Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Maafkan Aku


__ADS_3

Lama Julia dan Ben saling bertukar pandang. Mata Ben tak berkedip menatap Julia dengan penuh tanda tanya.


Julia yang terlebih dahulu memalingkan wajahnya ke sembarang arah berusaha menata hatinya yang bergejolak tidak menentu.


Tanpa mengatakan apapun, Julia berlari masuk ke dalam ruang pesta.


"Jul ... Julia!" panggil Nadine dengan suara lantang.


Julia mendengar panggilan Nadine tapi tidak mau menggubrisnya dan malah terus berlari mencari Theo. Julia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruang pesta. Dan akhirnya ia melihat sosok Theo yang tengah bercengkrama dengan beberapa cowok temannya.


Julia segera berjalan menghampiri Theo.


"Theo," panggil Julia saat sudah berada di samping Theo.


"Julia, aku mencarimu kemana-mana. Kamu ke mana sih tadi?" tanya Theo saat melihat Julia.


"Theo, aku ingin pulang sekarang," bisik Julia di telinga Theo karena saat itu beberapa pasang mata memandangi mereka.


Theo merasa ada yang tidak beres dengan Julia. Akhirnya Theo pamit kepada teman-temannya yang ada di situ.


Theo mengajak Julia ke pojok ruangan yang agak sepi.


"Jul, benar kamu ingin pulang sekarang? Kan pestanya baru saja dimulai. Ada masalah apa sih?" tanya Theo penuh selidik.


"Aku kurang enak badan, kepalaku agak pusing. Aku mau pulang saja dulu naik taksi kalau kamu masih ingin disini," kata Julia hati-hati. Takut Theo curiga ada sesuatu yang terjadi.


"Ya sudah aku ikut pulang bersamamu saja," saut Theo.


"Jangan! Aku bisa pulang sendiri Theo. Nggak masalah kok jika kamu masih ingin disini," Julia berusaha membujuk Theo karena merasa tidak enak tidak bisa menemani Theo selama pesta berlangsung.


"Kamu yakin bisa pulang sendiri?" tanya Theo.


"Yakin. Nanti jika aku sudah sampai rumah, pasti aku akan mengirim pesan padamu," kata Julia menenangkan.


"Oke lah kalau begitu," kata Theo akhirnya.


"Maaf Theo, aku nggak bisa menemanimu di pesta sampai selesai. Aku pulang dulu ya," pamit Julia.


"Iya nggak apa-apa kok. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah," pesan Theo.


Julia melambaikan tangannya lalu berlalu meninggalkan Theo dan ruang pesta. Setengah berlari, Julia keluar dari resto tempat pesta berlangsung. Dia tidak ingin bertemu siapapun lagi, terutama Ben dan Nadine.


Julia berjalan sendirian menyusuri trotoar yang mulai sepi dan berhenti di depan sebuah mini market. Julia pun mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online dari sana.


Tak berapa lama, taksi online pun datang dan Julia pulang kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Julia melihat Papa Mamanya sedang mengobrol di ruang tengah.


"Loh Jul, kok sudah pulang? Cepat sekali pesta ulang tahunnya?" tanya Mama yang keheranan melihat Julia sudah pulang.


"Iya Ma, memang pestanya belum selesai tapi aku pulang duluan," kata Julia berterus terang.


"Kenapa? Mana temanmu yang tadi menjemputmu?" tanya Mama lagi.

__ADS_1


"Aku hanya capek Ma, mungkin hari ini jadwal kuliahku padat."


"Mana temanmu tadi? Kamu pulang sendiri?" Mama masih memberondong Julia untuk menjawab rasa penasarannya.


"Tadi dia mengantarkan aku tapi langsung aku suruh pergi soalnya dia mau kembali ke pesta lagi. Maaf Ma, Theo tidak bertemu Mama," Julia terpaksa berbohong.


"Namanya Theo? Papa kira kamu pergi sama Ben?" tanya Papa.


"Iya Pa, Theo teman kuliahku. Sudah ya Pa Ma, Julia capek mau ke kamar dulu," pamit Julia dan berlalu pergi ke kamarnya sendiri.


Di dalam kamar akhirnya Julia bisa menumpahkan semua rasa sesak yang membelenggu dadanya. Dia ingin menangis sejadi-jadinya. Menyesali mengapa malam ini semua isi hatinya harus terungkapkan. Dan sialnya, Ben mengetahui dari mulut Julia sendiri.


Julia menangis hingga kelelahan, menyesali semua kebodohannya. Julia juga harus bersiap menahan malu jika besok bertemu Ben. Entah apa pendapat Ben, namun yang Julia tahu pasti bahwa hubungan persahabatannya dengan Ben tidak akan sama seperti dulu lagi.


Pagi harinya, terasa ada yang mengguncang-guncang tubuh Julia dan dengan terpaksa Julia membuka matanya.


"Mama, ada apa sih pagi-pagi membangunkan aku? Ini kan hari libur," kata Julia malas dan kembali memejamkan matanya.


"Julia bangun! Ayo cepat mandi dan ikut Mama," perintah Mama.


"Mau ke mana sih Ma? Julia di rumah saja, nggak usah ikut," Julia masih ingin tidur.


"Kemarin Mama lupa memberitahumu kalau hari ini kita mau menengok Bella, kakaknya Ben. Kan kamu yang sudah tahu rumahnya jadi kamu harus ikut. Cepat bangun! Kita berangkat pagi biar nanti pulangnya tidak kemalaman di jalan," perintah Mama yang mulai tidak sabar.


