Terlanjur Menikah

Terlanjur Menikah
Dia Milikku


__ADS_3

Malam ini Julia hanya membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Ia tidak bisa tidur. Pertengkaran pertamanya dengan Irfan masih membuatnya emosi.


Hingga detik ini pun sekitar jam 11 malam, Irfan sama sekali tidak meneleponnya atau mengirim pesan. Jika Irfan menelpon pun, Julia belum tentu mau menerimanya. Ia masih sebal dengan Irfan yang tidak mau mengerti akan dirinya.


***


Irfan duduk termenung di balkon rumahnya. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran Julia, namun juga saat ini ia malah bertanya-tanya dalam hati. Jika memang Julia benar mencintainya, mengapa ia masih ingin dekat dengan Ben dan tidak mau mengatakan hubungan kasih dengan dirinya?


Irfan mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Memang ia bukan seorang perokok, tapi jika ada yang sedang membebani hatinya, biasanya ia akan menghabiskan sebatang dua batang rokok untuk meluapkan emosinya.


Irfan memejamkan matanya, mungkin ia harus kembali menguji cinta Julia. Kini dengan kejadian ini, ia tidak percaya sepenuhnya pada Julia.


Malam semakin pekat, Irfan masih berdiam diri memandangi langit malam yang berhiaskan taburan bintang-bintang yang berkelap-kelip.


***


Ben duduk di ruang kerjanya, malam ini ia masih memeriksa berkas-berkas kerjasama. Ia hanya ingin memastikan kerjasama yang rekannya ajukan sudah memenuhi syarat.


Ben memang sedang membangun bisnis baru di bidang properti. Ia lelah bekerja dengan orang lain dan ingin memiliki usaha sendiri.


Namun konsentrasinya buyar saat ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Ben cepat-cepat membukanya, mungkin sesuatu yang penting. Karena tidak biasanya ada pesan masuk di jam yang hampir tengah malam.


Dahi Ben berkerut saat melihat foto yang terkirim di ponselnya. Foto yang memperlihatkan kebersamaan Nadine dan Theo di sebuah rooftop, mungkin di apartemen. Ben melihat jika Nadine sendiri lah yang mengirim pesan padanya.


Ben tidak habis pikir kenapa Theo masih mau bertemu Nadine dan apa yang akan mereka rencanakan?


Selama ini yang ia tahu, Theo tinggal di luar negeri dengan istrinya. Dan juga ia mendapat kabar jika Theo telah memiliki seorang putri, mengapa sekarang ia kembali ke sini dan malah bertemu Nadine?


Ben menghela nafas panjang, ia takut jika Nadine dan Theo merencanakan sesuatu yang tidak baik bagi Julia atau dirinya. Sekarang ia harus lebih berhati-hati dan menjaga Julia dengan baik.


***


Esok sorenya saat Julia pulang kerja, ia dikejutkan dengan Nadine yang menunggunya di depan kantor.


"Nadine?"


"Jul, maaf tidak memberitahumu dulu. Tapi rasanya aku ingin jalan-jalan denganmu," kata Nadine.


"Memangnya mau jalan-jalan ke mana, Nad?" tanya Julia. Memang sudah lama ia tidak jalan-jalan karena kesibukannya.

__ADS_1


"Ke mana lagi kalau bukan ke mall. Temani aku ya, Jul," pinta Nadine.


"Baiklah, tapi mall yang dekat aja ya."


Julia dan Nadine pergi ke mall terdekat dengan mengendarai mobil masing-masing. Saat sudah sampai, Nadine mengajak Julia langsung ke sebuah butik ternama yang ada di dalam mall.


"Jul, tolong dong pilihkan sebuah gaun yang cantik untukku," ucap Nadine saat sudah berada di dalam butik.


"Memang acaranya apa? Biar nggak salah kostum aja," tanya Julia tersenyum.


"Nggak ada acara apa-apa sih. Cuma besok malam aku mau makan malam sama ehm ... cowok yang sedang dekat sama aku akhir-akhir ini," kata Nadine malu-malu.


"Nadine ... kamu udah punya pacar?" tanya Julia tidak percaya, karena yang ia tahu selama ini Nadine belum bisa move on dari Ben.


"Haha ... belum kok, Jul. Kami hanya dekat, belum berani sampai tahap itu."


"Tapi aku ikut senang jika kamu mendapat kebahagiaanmu sendiri, Nad," ucap Julia tulus. Ia kembali memilih-milih gaun yang tersedia di sana.


"Eh gimana kalau gaun yang ini, Jul?" tanya Nadine sambil memantas-mantas gaunnya di depan cermin besar yang tersedia di butik.


"Bagus kok, Nad. Warna biru langitnya cocok banget di kulitmu," kata Julia tersenyum.


