Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Menanti Kabar


__ADS_3

Julia terdiam, tidak tahu akan mengatakan apa lagi pada Ben. Tidak tahu akan menghibur atau malah menertawakan Ben sekarang.


Bukankah seharusnya kini Julia senang karena Ben tidak sebahagia apa yang dilihatnya?


Tapi hatinya ikut sedih bersama Ben. Walaupun dulu Ben telah menggoreskan luka dihatinya, namun kini saat melihat Ben sedih, Julia pun ikut merasakan kesedihan.


"Ben, apakah kamu tidak menyelidikinya dulu? Siapa tahu itu semua hanya gosip saja, seperti dulu saat ada gosip lalu kamu dan Nadine putus," kata Julia hati-hati.


"Tidak mungkin hanya gosip. Nadine telah mengakuinya saat malam pengantin kami, setelah aku menanyakan kenapa dia sudah tidak suci lagi dan akhirnya dia pun mengakuinya," jelas Ben dengan kekecewaan yang tidak bisa ditutupinya.


"Tapi yang penting kan semua itu sudah menjadi masa lalu. Lanjutkan apa yang sudah menjadi pilihanmu Ben, raihlah kebahagiaanmu dengan Nadine yang kamu cintai."


"Rasanya aku belum bisa menerimanya. Jika Nadine berterus terang sebelum kami menikah, mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi ini?! Dia seperti sengaja membohongiku!" Ben terlihat marah kini.


"Mungkin Nadine punya alasan tersendiri mengapa dia mau menjadi istri kedua. Mungkin dia tidak punya pilihan lain," kata Julia menghibur.


"Mungkin Jul ... Tapi dia sudah berbohong padaku dengan sengaja, itu yang membuatku kecewa."


"Ben, sudahlah ... Nadine kini telah menjadi istri sah kamu. Bagaimanapun kamu harus menerimanya, siapa tahu sekarang Nadine sedang mengandung anakmu," ucap Julia menenangkan Ben.


"Aku tidak tau lagi bagaimana rasanya bahagia Jul. Berkali-kali aku menyesal, mengutuki semua kebodohanku. Ingin rasanya menebus semua kesalahanku padamu," kata Ben yang kini memandangi mata Julia.


Julia merasa iba, hatinya kembali rapuh melihat Ben yang kini tampak sangat sedih.


"Ben ... Sudahlah, aku sudah memaafkanmu sejak dulu," ucap Julia.


"Jika aku bisa memutar kembali waktu, ingin rasanya aku mulai dari awal. Aku sangat menyesali semua keputusanku Jul," kata Ben seperti meratapi dirinya sendiri.


"Ben ... Aku tidak tau mau bilang apa. Aku yakin jika kamu berusaha, maka kebahagiaan akan kamu dapatkan. Yakinkan dirimu, terimalah Nadine apa adanya," kata Julia mantap, berusaha meyakinkan Ben.


"Iya, aku akan berusaha. Tapi jika gagal ... Apakah kamu akan menerimaku Jul?" tanya Ben penuh harap.


"Apa maksudmu? Jangan berkata yang tidak-tidak Ben!" Julia sedikit terkejut dengan apa yang Ben katakan.


"Mungkin hanya kamu satu-satunya wanita yang menyayangiku di dunia ini Jul ... Menerima semua kekuranganku dan yang sangat mengerti diriku."


"Aku sayang padamu sebagai sahabat Ben. Sudahlah ... Lebih baik kamu pulang sekarang dan temuilah istrimu! Mungkin dia menunggu kamu pulang," kata Julia yang mulai tidak merasa nyaman akan perkataan Ben yang mulai melantur.


"Tapi Jul ... "


"Sudah, sana pulang! Jangan sia-siakan apa yang menjadi milikmu saat ini, jika terlepas ... menyesal pun sudah tiada guna," lanjut Julia.


"Baiklah Jul, aku pulang. Tapi apakah aku masih boleh menemuimu lagi? Aku kangen masa saat kita masih sekolah dulu Jul."


"Haha kangen saat kamu masih jadi playboy?"


ledek Julia.


"Iya ya, dulu memang aku dikenal begitu padahal kamu tau kalau aku tidak seperti yang orang lain pikirkan."

__ADS_1


Ben pun berjalan keluar rumah Julia menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.


"Bye Jul, aku pulang dulu," kata Ben melambaikan tangannya lalu mengemudikan mobilnya menjauhi rumah Julia.


Julia masih berdiri mematung memandang kepergian Ben. Tak menyangka jika ternyata Ben tidak sebahagia apa yang dikiranya.


Dengan langkah gontai, Julia masuk ke dalam rumah. Niatnya untuk pergi ke rumah Mama diurungkannya.


