
"Aku sayang kamu Julia," kata Karel tulus.
"Terima kasih Karel," saut Julia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Rasanya aneh berbincang hanya berdua dengan Karel di Coffeshop ini. Walupun sudah menganggap sahabat, tapi bagaimanapun juga Karel adalah seorang lelaki.
"Jul, ingat apa kataku. Kapanpun kamu membutuhkan teman bicara, aku akan selalu ada untukmu," kata Karel.
Derrttt..... Suara getar ponsel Julia terdengar dari dalam tasnya. Julia melihat dan ternyata Ben lah yang menelponnya.
- "Halo Ben."
- "Halo Julia. Kamu sekarang dimana? Bukankah sudah waktunya pulang kantor? Aku ada di rumahmu sekarang."
- "Maaf Ben, aku sedang dalam perjalanan pulang. Ada apa?"
- "Oh ya sudah kamu hati-hati. Aku akan menunggu."
"Oke Ben. Tunggu sebentar ya."
Julia menutup ponselnya.
"Maaf Karel, aku pulang dulu ya. Ben menungguku di rumah," pamit Julia.
"Oke Jul. Hati-hati di jalan," kata Karel dengan wajah sedih.
Karel sudah lama tertarik dengan Julia, tapi dia tahu jika Julia hanya menganggapnya sebagai teman.
Sementara Julia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tadi terpaksa berbohong karena tidak ingin Ben salah sangka dirinya bertemu dengan Karel berdua saja di Coffeshop.
Sesampainya di rumah, Julia melihat Ben duduk di teras rumah sedang asyik memainkan ponselnya. Ben mendongakkan kepalanya melihat Julia yang sedang memarkir mobilnya.
"Ben, sudah lama menunggu?" sapa Julia saat sudah berdiri di teras.
"Tidak kok."
"Ada apa ke sini?" tanya Julia.
"Oh ini ada titipan dari Mama untukmu," kata Ben sambil menyerahkan sebuah kotak.
Julia menerima kotak itu dan membukanya. Ternyata isinya adalah sebuah kalung yang sangat cantik.
"Tadinya Mama sendiri yang ingin memberikannya padamu, tapi tidak ada waktu. Mama sibuk sekali menjelang pernikahan kita tiga hari lagi," jelas Ben.
"Kalung ini indah sekali Ben. Terima kasih ya, tolong sampaikan pada Mama Tyas," ucap Julia terharu.
"Mama bilang supaya kalung ini dipakai saat acara pernikahan kita besok," lanjut Ben.
Julia hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Julia, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat yang banyak menjelang hari pernikahan kita. Oke?!" pesan Ben.
"Iya Ben. Kamu juga," kata Julia tersenyum.
Ben masuk ke dalam mobilnya dan memacu mobilnya keluar rumah Julia.
Sementara Julia hanya memandangi kepergian Ben dengan hati terasa sesak. Ben tidak pernah memperlakukan dirinya dengan romantis. Padahal Julia sangat tahu jika Ben adalah orang yang romantis yang selalu memperlakukan pacar-pacarnya dengan istimewa.
Tapi dirinya???
Julia menghela nafas berat lalu masuk ke dalam rumahnya.
**
Hari ini akhirnya datang juga ...
Pernikahan impian Julia digelar di sebuah resort mewah disaksikan oleh keluarga dan sahabat.
Julia tampil cantik dengan gaun putih dan Ben terlihat tampan dengan tuxedo hitam.
Senyum bahagia terlihat di wajah Julia dan Ben setelah mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri.
Namun tak ada kata cinta yang sangat diharapkan Julia, keluar dari mulut Ben. Hanya bisikan sayang lah yang didapat Julia saat Ben mencium keningnya.
Papa Bayu, Mama Devi juga Papa Andi dan Mama Tyas, orang tua Julia dan Ben sangat senang dengan pernikahan ini karena masing-masing sudah saling mengenal dengan baik.
Julia dan Ben mendapat ucapan selamat berbahagia dari keluarga dan sahabat.
"Selamat Julia, Ben. Semoga kalian akan mendapatkan kebahagiaan," kata Karel menyalami Julia dan Ben. Namun ada pandangan sedih di mata Karel saat melihat Julia.