"Kayaknya aku belum butuh. Lagipula juga mau pergi ke mana aku haha."


"Jangan merendah, Jul. Tuh ada Ben dan Irfan yang selalu siap berada di sisimu. Memang siapa yang akan kamu pilih, Jul?" tanya Nadine penasaran.


"Haha entahlah, Nad. Aku belum memikirkannya." Julia terpaksa berbohong, karena ia memang belum siap mengatakan jika saat ini Irfan lah yang ia pilih.


Namun saat ini hubungannya dengan Irfan juga tidak baik. Sejak semalam Julia belum berkomunikasi lagi dengan Irfan.


Julia menunggu Nadine membayar gaun yang ia beli. Setelah keluar dari butik, Julia mengajak Nadine untuk minum dan makan di resto yang ada di sana.


Setelah memilih menu yang tersedia, Julia memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya. Tapi ia kembali harus menelan kekecewaan saat tidak ada satu pesan pun dari Irfan.


"Jul, kenapa kamu kelihatannya sedang ada masalah?" tanya Nadine curiga karena sejak tadi Julia seperti tidak konsentrasi mengobrol dengannya.


"Nggak ada, Nad. Aku hanya sedang memikirkan Arka. Kasihan jika aku tinggal lama-lama, jadi setelah ini aku pulang ya," kata Julia mencari alasan.


"Iya kasihan Arka, pasti kangen sama mamanya," ucap Nadine tersenyum.

__ADS_1


Selesai makan, Julia langsung pamit pulang pada Nadine. Sementara Nadine terus memandangi mobil Julia yang semakin jauh dari pandangannya. Nadine tidak bisa menahan senyum puasnya. Selangkah demi selangkah ia pasti berhasil menjalankan rencananya. Ia harus bersabar. Karna tak lama lagi, ia akan segera bertindak.


Hari sudah menjelang petang saat Julia sampai di rumah. Julia melihat mobil Ben terparkir di halaman rumah. Ia sudah tidak terkejut lagi karena Ben memang sering sekali datang ke rumahnya. Ben memang sangat menyayangi Arka.


"Arka!" panggil Julia saat masuk ke dalam rumahnya.


"Arka sedang minum susu, Jul. Kamu lebih baik mandi dulu dan makan. Pasti kamu capek," kata Ben yang sedang duduk santai di ruang tengah, seperti di rumahnya sendiri.


"Oh ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu."


Julia cepat-cepat mandi, ia sudah tidak sabar ingin bermain dengan Arka. Seharian tidak bertemu membuat rasa kangennya menumpuk.


Selesai mandi, Julia melihat Arka sedang bermain dengan Ben. Keduanya asyik bermain mobil-mobilan. Ben memang sangat telaten dan sabar menghadapi anak kecil, apalagi seaktif Arka.


Julia ikut bermain dengan Arka hingga waktunya Arka tidur. Arka dibawa ke pengasuhnya ke dalam kamar untuk ditidurkan. Julia pun membereskan mainan yang berserakan dibantu oleh Ben.


"Julia, saat-saat seperti ini selalu membuatku kangen jika aku tidak datang ke sini." Tangan Ben masih sibuk membereskan mainan.


"Saat-saat membereskan mainan? Kalau kamu suka, kamu sendiri aja ya yang membereskan," tanya Julia geli.


"Eh bukan begitu maksudku. Aku selalu membayangkan beginilah seharusnya kita. Kamu adalah istriku dan Arka adalah anakku. Aku hanya ingin seperti itu, Jul." Ben berkata menatap sendu mata Julia.


"Ben, sudahlah. Jika kamu memang menyayangi Arka, anggap saja dia adalah anakmu," ucap Julia. Terkadang ia memang tidak tega jika menyakiti hati orang lain.


"Terima kasih. Julia, aku sudah mengatakan ini berkali-kali, tapi aku ingin lagi mengatakannya padamu. Jul, maukah kamu menjadi kekasihku? Aku sangat mencintaimu dan Arka," ucap Ben sepenuh hati.


Julia memandangi mata Ben. Untuk sesaat Julia merasa iba, rasa sayangnya pada Ben memang hanyalah sebagai sahabat, tapi ia tidak mau menyakiti hati Ben saat ini. Entah kenapa, Julia melihat jika Ben telah banyak berubah.


"Ben, jangan kamu teruskan. Julia adalah kekasihku, dia milikku!" teriak Irfan tertahan, mengejutkan Julia dan Ben.


Irfan memang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana. Ia tadi datang dan melihat pintu rumah terbuka. Saat masuk, ia mendengar Julia dan Ben sedang bercakap-cakap, jadi ia memutuskan untuk mendengarkannya terlebih dahulu.


"Ben, aku bilang sekali lagi. Julia adalah kekasihku."


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2