Julia mengambil ponsel dan memeriksa pesan-pesan yang masuk, berharap Karel mengirimkan pesan. Namun tidak ada satu pun pesan dari Karel.


Saat ini Julia sudah merasa rindu dengan Karel, walaupun belum ada sehari ia berpisah dengan kekasihnya. Akhirnya Julia mencoba menelpon Karel.


Tut ... Tut ... Tut


Beberapa kali Julia mencoba namun Karel tidak menerima panggilan telponnya.


Mungkin Karel tidak mendengar atau sedang sibuk.


Akhirnya Julia hanya mengirim pesan singkat.


- Karel, jangan lupa kabari kalau sudah sampai. Tapi aku lebih senang jika kamu menelponku. Miss you. (Julia)


Hari telah menjelang malam, Julia menyalakan lampu-lampu di rumahnya.


Hatinya gundah karena Karel belum juga memberi kabar ataupun membalas telponnya.


Berusaha untuk berpikir positif, Julia pun melangkahkan kakinya keluar rumah. Ia ingin mencari udara segar, pengap rasanya seharian berada di rumah. Ia pun juga ingin menenangkan pikirannya.


Julia berjalan santai sendirian. Banyak hal yang dipikirkannya.


Hidup terasa berjalan terlalu cepat baginya, roda kehidupan seperti rollercoaster yang membuatnya harus terus menyesuaikan diri.


Saat ini ia teringat Ben, sahabat sekaligus mantan suaminya. Hatinya ternyata ikut sedih memikirkan Ben yang saat ini sedang ada masalah. Namun ia tidak bisa dan tidak mau untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga Ben.


Julia hanya bisa mendoakan agar Ben bisa menerima Nadine dan mereka hidup bahagia.


Saat sampai di ujung jalan, banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Julia pun merasa sangat lapar ketika bau semerbak makanan menggoda indera penciumannya.


Julia pun akhirnya makan di warung kaki lima, menikmati makanan yang sudah lama tidak dirasakannya.


Jam telah menunjukkan pukul 9 malam saat ia sampai di rumah. Julia kembali memeriksa ponselnya berharap ada pesan dari Karel.


Namun harapannya sirna, tak ada satu pun pesan dari Karel.


Saat akan menghubungi Karel, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Pak Hendra, Kepala Kantor tempat Julia bekerja.


Pak Hendra malam begini telpon?


Julia merasa aneh karena atasannya itu tidak pernah menghubunginya di luar jam kantor.

__ADS_1


- "Halo Pak Hendra."


- "Halo Julia, maaf menelponmu malam begini."


- "Tidak apa-apa Pak. Ada apa ya Pak?"


- "Jul, apakah kamu sudah mendengar berita kalau ... "


Terjadi jeda lama yang membuat Julia penasaran.


- "Ada apa Pak Hendra?"


- "Ehm ... Tadi sore bus rombongan seminar termasuk Karel didalamnya mengalami kecelakaan. Saya mengabarimu karena saya tau hubunganmu dengan Karel."


Deg ... Jantung Julia serasa terhenti. Tangannya menjadi gemetar memegang ponsel.


- "Lalu bagaimana keadaan Karel sekarang Pak?"


- "Saat ini korban sedang dievakuasi ke rumah sakit terdekat. Tapi saya belum tau bagaimana nasib Karel, saya tidak bisa menghubunginya."


Air mata menetes di pipi Julia, hatinya seperti diremas. Takut memikirkan bagaimana nasib Karel.


- "Pak Hendra, bolehkah saya mengambil cuti beberapa hari? Saya akan pergi melihat Karel."


- "Tentu Jul. Saya terus berdoa agar Karel baik-baik saja."


- "Terima kasih sudah mengabari dan memberi saya cuti Pak Hendra."


"Sama-sama. Salam untuk Karel."


Telpon pun terputus.


Julia duduk termenung lemas, air mata terus mengalir di pipinya. Sedih memikirkan bagaimana nasib Karel. Menghubunginya pun tidak bisa.


Setelah beberapa saat bisa menguasai diri, Julia menghubungi Mama Karel yang ternyata sudah tahu jika bus yang ditumpangi Karel mengalami kecelakaan.


Namun saat ini Mama Karel sedang ada di luar pulau sehingga membutuhkan waktu paling tidak dua hari untuk bisa sampai di kota tempat Karel.


Julia memberitahu Mama Karel jika besok pagi dia akan pergi ke tempat Karel dirawat di rumah sakit.


Pikiran dan hati Julia kacau, namun ia dengan sigap memesan tiket pesawat untuk pergi ke kota tempat Karel berada.


-


-


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2