Keduanya saling bertatapan lama namun tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.
Pesta pernikahan Julia dan Ben berlangsung hingga sore hari. Setelahnya, Julia dan Ben menginap semalam di resort dan esoknya mereka langsung akan berangkat ke Bali untuk berbulan madu.
Saat pesta sudah selesai, orang tua Julia dan Ben serta keluarga semuanya sudah pulang kembali.
Sementara saat ini Julia dan Ben sudah berada di suit room yang mewah dan elegan.
Julia melepas gaun pengantinnya dan cepat-cepat mandi untuk membersihkan make up yang melekat di wajahnya.
Sementara Ben melepas tuxedonya dan tiduran di ranjang karena merasa lelah.
Julia berlama-lama berendam di bath up untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa tegang hari ini. Pikirannya pun melayang.
Rasa sedih kembali menggelayuti hatinya.
Julia tahu jika Ben belum mencintainya, tapi di saat hari pernikahannya Julia ingin Ben mengatakan cinta walaupun itu hanya di bibir saja. Tak terasa air mata menetes di pipi Julia.
Namun lamunannya buyar saat mendengat ketukan di pintu.
__ADS_1
"Julia, masih lamakah kamu mandi?" teriak Ben dari luar pintu kamar mandi.
"Tunggu sebentar, aku sudah hampir selesai," saut Julia.
Julia cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe.
"Jul, aku mandi sebentar ya. Setelah ini kita makan malam di kamar saja. Aku sudah pesan makanan untuk diantar," Ben berkata lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Julia hanya mengangguk lalu membuka tasnya untuk memilih dress yang akan dipakainya.
Tak selang lama, Ben sudah keluar dari kamar mandi.
"Makanan sudah diantar?" tanya Ben sambil mengeringkan rambutnya.
"Belum, mungkin sebentar lagi," kata Julia.
Tapi tak lama kemudian, pesana makanan pun datang. Malam itu Julia dan Ben bersantap di dalam kamar.
Selama makan, Ben dan Julia saling terdiam. Walaupun sudah sering makan bersama, tapi saat ini keduanya merasa aneh karena sekarang status mereka sudah berubah menjadi suami istri.
"Julia, kita sekarang sudah menjadi suami istri. Tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu karena aku tidak ingin kamu salah sangka," kata Ben serius.
"Apa itu Ben?" Julia memandang mata Ben bertanya-tanya.
"Julia, sebelumnya aku minta maaf jika apa yang akan kukatakan ini akan menyakiti hatimu. Tapi ini harus kukatakan untuk menghindari kesalahpahaman."
Julia mengangguk dan menunggu perkataan Ben selanjutnya.
"Julia, hubungan kita adalah sahabat yang terikat dalam pernikahan."
"Maksudnya?" tanya Julia tidak mengerti.
"Maksudnya, aku belum bisa melakukan hubungan suami istri denganmu karena aku masih menganggapmu sahabatku Jul. Maafkan aku," kata Ben memandangi mata Julia.
"Baiklah jika itu keinginanmu Ben. Aku bisa terima. Tidak masalah bagiku," saut Julia santai. Walaupun dalam hati merasa sedih, tapi Julia tetap menampilkan wajah biasa saja.
"Julia, bisa kamu rahasiakan ini dari siapapun? Bahkan orang tua kita?" tanya Ben lagi.
"Tentu saja Ben. Jangan kuatir," Julia menundukkan kepalanya menahan air mata yang hampir menetes.
Bagi Julia, memberikan tubuhnya adalah bentuk cintanya pada Ben, suaminya. Tapi sepertinya Ben belum bisa mencintainya jadi Julia akan menunggu hingga Ben mencintainya walupun entah kapan itu akan terjadi.
Malam itu Ben dan Julia tidur saling berpunggungan. Ranjang yang luas membuat mereka tidak saling bersentuhan. Julia tertidur pulas karena kelelahan menjalani hari ini. Begitu pula dengan Ben.
Esok harinya, Julia dan Ben bersiap terbang ke Bali untuk berbulan madu.
-
-
__ADS_1
-