Dengan terpaksa akhirnya Julia bangun dan mandi. Setelah badannya segar, Julia menyiapkan barang pribadinya untuk dibawa selama bepergian.


"Julia, ayo sarapan dulu!" perintah Papa saat melihat Julia keluar dari kamarnya.


Selama sarapan, Julia masih memikirkan kejadian semalam namun dia sendiri bingung apa yang akan dikatakannya jika bertemu Ben.


Batin Julia dalam hati.


Setahu Julia, Papa Mama Ben sudah pulang kembali ke rumahnya jadi kecil kemungkinannya Ben ada di rumah Bella.


Selesai sarapan, Papa segera mengajak berangkat karena perjalanan ke rumah Bella cukup jauh. Julia masih ingat rute menuju rumah Bella jadi perjalanan ini terbilang lancar.


##


"Ya ampun Sovia, kamu tambah lucu dan menggemaskan sih," Julia mengelus-elus pipi Sovia, bayi Bella dengan penuh sayang.


"Kayaknya Sovia tambah gemuk ya Kak Bella, lihat saja pipinya jadi seperti bakpao," kata Julia sambil terus memandangi bayi mungil dihadapannya.


"Iya memang tambah gemuk dia. Coba saja kamu gendong, pasti bisa merasakan pertambahan berat badannya," Bella hanya tersenyum melihat Julia yang terlihat ingin menggendong anaknya.


Tanpa menunggu, Julia langsung menggendong Sovia dengan hati-hati dan sayang.


Papa Mama hanya tersenyum melihat Julia yang memang sangat menyukai anak kecil.


Bella sangat senang Om Bayu dan Tante Devi berkunjung menengok bayi perempuannya. Bella memang sangat akrab dengan keluarga Julia.


Saat itu di teras belakang rumah, semua sedang asyik mengobrol. Sedangkan Julia asyik sendiri menimang-nimang Sovia di pangkuannya.


"Julia, aku kira kamu datang bersama Ben soalnya tadi pagi Ben bilang kalau hari ini juga mau kesini," kata Bella sambil meminum tehnya.

__ADS_1


Deg! Hati Julia langsung berdesir mendengar perkataan Bella.


"Ini kan aku kesini mengantarkan Papa Mama. Nggak tahu kalau Ben juga mau kesini. Aku nggak mengirim pesan ke ponselnya," kata Julia santai. Julia berusaha tenang dan menahan debaran jantungnya.


Semoga nggak bertemu Ben disini. Berarti aku harus cepat-cepat pulang. Julia mulai menyusun rencana dalam hatinya.


"Ben mau kesini dengan Papa Mama?" tanya Mama kepada Bella.


"Sepertinya tidak Tante Devi, Ben bilang mau mengajak temannya untuk dikenalkan pada saya," kata Bella.


"Oh begitu," saut Mama.


Pasti Ben mengajak Nadine. Siapa lagi yang akan dikenalkan Ben pada Kakaknya jika bukan pacarnya?!


Julia menerka-nerka dalam hati dan tanpa direncanakannya, hati Julia terasa perih mengingat cintanya pada Ben yang tak terbalas.


"Mama, kita pulang sekarang saja yuk takut nanti kemalaman di jalan," ajak Julia sedikit memaksa.


"Loh jangan buru-buru dong. Kita makan siang disini dulu ya Tante Devi, Om Bayu, Julia," bujuk Bella agar Julia dan Papa Mamanya berada di sana menemaninya.


"Ehm baiklah, karena kamu sudah repot-repot menyiapkan. Terima kasih nak Bella," kata Papa.


Akhirnya Bella makan siang bersama Julia dan Papa Mamanya. Sementara Sovia tidur pulas di kamarnya.


Saat tengah makan siang, ada seseorang mengetuk pintu rumah Bella.


Bella pun membukakan pintu dan ternyata Ben dan Nadine lah yang datang. Ben mengenalkan Nadine sebagai pacarnya pada Bella.


Lalu Bella mengajak Ben dan Nadine untuk makan siang bersama keluarga Julia.


"Halo Ben, ayo kita makan bersama," sapa Papa saat melihat Ben datang.


"Iya Om Bayu. Halo Tante Devi. Halo Julia," sapa Ben sopan. Ben pun memperkenalkan Nadine pada semuanya.


Julia hanya menganggukkan kepalanya dan tidak berani melihat mata Ben karena Julia merasa malu. Untung saja saat itu banyak orang di sana jadi tidak mungkin ada kesempatan Ben untuk menanyakan perihal semalam.


Selesai makan siang, Bella mengajak semuanya ke taman belakang. Sementara Ben menarik tangan Julia dan memaksanya ke teras. Nadine yang melihat hanya terdiam dan malah pergi ke taman belakang untuk memberi kesempatan Julia dan Ben berbicara.


"Julia, apakah benar perkataanmu semalam?" tanya Ben hati-hati.


Julia hanya terdiam, pikirannya berputar berusaha mencari alasan untuk berkelit.


"Julia! Benar kamu cinta sama aku?!" kata Ben setengah memaksa.


"Benar. Apa salah?" kata Julia akhirnya.


"Sejak kapan?"


"Sejak kita masih SMP aku sudah mulai jatuh cinta padamu. Tapi sudahlah, aku tidak mengharapkan kamu juga cinta aku. Aku janji akan menghapus rasa cintaku ke kamu. Kamu jangan kuatir, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan siapa pun itu pacarmu," kata Julia santai. Sebisa mungkin menenangkan hatinya yang mulai terasa perih.


"Julia, maafkan aku," kata Ben meraih tangan Julia dan menggenggamnya.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2