh begitu ternyata, tapi nggak masalah kan sudah mantan," ucap Karina santai.


"Karina! Kakak melarangnya. Awas ya kalau kamu sampai berkenalan dengan Ben!" ancam Irfan.


"Ih kenapa sih, Kak. Aku malah semakin penasaran, merasa tertantang kalau dilarang-larang seperti ini." Karina tidak peduli lalu berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Karina!" panggil Irfan lantang, tidak habis pikir mengapa Karina ingin mengenal Ben yang baginya enggak banget.


Irfan hanya berharap ini hanya keinginan sesaat Karina, lagipula sebentar lagi Karina juga sudah kembali ke asalnya. Irfan sedikit lega mengingat itu.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2